Indonesia saat ini sudah masuk ke fase di mana internet bukan lagi sesuatu yang baru. Hampir 80% populasi sudah menggunakan internet. Artinya, pertumbuhan ke depan bukan lagi soal menambah pengguna baru, tapi soal bagaimana pengguna yg sudah ada ini menggunakan internet dgn lebih intens.

Perubahan ini penting. Dulu orang cukup dgn internet yang bisa dipakai untuk browsing. Sekarang tidak lagi. Orang butuh internet untuk streaming, bekerja, menyimpan data di cloud, bahkan menjalankan bisnis.

Kebutuhan data per orang meningkat drastis. Di titik ini, yg menjadi penting bukan lagi sekadar akses internet, tapi kapasitas jaringan.

Kalau kebutuhan kapasitas meningkat, maka yg diuntungkan bukan hanya perusahaan yg menjual internet ke pengguna akhir. Yg justru menjadi penting adalah perusahaan yang membangun jaringan di belakangnya.

Seperti fiber optic, backbone, kabel laut, dan data center. INET mencoba masuk ke area ini.

Itulah kenapa INET tidak bisa dilihat sebagai ISP biasa. Mereka tidak hanya menjual layanan internet, tetapi mulai membangun infrastruktur yg mendukung konektivitas. Ini terlihat dari langkah-langkah yg mereka ambil sepanjang 2025.

Salah satu langkah paling penting adalah rights issue sebesar Rp3,2 triliun. Ini bukan angka kecil. Dan yg lebih penting lagi, rights issue tersebut terserap dengan sangat tinggi, bahkan oversubscribed.

Artinya, investor lama masih percaya dan bersedia menambah dana ke perusahaan.

Tapi yang lebih penting dari rights issue bukan hanya soal dananya, melainkan bagaimana dana itu digunakan. Dalam kasus INET, dana tersebut diarahkan untuk ekspansi jaringan, pembangunan fiber, dan penguatan infrastruktur.

Ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang berada di fase ekspansi, bukan bertahan.

Selain itu, INET juga mulai melakukan beberapa akuisisi. Mereka mengambil alih PADA, masuk ke THC, dan membentuk SIDI untuk bisnis data center. Kalau dilihat sekilas, ini terlihat seperti langkah yg terpisah-pisah. Tapi kalau disusun, ini sebenarnya membentuk satu arah yang jelas.

Mereka ingin menguasai beberapa bagian dari ekosistem konektivitas, dari jaringan sampai ke penyimpanan data.

Mereka masuk ke :

  • PADA → operasional jaringan
  • THC → konektivitas backbone
  • SIDI → data center

Ini bukan acak. Ini strategi. Mereka lagi bangun ekosistem dari hulu ke hilir.

Salah satu proyek yang paling penting adalah kabel laut Jakarta–Batam–Singapore. Ini bukan proyek biasa, karena jalur ini adalah salah satu jalur utama untuk konektivitas internasional. Hampir semua trafik data yang terhubung ke luar negeri melewati jalur seperti ini.

INET tidak mengerjakan ini sendiri, tetapi melalui anak usahanya, Pusat Fiber Indonesia. Model bisnisnya juga berbeda dari ISP retail. Mereka tidak menjual ke pengguna akhir, tetapi menyediakan kapasitas jaringan untuk perusahaan lain. Artinya, pendapatannya berpotensi lebih stabil karena berbasis penyewaan kapasitas.

Kalau semua ini berjalan sesuai rencana, maka tahun 2026 akan menjadi titik penting. Karena di tahun ini, proyek-proyek yang dibangun mulai menghasilkan. Pendapatan tidak lagi hanya dari bisnis lama, tetapi mulai ditopang oleh ekspansi yang dilakukan sebelumnya.

Manajemen sendiri cukup optimis. Mereka menyebutkan bahwa pendapatan bisa tumbuh signifikan dibanding tahun sebelumnya, terutama karena monetisasi jaringan dan proyek kabel laut yang mulai berjalan.

Kalau melihat laporan keuangan, memang ada perbaikan. Laba mulai naik, arus kas mulai membaik, dan pertumbuhan terlihat. Tapi secara ukuran, perusahaan ini masih belum besar. Stabilitasnya juga belum terbentuk sepenuhnya. Artinya, INET masih berada di fase awal pertumbuhan.

Di sisi lain, valuasi sahamnya sudah cukup tinggi. Ini penting untuk dipahami. Market saat ini tidak menilai INET dari kondisi sekarang, tetapi dari harapan ke depan. Ini membuat sahamnya sensitif. Kalau ada perkembangan positif, harganya bisa naik. Tapi kalau ada sedikit kekecewaan, penurunannya juga bisa cepat.

Kemudian kita lihat data terbaru. Jumlah investor retail di bulan Maret mulai berkurang. Ini menunjukkan ada sebagian investor yang keluar, kemungkinan karena tidak sabar atau tidak kuat dengan pergerakan harga.

Kalau semua ini dirangkum, INET adalah perusahaan yang berada di industri yang sedang berkembang, memiliki rencana ekspansi yang jelas, dan sudah mulai melakukan langkah nyata. Namun, di saat yang sama, perusahaan ini juga belum sepenuhnya terbukti dari sisi hasil.

Ini adalah saham yang bergantung pada kemampuan perusahaan untuk menjalankan rencananya.

Pada akhirnya, keputusan kembali ke masing-masing. Bukan soal apakah INET bagus atau tidak, tetapi apakah kalian percaya perusahaan ini bisa menjalankan ekspansi dan mengubahnya menjadi pertumbuhan nyata.