
PADA bukan saham outsourcing biasa lagi. Sejak diambil alih INET, PADA mulai berubah fungsi dari sekadar penyedia tenaga kerja menjadi mesin operasional untuk proyek-proyek digital yg lebih besar.

Lalu ketika PADA masuk ke proyek WIFI seperti Starlite dan Internet Rakyat (IRA), posisinya makin jelas : dia dipakai untuk mengeksekusi rollout di lapangan, bukan cm jadi vendor tambahan.

Itu sebabnya korelasi INET–WIFI–PADA sekarang jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan antar emiten.

Kalau mau disederhanakan :
- WIFI menjual cerita pertumbuhan jaringan & pelanggan
- INET menyiapkan tulang punggung konektivitas & bandwidth
- PADA mengeksekusi pekerjaan lapangannya

Benang merah inilah yg menurut saya paling layak dijual ke market. Bukan cerita outsourcing, tapi cerita execution engine untuk ekspansi digital nasional.

PADA itu sebenarnya bisnis apa? PADA berdiri sejak 2006 dan bergerak di jasa alih daya / business support services. Layanan intinya mencakup technical services, office services, security services, call center & sales services, FTTH & FWA services, courier services, training services, & human resources services.


Di profil resminya, Persada juga menyebut didukung fasilitas sendiri, training center internal, sistem IT operasional, sertifikasi ISO/SMK3, serta basis klien yang besar.

Jadi PADA memang bukan pionir industri outsourcing Indonesia, tetapi dia juga bukan pemain baru. Posisi PADA lebih tepat dibaca sebagai pemain yg sudah matang di sisi operasional, terutama yg nyambung ke telekomunikasi & pekerjaan lapangan.

Ini poin penting. Karena di proyek jaringan, yg dibutuhkan itu bukan cuma kabel, spektrum, & modal. Yg dibutuhkan jg adalah :
- teknisi instalasi
- maintenance lapangan
- audit dan dokumentasi
- call center
- koordinasi PMO
- tim distribusi dan aktivasi

Nah, semua itu memang masuk ke area kompetensi PADA. Jadi dari awal sebenarnya PADA sudah punya bahasa bisnis yg sama dgn proyek FTTH/FWA.
Kenapa INET membeli PADA? Jawabannya : INET membeli kapasitas eksekusi. Akuisisi 53,57% PADA oleh INET dijelaskan sbg langkah untuk mengintegrasikan layanan digital & teknologi INET dgn kemampuan outsourcing & SDM skala besar milik PADA, termasuk telecommunications maintenance, call center, security, dan logistics.

Tujuannya bukan hanya memperluas usaha, tapi mendukung ekspansi FTTH, meningkatkan efisiensi operasional, diversifikasi pendapatan, & memperkuat kinerja jangka panjang.
INET sadar bahwa pertumbuhan internet fixed broadband tidak cukup ditopang oleh backbone & bandwidth saja. Semakin luas jaringannya, semakin besar kebutuhan operasionalnya. Membangun tim seperti itu dari nol makan waktu, biaya, dan risiko eksekusi.

Dgn membeli PADA, INET membeli organisasi lapangan yg sudah jadi. Itu jauh lebih efisien daripada membangun unit manpower sendiri dari awal. Ini juga sejalan dengan penjelasan saat rencana akuisisi diumumkan : PADA akan membantu pengembangan FTTH INET di wilayah seperti Bali, Lombok, & Kalimantan Barat.

Kenapa lalu nyambung ke WIFI? Setelah INET jadi pengendali PADA, fungsi PADA makin naik kelas karena masuk ke proyek WIFI. Pada Maret 2026, PADA mengumumkan kerja sama strategis untuk mendukung agenda akselerasi WIFI melalui dua anak usahanya, IJE dan TKP.


Perannya jelas : mendukung pengembangan FTTH Starlite dan Internet Rakyat (IRA) berbasis 5G FWA, termasuk rekrutmen 2.000 tenaga tambahan.

Kalau proyeknya makin luas, kebutuhan bandwidth naik. Kalau kebutuhan bandwidth naik, proyek lapangannya juga ikut melebar. Di situlah PADA tetap relevan. Jadi korelasi ketiganya sekarang bukan lagi teori.
- WIFI dorong demand dan growth story
- INET pasok jalur dan bandwidth
- PADA kerjakan rollout dan operasional

Itu sebabnya market melihat PADA bukan cuma sebagai emiten jasa tenaga kerja, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital execution.

Story apa yg bisa dijual ke market? Menurut saya, story paling kuat buat PADA ke depan ada tiga.