Harga emas kembali menembus rekor baru pada perdagangan Rabu (3/9/2025), terdorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan ini, sementara ketidakpastian global menjaga tingginya permintaan terhadap aset lindung nilai.
Melansir Reuters, Kamis (4/9/2025), harga emas di pasar spot ditutup menguat 0,72% ke level US$3.559,42 per troy ounce, setelah sempat menyentuh rekor intraday US$3.578,50.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Comex di AS ditutup menguat 1,21% ke level US$3.635,50 per troy ounce.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan lowongan kerja pada Juli anjlok lebih tajam dari proyeksi, dengan laju perekrutan relatif moderat—cerminan melemahnya pasar tenaga kerja.
Analis City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada mengatakan emas sudah berada di level rekor tertinggi sebelum rilis data, dan data yang lebih lemah tersebut menjadi pendorong tambahan.
”Target harga berikutnya berada di kisaran US$3.600 per troy ounce,” kata Razaqzada.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan 16–17 September naik menjadi 98%, dari sebelumnya 92%. Investor kini mengalihkan perhatian ke data klaim pengangguran dan laporan ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis Kamis, serta laporan penting nonfarm payrolls pada Jumat.
Gubernur The Fed Christopher Waller pada Rabu kembali menegaskan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga bulan ini. Sementara itu, Gubernur Lisa Cook memperinci penolakannya atas upaya Presiden Donald Trump yang berusaha mencopot dirinya. Trump juga berulang kali mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell karena tak kunjung memangkas suku bunga sepanjang tahun ini.
Kekhawatiran mengenai independensi bank sentral AS semakin mengikis kepercayaan terhadap aset berbasis dolar, mendorong investor beralih ke emas, menurut trader di Heraeus Metals.
Di sisi lain, Trump berencana meminta Mahkamah Agung untuk mengesahkan legalitas tarif impornya setelah kalah di dua pengadilan lebih rendah.
Sementara itu, ekonomi zona euro hanya mencatat pertumbuhan tipis pada Agustus. Dalam kondisi suku bunga rendah dan ketidakpastian global, emas cenderung semakin diminati.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus analis senior Zaner Metals, menilai reli emas masih berpotensi berlanjut dengan target jangka pendek-menengah di kisaran US$3.600–US$3.800. Pola teknikal bahkan menunjukkan harga emas bisa menembus US$4.000 pada akhir kuartal I/2026.
Kenaikan emas juga mengangkat logam mulia lainnya. Perak melonjak 1,1% ke US$41,34 per troy ounce, tertinggi sejak September 2011. Platinum menguat 2,2% ke US$1.434,17, sementara paladium naik 1,8% ke US$1.155,05.
Sumber: market.bisnis.com