MOLI, SRSN, dan Cerita
Besar dari E5 ke E10 - E20 - E50
INTI TESIS Permintaan etanol bisa naik berkali lipat jika
kebijakan pencampuran benar-benar dieksekusi. Tetapi emiten yang diuntungkan
bukan otomatis yang punya nama "etanol". Yang penting kesiapan
fuel-grade, bahan baku, offtake, capex, logistik, dan kemampuan mempertahankan
margin.
Update riset: 22 September
2026
Keluarga XO by
KelasInvestasi.ID
1. Kenapa Cerita Etanol Mulai Layak Dipantau?
Menurut saya, cerita etanol Indonesia sekarang lebih menarik
dibanding beberapa tahun lalu karena tiga hal mulai bertemu: kebijakan
pemerintah makin agresif, kebutuhan pengurangan impor bensin makin besar, dan
emiten lokal sudah punya aset produksi yang berjalan. Titik pentingnya
ada pada siapa yang bisa mengubah kebijakan menjadi kontrak penjualan, volume
tambahan, dan margin yang tetap sehat.
a)
E5 bukan cerita baru. Pertamax Green 95 dengan campuran 5%
bioetanol sudah dikomersialisasi terbatas sejak 2023.
b)
Roadmap dan pernyataan pemerintah bergerak cepat. E5 untuk
bensin non-PSO di Jawa pada 2026-2027 dan E10 mulai 2028. Namun pernyataan
Menteri ESDM pada Juli-September 2026 mengarah lebih agresif: E10 pada 2027,
E20 pada 2028, lalu bertahap menuju E50.
c)
E50 masih arah kebijakan, belum mandatori final. Pemerintah
baru menyusun roadmap setelah arahan Presiden pada 17 September 2026.\
d)
MOLI dan SRSN sama-sama sudah beroperasi dekat kapasitas
penuh pada 2025. Artinya, demand besar tidak bisa langsung diserap tanpa
ekspansi, perubahan product mix, atau tambahan kapasitas fuel-grade.
e)
H1 2026 justru menunjukkan hal yang lebih menarik:
pertumbuhan laba kedua emiten jauh lebih cepat dari pertumbuhan revenue. Ini
berarti margin, efisiensi, product mix, biaya bahan baku, dan beban keuangan
sama pentingnya dengan volume etanol.
POIN INVESTOR Thesis etanol yang sehat sebaiknya dibangun dari 5 variabel:
volume fuel-grade, kontrak offtake, harga jual/HIP, biaya molases atau
feedstock lain, dan capex yang dibutuhkan untuk ekspansi. Headline E10/E20
hanya pintu masuk analisis.
Sumber: Kementerian ESDM;
USDA FAS Biofuels Annual 2026; laporan keuangan dan annual report MOLI/SRSN.
2.
Dari E5 ke E10: Kenapa
Perubahannya Penting
E5 berarti setiap 100 liter bensin mengandung 5 liter etanol.
E10 berarti 10 liter etanol. Untuk volume bensin yang sama, perpindahan dari E5
ke E10 secara mekanis menggandakan kebutuhan etanol. Karena itu, kenaikan blend
rate jauh lebih penting daripada sekadar pertumbuhan penjualan BBM biasa.
Kebutuhan aktual tergantung apakah kebijakan hanya berlaku
untuk bensin non-PSO, wilayah tertentu, atau seluruh pool bensin nasional.
Karena itu saya lebih suka memakai skenario daripada satu angka kebutuhan yang
dianggap pasti.
Ilustrasi mekanis jika diterapkan pada pool bensin 40
juta KL
|
Blend
|
Etanol per 100 L bensin
|
Kebutuhan teoritis*
|
Interpretasi
|
|
E5
|
5 L
|
2,0 juta KL
|
Baseline sederhana jika
seluruh pool memakai E5.
|
|
E10
|
10 L
|
4,0 juta KL
|
Kebutuhan etanol secara
mekanis 2x E5.
|
|
E20
|
20 L
|
8,0 juta KL
|
Skala industri harus
naik besar jika cakupan nasional penuh.
|
|
E50
|
50 L
|
20,0 juta KL
|
Masih jauh dari
kapasitas domestik saat ini; bukan base case dekat.
|
*Ilustrasi matematika
dengan basis konsumsi bensin sekitar 40 juta KL yang pernah disebut ESDM. Ini
bukan proyeksi resmi karena cakupan program bisa lebih sempit dari seluruh
pasar bensin.


Gambar 1. Arah kebijakan
berubah cepat. Yang perlu dipantau investor adalah aturan final, bukan hanya berita
target.
KENAPA TIMELINE TERLIHAT
BERBEDA? Ada dua lapisan. Pertama, roadmap
administratif yang disusun lebih konservatif. Kedua, target kebijakan yang
dikomunikasikan pemerintah pada Juli-September 2026 bergerak lebih agresif.
Menurut saya ini bukan alasan untuk memilih salah satu dan mengabaikan yang
lain. Justru artinya execution risk masih tinggi dan setiap tahap perlu
dikonfirmasi lewat regulasi, kontrak, dan realisasi blending.
Sumber: ESDM 22 Juli 2023;
USDA FAS Biofuels Annual 14 Agustus 2026; ANTARA 20 Juli 2026; ESDM 17
September 2026; ANTARA 21 September 2026.
3. B50 Bisa Jadi Blueprint, Tapi Etanol Tidak Bisa Disamakan
dengan Biodiesel
Pemerintah secara terbuka ingin meniru pola bertahap
biodiesel - dari B10, B20, B30 sampai B50 - untuk bensin berbasis etanol.
Secara konsep ini masuk akal: blending dinaikkan bertahap agar industri, mesin,
logistik, dan pasokan bahan baku punya waktu menyesuaikan. Tetapi dari sisi
ekonomi, etanol belum punya fondasi yang sama matang dengan biodiesel.

Satu perkembangan yang menurut saya cukup penting adalah PMK
34/2026. Aturan ini memperluas pembebasan cukai etil alkohol untuk kegiatan
pencampuran dengan produk kilang minyak. Ini bukan jawaban untuk seluruh
economics etanol, tetapi setidaknya mengurangi satu friksi biaya dan administrasi
yang selama ini membuat implementasi kurang efisien.
IMPLIKASI SAHAM Kalau pola biodiesel benar-benar ditiru, pemenangnya
kemungkinan bukan hanya produsen dengan kapasitas besar, tetapi produsen yang
paling siap dari sisi spesifikasi fuel-grade, kontrak bahan baku,
terminal/blending, dan harga yang kompetitif. Dengan kata lain: readiness lebih
penting daripada headline capacity.
Sumber: ESDM B50 2026;
USDA FAS roadmap biofuel; PMK 34/2026 melalui JDIH BPK.
4. Feedstock dan Proses: Di Sini Margin Etanol Sebenarnya
Ditentukan
Hampir
seluruh produksi etanol Indonesia saat ini masih berbasis generasi pertama
(1G), terutama molases/tetes tebu. Bahan baku ini sudah terbukti secara
teknologi, tetapi pasokannya musiman dan harganya mengikuti kondisi industri
gula. Ketika demand etanol naik terlalu cepat sementara molases tidak ikut
bertambah, biaya produksi bisa naik dan sebagian keuntungan dari volume
tambahan hilang.
|
Generasi
|
Bahan baku
|
Kelebihan
|
POV Pribadi
|
|
1G
|
Molases, tebu, singkong,
jagung
|
Teknologi matang dan
sudah komersial
|
Base case 2026-2028. Ini
yang paling relevan untuk MOLI dan SRSN.
|
|
2G
|
Bagasse / limbah
lignoselulosa
|
Tidak terlalu bersaing
dengan pangan dan memperluas feedstock
|
Menarik sebagai
optionality. Studi 2025 menunjukkan potensi economics yang layak, tetapi
belum ada plant komersial besar yang bisa dijadikan base case nasional.
|
|
3G
|
Algae / feedstock
biologis lanjutan
|
Potensi jangka panjang
|
Belum relevan untuk
valuasi emiten saat ini.
|
Dari molases ke fuel-grade ethanol
a)
Fermentasi mengubah gula menjadi etanol dan CO2.
b)
Distilasi membawa konsentrasi etanol ke sekitar 95%. Pada
tahap ini produknya belum ideal untuk blending bensin.
c)
Dehydration mengurangi air lebih lanjut sehingga menjadi
anhydrous ethanol dengan kemurnian di atas 99,5%. Tahap inilah yang membuat
sebuah plant lebih siap masuk ke fuel pool.
d)
Storage dan distribusi juga penting karena etanol bersifat
hygroscopic atau mudah menarik kelembapan. Kualitas bisa turun jika handling
tidak disiplin.
CATATAN : Kapasitas etanol total tidak sama dengan kapasitas
fuel-grade. Sebuah pabrik bisa memproduksi etanol industrial/food grade, tetapi
tetap membutuhkan modifikasi dehydration, quality control, storage, dan kontrak
blending sebelum volume tersebut bisa masuk ke bensin.
Untuk jangka lebih panjang, 2G ethanol dari bagasse menarik
karena Indonesia punya basis tebu yang besar. Studi ilmiah yang terbit 2025
memperkirakan levelised cost sekitar US$0,541/liter pada studi kasus bagasse
dan payback sekitar 5 tahun. Saya tetap menempatkannya sebagai optional value,
bukan asumsi laba dekat, karena tantangan enzim, pretreatment, capex, dan
offtake komersial masih besar.
Sumber: Annual Report SRSN
2025; USDA FAS; Industrial Crops & Products (2025) - studi life-cycle cost
bioethanol bagasse Indonesia.
5. Capacity Gap: Peluang Besar, Tapi
Justru Ini Tantangan Eksekusinya
Jika blend rate naik, Indonesia membutuhkan investasi baru
dalam jumlah besar. Yang sudah bisa
dikonfirmasi adalah dua emiten publik ini sendiri sudah memproduksi sekitar 145
ribu KL etanol pada 2025, tetapi tidak seluruh volume otomatis tersedia untuk
fuel pool karena mereka sudah melayani pelanggan industri, ekspor, food-grade,
dan produk lain. Jadi capacity gap nasional harus dibaca sebagai peluang
investasi industri, bukan jaminan bahwa seluruh gap akan menjadi penjualan MOLI
atau SRSN.

Gambar 2. Utilisasi
kapasitas etanol 2025. MOLI dan SRSN sama-sama sudah dekat kapasitas penuh.
Empat catatan penting
1)
Feedstock: molases dan bahan baku lain harus tersedia dengan
harga yang masih membuat margin masuk akal.
2)
Fuel-grade conversion: penambahan dehydration line, quality
assurance, dan storage bisa memerlukan capex.
3)
Offtake & pricing: kontrak pembelian dan formula harga
menentukan apakah volume tambahan benar-benar menghasilkan profit.
4)
Blending infrastructure: terminal, tangki, transportasi,
serta quality control harus ikut berkembang. Kebijakan tanpa infrastruktur
hanya menciptakan demand di atas kertas.
6. MOLI - Kekuatan Utamanya Bukan
Cuma Kapasitas
MOLI punya jejak paling jelas untuk masuk ke cerita fuel
ethanol. Annual Report 2025 mencatat kapasitas terpasang etanol 80.000 KL dan
produksi 72.405 KL, atau utilisasi sekitar 90,5%. MOLI juga punya sejarah
anhydrous ethanol dan pernah memasok bioetanol ke Pertamina. Ini membuat kesiapan
teknisnya lebih relevan dibanding sekadar label produsen etanol.
Satu koreksi penting: saya tidak memakai asumsi bahwa plant
kedua masih dibangun atau kapasitas grup sudah menuju 210.000 KL sebagai base
case. Dokumen resmi MOLI justru mencatat unit distilasi kedua selesai pada 2020
dan mulai beroperasi 2021, sementara unit fermentasi kedua selesai pada 2023.
Kapasitas terpasang yang masih dilaporkan untuk 2025 adalah 80.000 KL.
Hal lain yang menarik adalah by-product economy. MOLI
memiliki kapasitas CO2 cair 23.760 MT per tahun. Pada 2025 produksinya 16.673
MT. Secara ekonomi, CO2 fermentasi yang sebelumnya hanya by-product bisa
menjadi revenue stream untuk makanan/minuman, cold chain, welding, dan kebutuhan
industri. Ini membuat kualitas bisnis plant etanol tidak hanya bergantung pada
harga etanol.
|
MOLI - H1 2026
|
H1 2026
|
YoY / catatan
|
|
Revenue
|
Rp730,7 miliar
|
+1.7%
|
|
Gross profit
|
Rp240,7 miliar
|
+31.7%
|
|
Operating profit
|
Rp106,9 miliar
|
+115.0%
|
|
Net profit konsolidasian
|
Rp75,3 miliar
|
+192.1%
|
|
Laba pemilik induk
|
Rp63,2 miliar
|
+218.2%
|
|
Gross margin
|
32.9%
|
vs 25.4% H1 2025
|
|
Finance cost
|
Rp1,0 miliar
|
turun tajam dari Rp12,9
miliar
|
Menurut saya, H1 2026 justru memberi sinyal yang lebih kuat
daripada sekadar tema kebijakan. Revenue hanya naik tipis, tetapi gross margin
naik dari sekitar 25,4% menjadi 32,9% dan laba pemilik induk naik lebih dari
tiga kali lipat. Artinya, profitabilitas saat ini lebih banyak datang dari
perbaikan economics bisnis dibanding ledakan volume fuel ethanol. Ini sehat,
tetapi juga berarti investor jangan salah menganggap seluruh kenaikan laba
sudah berasal dari E5/E10.
WATCH MOLI Kontrak fuel ethanol baru, volume yang dialihkan dari
pasar industrial/export ke fuel, capex tambahan untuk ekspansi, utilisasi
CO2/by-product, harga molases, serta kemampuan mempertahankan margin H1 2026.
Sumber: Annual Report MOLI
2025; Laporan Keuangan MOLI 30 Juni 2026.
7. SRSN - Bukan Sekadar “Alternatif
MOLI”
SRSN memiliki kapasitas etanol 78.825 KL per tahun dan
produksi 73.029 KL pada 2025, sehingga utilisasinya sekitar 92,6%. Skala ini
jauh lebih besar daripada angka sekitar 22.000 KL yang sering muncul di materi
sekunder. Etanol juga menjadi kontributor utama penjualan perusahaan, sehingga
exposure SRSN terhadap tema ini sudah nyata.
SRSN punya karakter yang berbeda dari MOLI. Selain etanol,
perusahaan memiliki kemampuan produk turunan seperti acetic acid dan ethyl
acetate. Namun saya tidak langsung memasukkan seluruh kapasitas hilir itu
sebagai earnings driver, karena pada 2025 perusahaan tidak memproduksi acetic acid
dan ethyl acetate. Jadi nilainya lebih tepat disebut optionality product mix,
bukan laba yang sudah berjalan penuh.
Yang menarik dari sisi feedstock, laporan interim H1 2026
mencatat kontrak pembelian molases 152.100 ton untuk panen 2026, naik dari 124.000
ton pada 2025. Bagi saya ini penting karena ketika program etanol mulai besar,
siapa yang punya akses feedstock justru bisa lebih penting daripada siapa yang
sekadar punya mesin.
|
SRSN - H1 2026
|
H1 2026
|
YoY / catatan
|
|
Revenue
|
Rp557,6 miliar
|
-9.4%
|
|
Gross profit
|
Rp166,3 miliar
|
+32.1%
|
|
Operating profit
|
Rp94,6 miliar
|
+112.5%
|
|
Net profit
|
Rp72,1 miliar
|
+190.8%
|
|
Gross margin
|
29.8%
|
vs 20.4% H1 2025
|
|
Operating cash flow
|
Rp128,9 miliar
|
+99.1%
|
SRSN memberi contoh kenapa revenue bukan satu-satunya angka
penting. H1 2026 sales justru turun sekitar 9,4% YoY, tetapi gross profit naik
32%, operating profit naik lebih dari 100%, dan laba bersih naik sekitar 191%.
Gross margin naik dari 20,4% menjadi 29,8%. Jadi perubahan margin dan biaya
lebih dominan daripada pertumbuhan volume. Untuk thesis E10, ini positif karena
basis profitabilitas membaik sebelum demand fuel benar-benar besar.
WATCH SRSN Modifikasi fasilitas untuk bioethanol fuel-grade,
berapa volume yang benar-benar dialihkan ke fuel, kontrak molases dan harga
bahan baku, product mix ethanol vs produk turunannya, serta apakah margin H1
2026 bisa dipertahankan ketika demand naik.
Sumber: Annual Report SRSN
2025; Laporan Keuangan SRSN 30 Juni 2026.
8. H1 2026: Ini Belum Booming Volume,
Tapi Margin Sudah Berubah

Gambar 3. Pertumbuhan H1
2026. Laba naik jauh lebih cepat daripada revenue di kedua emiten.
Menurut saya ini salah satu poin paling penting untuk membaca
sektor. Kalau saham hanya naik karena investor mengejar headline E10,
thesis-nya biasa aja. Tetapi kalau emiten sudah bisa memperbaiki margin sebelum
volume baru datang, maka ruang rerating fundamental lebih masuk akal. Saat
ini MOLI dan SRSN menunjukkan margin yang jauh lebih baik, meskipun penyebabnya
belum bisa disimpulkan sebagai dampak kebijakan etanol.
9. By-Product Economy: CO2 dan
Vinasse Bisa Mengubah Economics Pabrik
Fermentasi etanol menghasilkan CO2, sementara proses
distilasi menghasilkan vinasse. Dua aliran ini sering dianggap limbah, padahal
kalau dikelola dengan baik bisa menjadi sumber nilai tambah sekaligus
mengurangi biaya lingkungan.
|
By-product
|
Potensi pemanfaatan
|
Nilai strategis
|
Risiko
|
|
CO2 fermentasi
|
Liquid CO2, dry ice,
kebutuhan F&B dan industri
|
Bisa menjadi revenue
tambahan dengan biaya bahan baku rendah karena berasal dari proses fermentasi
|
Butuh capture,
purification, liquefaction dan pasar yang cukup
|
|
Vinasse
|
Biogas, pupuk organik,
pupuk kalium, fertigation
|
Bisa menekan waste
treatment cost dan menambah monetisasi per liter etanol
|
BOD/COD tinggi;
pengelolaan yang buruk bisa menjadi risiko lingkungan dan operasional
|
MOLI sudah punya bisnis CO2 cair, sehingga by-product economy
di sana lebih mudah dilihat secara konkret. Untuk SRSN, nilai tambah dari
limbah dan produk turunan tetap menarik, tetapi saya akan melihat realisasi
volume dan margin masing-masing produk, bukan hanya potensi teknisnya.
10. Tiga Skenario yang Menurut Saya
Masuk Akal untuk 2027-2028
|
Skenario
|
Apa yang terjadi
|
Dampak ke industri
|
Apa yang dicari di
emiten
|
|
Gradual execution
|
E10 berjalan bertahap,
wilayah dan segmen dibatasi sesuai kesiapan supply
|
Demand naik tetapi tidak
eksplosif. Existing producer mendapat tambahan pasar tanpa harus langsung
membangun kapasitas raksasa.
|
Kontrak baru, utilisasi,
pricing, margin tetap sehat.
|
|
Policy delay / margin
squeeze
|
Regulasi lambat, harga
etanol kurang menarik, atau molases naik
|
Demand fuel tertunda dan
economics ekspansi melemah.
|
Emiten yang tetap untung
dari industrial/export/by-product akan lebih defensif.
|
|
Aggressive build-out
|
E10-E20 dipercepat dan
pemerintah memberi dukungan offtake/insentif yang kuat
|
Capex cycle dimulai,
kapasitas baru dan pemain baru masuk.
|
Siapa yang dapat
kontrak, punya feedstock, mampu tambah capacity dengan ROIC yang baik.
|
Base case saya tidak mengasumsikan E50 langsung menjadi
kenyataan dalam waktu dekat. E50 lebih cocok dipakai sebagai gambaran seberapa
besar optionality sektor jika roadmap berhasil. Untuk valuasi dekat, E10 dan
realisasi kontrak 2027 jauh lebih relevan.
11. Catatan Investor: Kapan Cerita
Etanol Naik Kelas dari Narasi Menjadi Earnings
a) Aturan final Ada regulasi yang jelas
mengenai blend rate, wilayah, jenis bensin dan jadwal.
b) Offtake Ada pembeli dan kontrak
volume, bukan hanya potensi kebutuhan nasional.
c) Fuel-grade readiness Fasilitas mampu
menghasilkan anhydrous ethanol sesuai spesifikasi fuel-grade.
d) Feedstock Kontrak
molases/tebu/singkong/jagung cukup dan harga masih mendukung margin.
e) Capex & ROIC Ekspansi tidak hanya
besar, tetapi menghasilkan return yang masuk akal.
f) Margin Tambahan volume tidak
dibayar dengan margin yang lebih rendah.
g) Cash flow Kenaikan laba benar-benar
masuk ke operating cash flow.
h) Valuation Harga saham belum
mencerminkan skenario paling optimistis secara penuh.
12. Kesimpulan
Saya melihat industri etanol Indonesia sebagai tema investasi
yang semakin serius, tetapi bukan karena satu headline E10 atau E50. Yang
membuatnya menarik adalah kombinasi antara kebutuhan mengurangi impor bensin,
perubahan roadmap biofuel, dukungan fiskal yang mulai dibenahi, dan kondisi
produsen existing yang sudah memiliki utilisasi tinggi.
MOLI punya keunggulan dari rekam jejak anhydrous/fuel ethanol
dan ekosistem by-product yang lebih terlihat. SRSN punya basis produksi besar,
kontrak feedstock yang jelas, dan perbaikan margin yang sangat kuat. Keduanya
punya alasan untuk dipantau, tetapi catalyst yang benar-benar mengubah nilai
perusahaan tetap sama: kontrak fuel, volume yang bertambah, harga yang
ekonomis, capex yang menghasilkan return, dan margin yang tidak rusak ketika
kapasitas diperbesar.
Jadi cerita etanol sekarang sudah layak diperhatikan, tetapi
saya belum ingin menghitung seluruh kebutuhan nasional sebagai pendapatan
emiten. Saya lebih nyaman menunggu setiap langkah kebijakan berubah menjadi
angka nyata di laporan keuangan. Kalau 2027 mulai muncul kontrak E10, kenaikan
volume, dan keputusan ekspansi yang jelas, barulah thesis ini naik kelas dari
sector narrative menjadi earnings story.
BOTTOM LINE E5 ke E10 adalah katalis yang logis karena
menggandakan kebutuhan etanol per liter bensin. Tetapi saham hanya akan mendapat
nilai tambah berkelanjutan jika kapasitas fuel-grade, feedstock, offtake,
harga, dan cash flow ikut berkembang. Itu yang saya jadikan pusat analisis.
13. Sumber Utama & Referensi
S1 Kementerian ESDM - Spesifikasi bensin RON 95
dengan bioetanol 5% (E5), 22 Juli 2023
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/kementerian-esdm-tetapkan-spesifikasi-produk-bbm-baru-campuran-bioetanol
S2 Kementerian ESDM - Implementasi E5 terbatas,
3 Agustus 2023
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/kementerian-esdm-segera-implementasikan-bahan-bakar-nabati-bioetanol-e5
S3 USDA FAS - Biofuels Annual Indonesia, 14
Agustus 2026, ID2026-0033
https://www.fas.usda.gov/data/gain/2026/08/indonesia-biofuels-annual
S4 ANTARA - Target E10 mulai 2027 sebelum E20,
20 Juli 2026
https://www.antaranews.com/berita/5657931/bahlil-pemerintah-targetkan-penerapan-bbm-campuran-etanol-mulai-2027
S5 Kementerian ESDM - Implementasi E20 dan
kebutuhan etanol, 27 Juni 2026
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/implementasi-program-e20-pemerintah-butuh-4-juta-kiloliter-etanol
S6 Kementerian ESDM - Pemerintah mulai menyusun
E50, 17 September 2026
https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/usai-b50-pemerintah-siapkan-e50-langkah-baru-kurangi-ketergantungan-bbm-impor
S7 ANTARA - Roadmap E10 2027, E20 2028, menuju
E50, 21 September 2026
https://www.antaranews.com/berita/5751141/menteri-bahlil-sebut-tak-perlu-impor-bensin-jika-terapkan-e50
S8 JDIH BPK - PMK 34/2026 tentang pembebasan
cukai untuk etil alkohol dalam blending BBM
https://peraturan.bpk.go.id/Details/349330/pmk-no-34-tahun-2026
S9 Pertamina One Solution - Pertamax Green 95
dan bioetanol molases
https://onesolution.pertamina.com/Insight/Page/dukungan-pt-pertamina-patra-niaga-dalam-mewujudkan-target-energi-terbarukan-indonesia
S10 MOLI - Annual Report 2025
https://molindo.co.id/adminweb/uploads/annual_report/20260429140451-2026-04-29annual_report140438.pdf
S11 MOLI - Laporan Keuangan 30 Juni 2026
https://molindo.co.id/adminweb/uploads/finansial_statements/20260730114404-2026-07-30finansial_statements114349.pdf
S12 SRSN - Hubungan Investor / Annual Report 2025
https://acidatama.co.id/hubungan-investor/
S13 SRSN - Laporan Keuangan 30 Juni 2026
https://financialfilings.com/filings/indo-acidatama-tbk/interim-quarterly-report/2026/49822730/
S14 USDA FAS - After a Decade Indonesia is
Updating Its Biofuel Roadmap, 5 Februari 2025
https://www.fas.usda.gov/data/indonesia-after-decade-indonesia-updating-its-biofuel-roadmap
S15 Industrial Crops & Products - Life cycle
cost of bioethanol from sugarcane bagasse in Indonesia (2025)
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0926669025017078
Catatan metodologi: data
kebijakan dipisahkan antara regulasi/roadmap dan pernyataan target pemerintah.
Ketika keduanya berbeda, dokumen ini tidak menganggap salah satunya otomatis
final; realisasi mandatori dan aturan pelaksana tetap menjadi penentu utama.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang