
Disclaimer
dulu. Ini bukan ajakan beli atau jual saham. Anggap saja saya lagi sharing satu
story yang menurut saya menarik untuk dipantau. Karena kalau main saham
naratif, kadang yang dicari bukan saham yang ceritanya sudah selesai, tapi
saham yang ceritanya mungkin baru mulai dibangun.
Saham yang saya maksud adalah FUTR — PT Futura Energi Global Tbk. Yang
pertama bikin saya tertarik justru bukan chart-nya. Tapi orangnya.
Namanya
Anggara Suryawan, sekarang menjabat Direktur Utama FUTR. Sebelum masuk
ke story FUTR, jejak Anggara di pasar modal ternyata cukup menarik. Namanya
pernah berada di balik PT Caraka Reksa Optima, konsorsium yang mengambil alih 69,8%
saham Petrosea (PTRO) dari Indika Energy pada 2022. Indika melepas 704 juta
saham PTRO dengan harga sekitar Rp3.117 per saham, senilai total sekitar
US$146,58 juta.
Kenapa
ini menarik?
Karena PTRO setelah itu masuk ke fase yang berbeda. Pada 2024, sebagian
kepemilikan Caraka dijual kepada PT Kreasi Jasa Persada, anak usaha Petrindo
Jaya Kreasi (CUAN), sehingga grup Prajogo Pangestu menjadi pengendali PTRO.
Tapi Caraka ternyata tidak keluar seluruhnya. Sampai Juli 2026, Caraka masih
tercatat memegang sekitar 24,45% saham PTRO, sementara Kreasi Jasa
Persada memegang sekitar 45,33%.

Kalau mau sekadar melihat
skalanya, harga akuisisi Caraka pada 2022 sekitar Rp3.117 per saham.
PTRO kemudian melakukan stock split 1:10, jadi secara adjusted harga masuk
tersebut kira-kira setara Rp312 per saham. Pada 14 September 2026, PTRO berada
di sekitar Rp5.300. Secara mark-to-market sederhana, itu sudah sekitar 17
kali harga adjusted awal.
Tentu ini bukan berarti Caraka memperoleh return bersih 17x karena ada
penjualan sebagian kepemilikan, tender, dan corporate action lainnya. Tapi
cukup untuk menunjukkan bahwa mereka pernah masuk sangat awal ke sebuah
corporate story yang kemudian menjadi multibagger besar.

Nah, sekarang Anggara ada di FUTR.
Dan menurut saya bagian menariknya mulai dari sini.
FUTR dulunya bukan perusahaan geothermal. Emiten ini sebelumnya bergerak di
bidang kreatif dan konsultasi, lalu setelah masuknya PT Aurora Dhana
Nusantara atau Ardhantara sebagai pengendali 45%, arah bisnisnya berubah
menjadi holding energi hijau. Targetnya mencakup geothermal, PLTS, mini hydro,
carbon credit, sampai bisnis efisiensi energi. Jadi kalau market sering
menyebut FUTR sebagai “backdoor story”, konteksnya adalah transformasi
bisnis yang sangat besar setelah pergantian pengendali tersebut.

Aset yang paling menarik jelas
proyek geothermal Gunung Slamet/Baturaden.
Melalui PT Sejahtera Alam Energi (SAE), proyek ini punya potensi pengembangan
sekitar 220 MW dan sudah memiliki Power Purchase Agreement dengan PLN.
Proyeknya bukan aset yang baru ditemukan kemarin; WKP Baturaden sudah lama
dikembangkan dan bahkan tercatat oleh Kementerian ESDM sebagai proyek
geothermal berkapasitas rencana 220 MW.

Per Agustus 2026, manajemen FUTR
menyebut akan mereaktivasi proyek tersebut mulai kuartal IV/2026 dan menyiapkan
investasi sekitar US$120 juta untuk tahap reaktivasi dan pengembangan.
Jadi secara proyek, ini sudah masuk ke fase yang lebih konkret.

Ada satu angka yang juga menarik.
Dulu, untuk pengembangan penuh PLTP Baturaden 220 MW, estimasi investasi
historis pernah mencapai sekitar US$880 juta atau Rp7,9 triliun. Angka
ini berasal dari estimasi pengembangan penuh proyek pada 2012.
Rp7,9 triliun adalah estimasi historis total biaya pengembangan penuh 220
MW, bukan valuasi ekuitas SAE hari ini. Sementara angka terbaru yang
benar-benar disampaikan manajemen untuk tahap reaktivasi adalah sekitar US$120
juta. Jadi dua angka itu punya scope yang berbeda.

Walaupun begitu,
perbandingannya tetap menarik untuk dilihat. Dengan harga FUTR sekitar Rp302
seperti chart yang saya lihat, jumlah saham beredar sekitar 6,64 miliar lembar
membuat market cap FUTR hanya sekitar Rp2 triliun.
Artinya market
sekarang masih menilai seluruh FUTR sekitar Rp2 triliun, sementara di
belakangnya ada rencana pengembangan proyek geothermal 220 MW yang secara full
development memang membutuhkan investasi jauh lebih besar. Bukan berarti market
cap otomatis harus Rp7 triliun. Tapi ada gap antara ukuran perusahaan hari
ini dengan skala proyek yang sedang dicoba dibangun. Dan biasanya di saham
naratif, gap seperti inilah yang menarik untuk dipantau.

Lalu kita masuk
ke bagian yang menurut saya paling menarik : insider buying.
Sepanjang awal
2026, Anggara sudah beberapa kali membeli saham FUTR secara langsung. Lalu pada
21 Juli 2026 ia membeli lagi 66,5 juta saham di harga Rp230, sehingga
kepemilikan langsungnya menjadi sekitar 68,44 juta saham atau 1,03%.
Setelah itu ada
pembelian lagi melalui PT Anggara Sons Investment pada 23, 27, dan 29
Juli. Totalnya 132,57 juta saham atau sekitar 2% FUTR, dengan harga
Rp230–Rp270 dan nilai investasi sekitar Rp33,9 miliar. Keterbukaan menyebut
kepemilikan ini bersifat tidak langsung melalui Anggara Sons Investment.
Dan
bukan Anggara saja.
Direktur FUTR
lainnya, Dana Wijaya, juga membeli sekitar 79,63 juta saham atau 1,2%
FUTR di harga Rp220 pada Juli 2026 untuk tujuan investasi. Buat saya ini
menarik. Bukan berarti karena direksi beli saham lalu harga pasti naik.
Ya seperti “mereka tahu sesuatu yang publik tidak tahu”. Gitu lah..
Dan kalau orang
yang menjalankan perusahaan memilih memasukkan uangnya sendiri ke saham
perusahaan, apalagi dalam jumlah puluhan miliar rupiah, minimal ada alignment
of interest yang layak diperhatikan.
Mereka ikut
punya skin in the game.
Lalu
pertanyaannya: game berikutnya apa? Jawabannya kemungkinan besar ada di
corporate action.

Sejak 2025,
manajemen sudah menyampaikan bahwa FUTR diarahkan menjadi holding energi hijau
dan rights issue masuk dalam rencana korporasi. Bahkan manajemen
menyebut aset-aset berbasis energi dari pengendali akan dimasukkan sebagai anak
usaha FUTR melalui proses tersebut. Proyek geothermal Gunung Slamet menjadi
salah satu aset utama yang dibahas.
Jadi kerangka
berpikir saya sederhana :
Hari ini FUTR
masih perusahaan dengan market cap sekitar Rp2 triliun. Di belakangnya ada
pengendali baru. Ada perubahan total arah bisnis. Ada geothermal 220 MW. Ada
PPA PLN. Ada rencana rights issue. Ada kemungkinan integrasi aset EBT ke dalam
FUTR. Dan menariknya, menjelang semua proses itu berkembang, direksi justru
ikut menambah kepemilikan.
Apakah semua ini menjamin rights issue pasti sukses dan aset geothermal pasti
masuk? Belum.
Itu justru katalis yang masih harus kita tunggu.

Kalau bicara
chart, saya juga mulai melihat sesuatu yang cukup menarik.
FUTR pernah
mengalami fase euforia besar, kemudian turun panjang dari area 800-an sampai
sempat mendekati 100-an. Sekarang harga sudah kembali naik, membentuk higher
low dari dasar Juni, lalu bergerak ke area 300-an. Belum berarti akan kembali
ke ATH. Tapi karakter chart-nya sudah berbeda dibanding ketika masih jatuh
bebas. Jadi, apakah corporate story-nya mulai hidup lagi sebelum harga
benar-benar melakukan rerating?
Kalau nanti
rights issue benar dilaksanakan, struktur transaksinya jelas, aset SAE
benar-benar terkonsolidasi ke FUTR, proyek Baturaden masuk fase drilling, dan
pendanaannya aman, barulah market punya data yang lebih kuat untuk menghitung
ulang valuasinya.
Kalau tidak terealisasi, ya story-nya harus kita downgrade. Itu kenapa saham
seperti FUTR menurut saya lebih cocok dibaca sebagai narrative +
event-driven play, bukan sekadar melihat PER atau PBV hari ini.
Saham sektor
sejenis : BREN dan PGEO sudah memiliki aset operasional, cash flow,
kapasitas terpasang, dan track record yang jauh berbeda. Dan market capnya
jauh diatas FUTR
Jadi, Apakah perusahaan market cap Rp2 triliun yang sedang mencoba
memasukkan proyek geothermal 220 MW, dipimpin orang yang punya track record
corporate action besar, dan direksinya sedang membeli saham sendiri menarik
untuk dimasukkan watchlist ?
Buat saya, jawabannya: iya, menarik untuk dipantau. Bukan karena pasti
naik. Tapi karena potongan puzzlenya mulai terkumpul. Sekarang tinggal melihat
apakah manajemen benar-benar bisa mengubah story menjadi aset, aset menjadi
revenue, dan revenue menjadi value untuk shareholder.
Kalau itu
terjadi, baru game FUTR yang sebenarnya dimulai.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang