
Menurut saya, hasil Jackson Hole kali ini cukup jelas: Fed belum nyaman dengan
inflasi dan belum mau memberi sinyal pelonggaran. Kevin Warsh menegaskan target
inflasi 2% tetap menjadi target tetap Fed. Dia juga bilang Fed harus yakin
inflasi bergerak turun dengan cukup jelas dan cukup cepat. Kalau tidak, masih
ada pekerjaan yang harus dilakukan. Pasar
langsung membaca ini sebagai hawkish. Ekspektasi kenaikan suku bunga September
naik dari sekitar 35% menjadi 60%. Yield US Treasury tenor pendek ikut naik dan
dolar menguat. Jadi fokus market
sekarang kembali ke: inflasi belum selesai → rate hike masih terbuka → yield
naik → USD kuat

Apa yang sebenarnya disampaikan Warsh?
Menurut saya, poin utamanya ada tiga.
Pertama, inflasi masih terlalu tinggi. Warsh tidak mau Fed terlalu cepat
menganggap masalah inflasi sudah selesai hanya karena beberapa data mulai
membaik.
Kedua, ekonomi AS masih cukup kuat. Business capex naik, profit perusahaan
besar masih tinggi, dan ekonomi dinilai cukup tahan terhadap shock. Artinya Fed belum melihat kebutuhan mendesak
untuk buru-buru melonggarkan kebijakan.
Ketiga, Warsh justru ingin mengurangi forward guidance. Dia tidak mau pasar
terlalu bergantung pada sinyal Fed soal keputusan suku bunga berikutnya. Jadi
ke depan market kemungkinan akan lebih sensitif ke data daripada komentar Fed.
Kenapa yield naik?
Karena pasar mulai pricing kemungkinan Fed masih harus menaikkan bunga. Yang
paling cepat merespons biasanya US Treasury 2Y karena tenor pendek sangat
sensitif ke ekspektasi Fed. Kalau peluang rate hike naik: UST 2Y naik →
dollar biasanya ikut menguat
Ini yang terjadi setelah pidato Warsh. Untuk
tenor panjang seperti UST 10Y, ceritanya lebih kompleks. Bukan hanya Fed. Defisit
fiskal AS, kebutuhan penerbitan Treasury yang besar, dan kebutuhan pembiayaan
ekonomi juga ikut menjaga yield panjang tetap tinggi.
Jadi menurut saya perlu dibedakan : 2Y lebih banyak bicara Fed. 10Y
bicara Fed + growth + inflasi + fiscal deficit + supply Treasury.
USDJPY kembali jadi perhatian
Dolar yang kembali kuat membuat Yen tertekan. USDJPY kembali bergerak mendekati
area 160 dan ini penting karena Jepang sudah beberapa kali menunjukkan bahwa
area tersebut sensitif terhadap intervensi. Jepang juga pernah melakukan intervensi
langsung ketika Yen melemah terlalu cepat. Masalahnya bukan cuma Yen. Kalau Jepang
melakukan intervensi besar atau pasar mulai unwind carry trade, efeknya bisa
menyebar ke aset global.
Kenapa carry trade penting?
Selama ini Yen sering dipakai sebagai funding currency karena biaya pinjamnya
relatif rendah. Investor pinjam Yen lalu masuk ke:
• saham
• obligasi
• emerging market
• aset berisiko lain
Selama Yen lemah dan volatilitas rendah, strategi ini nyaman.
Tapi kalau Yen tiba-tiba menguat tajam karena intervensi atau perubahan
kebijakan BOJ, posisi carry trade bisa dibongkar. Kalau unwind besar terjadi : Yen
naik → posisi leverage ditutup → aset berisiko dijual → volatilitas global naik.
Menurut saya, ini salah satu risiko yang sekarang perlu dipantau.
Apa dampaknya ke IHSG?
Menurut saya, kondisi ini negatif untuk emerging market, tapi bukan berarti
IHSG otomatis crash.
Yang bikin kurang nyaman adalah kombinasi:
• USD kuat
• UST yield naik
• potensi carry trade unwind
• risiko capital outflow
• Rupiah tertekan
Kalau investor asing bisa mendapat yield tinggi di US Treasury dengan risiko
lebih rendah, daya tarik aset emerging market relatif turun.
Efek yang biasanya muncul: foreign flow melemah → Rupiah tertekan → saham
big caps lebih berat
Terutama saham yang selama ini banyak dimiliki asing. Sektor yang biasanya
lebih sensitif
Kalau USD kuat dan yield tinggi bertahan, saya akan lebih hati-hati di:
• properti
• teknologi growth
• saham dengan utang dolar besar
• emiten dengan capex besar dan cash flow lemah
• saham yang valuasinya mahal
Sementara yang relatif lebih tahan biasanya:
• eksportir USD
• komoditas tertentu
• perusahaan dengan net cash
• emiten yang earnings-nya tetap tumbuh walaupun bunga
tinggi
Tapi tetap harus lihat masing-masing saham.
Apa yang jadi next catalyst?
Sekarang market akan kembali fokus ke data.
CPI dan PCE : Kalau inflasi tetap tinggi, peluang rate hike makin kuat. Kalau
inflasi turun cepat, pasar bisa mulai mengurangi ekspektasi kenaikan bunga.
NFP dan unemployment : Kalau tenaga kerja masih kuat, Fed punya ruang
untuk tetap hawkish. Kalau employment mulai melemah tajam, market bisa mulai
pricing Fed lebih dovish.
UST 2Y dan 10Y : 2Y untuk baca ekspektasi Fed. 10Y untuk baca tekanan
makro yang lebih luas.
DXY : Kalau DXY lanjut naik, tekanan ke emerging market biasanya ikut
naik.
USDJPY : Area 160 masih penting karena risiko intervensi Jepang
meningkat kalau Yen kembali melemah terlalu cepat.
Apa yang perlu dilakukan sekarang?
Menurut saya bukan waktunya panik. Tapi juga belum ideal untuk terlalu agresif
tambah posisi. Lebih aman:
• jaga cash
• pilih saham dengan earnings jelas
• hindari saham yang sudah terlalu extended
• perhatikan support
• jangan terlalu besar leverage
• lihat foreign flow
• pantau Rupiah
Kalau market tetap kuat walaupun yield naik dan DXY naik, berarti underlying
demand masih bagus. Tapi kalau indeks mulai kehilangan support bersamaan dengan
foreign outflow, baru risikonya lebih serius.
Kesimpulan
Jackson Hole kali ini membuat pasar kembali menghitung kemungkinan higher
for longer, bahkan membuka kembali peluang rate hike. Warsh belum memberi
keputusan pasti. Tapi pesannya jelas: inflasi belum selesai dan Fed belum mau
cepat longgar. Jadi alurnya sekarang: Fed
hawkish → yield naik → USD kuat → Yen lemah → risiko intervensi Jepang naik →
carry trade rawan unwind → volatilitas global berpotensi naik
Untuk IHSG, efeknya bukan otomatis crash. Tapi kondisi ini membuat market lebih
sensitif ke foreign flow, Rupiah, dan yield US Treasury. Menurut saya, beberapa
minggu ke depan akan ditentukan oleh CPI/PCE, NFP, UST 2Y/10Y, DXY, dan
USDJPY. Kalau data inflasi tetap keras, tekanan bisa lanjut. Kalau data
mulai melemah, ekspektasi rate hike bisa turun lagi dan market punya ruang
untuk rebound.
Jadi untuk sekarang:
Fed: hawkish.
USD: kuat.
Yield: naik.
Yen: rawan intervensi.
Emerging market: lebih selektif.
IHSG: belum bearish, tapi risk management harus lebih ketat.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang