PLTS 2026–2027: Mulai Jadi Tema Serius, Tapi Tidak Semua
Emiten Punya Exposure yang Sama
Menurut saya, tema PLTS mulai layak diperhatikan karena proyeknya memang ada
dan kebutuhan industrinya jelas. Pemerintah melalui RUPTL PLN 2025–2034
menargetkan tambahan kapasitas PLTS sekitar
17,1 GW. Di luar itu,
pemerintah juga mendorong program PLTS hingga
100 GW secara bertahap.
Jadi ini bukan sekadar tema yang dibuat pasar, memang ada arah kebijakan dan
kebutuhan pembangunan yang nyata.

Yang perlu dibedakan adalah posisi masing-masing emiten. Ada yang sudah punya
pabrik dan aset nyata, ada yang menjadi supporting ecosystem, ada yang baru
punya potensi bahan baku.
Kenapa PLTS dibutuhkan?
Kebutuhan listrik Indonesia terus naik. Tambahan konsumsi datang dari kawasan
industri, data center, EV, smelter, perumahan, dan pertumbuhan ekonomi secara
umum.
PLTS menarik karena pembangunan relatif lebih cepat dan fleksibel dibanding
banyak pembangkit besar lain. Bisa
dibangun dalam skala kecil sampai besar. Bisa untuk kawasan industri, pulau
terpencil, fasilitas publik, maupun sistem utility-scale. Untuk wilayah yang
jauh dari jaringan besar, kombinasi PLTS + battery storage juga lebih
masuk akal dibanding harus menarik transmisi panjang. Pemerintah juga sedang
mendorong penggunaan produk lokal. Jadi pembangunan PLTS tidak hanya bicara
pembangkit listrik, tetapi juga membuka kebutuhan untuk:
• solar cell
• modul panel
• inverter
• battery storage
• kabel
• panel listrik
• EPC
• struktur konstruksi
• sampai bahan baku industri solar.
Di sini mulai muncul beberapa saham yang dikaitkan dengan tema PLTS.
DSSA
Menurut saya, DSSA punya exposure yang paling konkret.
Melalui PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), sudah ada pabrik manufaktur
sel dan modul surya terintegrasi di Kendal. Kapasitas awalnya sekitar 1 GW
per tahun dan fasilitasnya sudah beroperasi. Jadi DSSA tidak lagi sekadar
punya rencana masuk solar. Aset produksinya sudah ada. Kalau pembangunan PLTS
nasional dipercepat, TMAI secara logika punya peluang mendapat tambahan
permintaan dari kebutuhan modul domestik.

Yang perlu dilihat sekarang bukan lagi apakah pabriknya jadi atau tidak,
tetapi:
• utilisasi pabrik
• jumlah order
• kontrak yang didapat
• margin
• kontribusi laba ke DSSA.

Menurut saya, ini yang paling penting. DSSA adalah grup besar. Walaupun TMAI
berkembang cepat, kontribusinya tetap harus cukup material supaya benar-benar
mengubah valuasi DSSA.
Jadi untuk DSSA:
Project: nyata.
Aset: sudah ada.
Monetisasi: mulai perlu dibuktikan.
SEMA
SEMA lebih cocok dilihat sebagai perusahaan pendukung pembangunan infrastruktur
listrik. Bisnisnya terkait electrical equipment, panel listrik, engineering,
serta integrasi teknologi.

SEMA juga punya hubungan bisnis dengan Huawei Digital Power,
Siemens, Hyundai Electric, dan FiberHome. Kalau pembangunan PLTS naik,
kebutuhan equipment kelistrikannya ikut naik. Begitu juga kalau pembangunan
data center, battery storage, EV charging, dan infrastruktur listrik meningkat.
Jadi SEMA tidak harus punya PLTS sendiri untuk mendapatkan manfaat. Dia bisa
ikut dari kebutuhan equipment dan integrasi sistem. Menurut saya, ini justru
menarik karena hampir semua proyek energi membutuhkan supporting equipment.
Yang perlu dilihat:
• order book
• kontrak baru
• kontribusi proyek PLTS
• margin proyek
• recurring order.

Kalau order mulai naik konsisten, story SEMA akan jauh lebih kuat. Untuk SEMA:
Project: ada exposure nyata dari bisnis existing.
Monetisasi: tergantung pertumbuhan order.
Karakter: supporting ecosystem.
MITI
MITI lebih spekulatif. Exposure-nya datang dari tambang silika atau kuarsa. Secara
industri, silika memang menjadi bahan awal dalam rantai produksi solar. Tetapi
prosesnya panjang. Silika tidak langsung berubah menjadi panel surya.

Rantai prosesnya kurang lebih:
silika → silicon metal → polysilicon → wafer → solar cell → module
Jadi punya tambang kuarsa belum otomatis berarti sudah menjadi supplier
industri solar. Yang harus dibuktikan MITI:
• kualitas silika
• kadar kemurnian
• jumlah reserve
• feasibility study
• fasilitas processing
• capex
• offtaker
• produksi komersial.
Kalau semuanya berkembang, potensi story-nya bisa besar. Tapi saat ini menurut
saya masih terlalu dini kalau MITI langsung disebut sebagai beneficiary utama
PLTS.
MITI punya exposure ke tema solar dari sisi paling hulu,
yaitu pasir kuarsa/silika. Perseroan sudah memiliki beberapa IUP eksplorasi
silika di Kalimantan Barat. Secara industri, kuarsa memang menjadi bahan awal
dalam rantai produksi panel surya, tetapi prosesnya masih panjang: quartz →
metallurgical-grade silicon → polysilicon → ingot → wafer → cell → module.
Karena itu, hubungan MITI dengan tema PLTS masih lebih bersifat upstream
exposure dan belum bisa disamakan dengan produsen panel surya langsung.
Untuk MITI:
Project: masih early stage.
Upside: besar kalau masuk supply chain solar.
Risiko: paling tinggi dibanding nama lain.
TOBA

TOBA punya exposure ke green business yang lebih luas. Tidak hanya PLTS. Mereka
juga masuk renewable energy, waste-to-energy, EV, dan berbagai proyek green
infrastructure. Jadi kalau melihat TOBA, thesis-nya bukan hanya PLTS. Fokusnya lebih
melihat seberapa cepat portofolio bisnis hijau mulai menggantikan kontribusi
bisnis lama.

Yang perlu dilihat:
• jumlah proyek baru
• kapasitas renewable yang masuk
• COD
• revenue dari green business
• EBITDA
• berapa besar porsinya terhadap grup.
Kalau kontribusi green business terus naik, rerating bisa terjadi.

Untuk TOBA:
Project: nyata dan cukup luas.
PLTS: hanya salah satu bagian.
Kunci: monetisasi green portfolio.
Jadi siapa yang paling menarik?
Kalau dilihat dari kematangan story:
DSSA paling konkret karena aset manufakturnya sudah ada.
SEMA menarik dari sisi supporting ecosystem.
TOBA menarik sebagai transformasi green business.
MITI paling spekulatif, tapi optionality-nya besar kalau silika
benar-benar masuk supply chain industri solar.
Apa yang bisa jadi next catalyst?
Untuk DSSA:
• kontrak baru TMAI
• ekspansi kapasitas
• kenaikan utilisasi pabrik
• keterlibatan di proyek PLTS pemerintah.
Untuk SEMA:
• order baru dari PLTS
• proyek data center
• battery storage
• EV charging
• kontrak EPC/electrical equipment.
Untuk MITI:
• hasil eksplorasi
• reserve
• kadar kemurnian
• offtaker
• pabrik processing
• JV hilirisasi.
Untuk TOBA:
• tambahan proyek renewable
• COD proyek baru
• kontribusi revenue green business
• ekspansi EV dan WTE.
Apakah “PLTS is the new WTE”?
Menurut saya, bisa jadi tema berikutnya, tapi tidak bisa disamakan
mentah-mentah. WTE sempat ramai karena ada proyek pemerintah dan pasar mencoba
mencari emiten yang punya exposure. PLTS sekarang kondisinya lebih luas karena
kebutuhan kapasitasnya jauh lebih besar dan rantai industrinya panjang. Bukan
cuma operator pembangkit.
Ada:
• manufaktur panel
• EPC
• electrical equipment
• battery
• inverter
• konstruksi
• bahan baku.
Jadi peluang rotasinya juga bisa lebih luas. Tapi tetap harus dibedakan antara
saham yang benar-benar punya proyek dan saham yang hanya punya narasi.
Menurut saya paling gampang pakai urutan ini:
punya exposure → punya proyek → punya kontrak → konstruksi → COD → revenue →
laba
Kalau baru ada exposure, risikonya tinggi.
Kalau sudah punya kontrak dan konstruksi, lebih konkret.
Kalau sudah COD dan mulai menghasilkan revenue, kualitas story-nya jauh lebih
bagus.
Ini yang harus diperhatikan supaya tidak membeli saham hanya karena ada kata
“PLTS”.
Kesimpulan
PLTS menurut saya memang layak masuk radar untuk 2026–2027.
Pemerintah sudah punya target kapasitas besar, kebutuhan listrik naik, proyek
mulai berjalan, dan industri lokal mulai dibangun. Tapi tidak semua emiten
punya kualitas exposure yang sama.
Kalau saya urutkan sekarang:
DSSA → paling konkret.
SEMA → supporting play yang menarik.
TOBA → green transformation yang lebih luas.
MITI → paling spekulatif, tapi optionality besar.
Yang perlu dipantau bukan cuma kenaikan harga saham.
Lihat : kontrak, capex, pembangunan, COD, revenue, dan laba.
Kalau semuanya mulai muncul berurutan, baru story PLTS berubah dari tema pasar
menjadi mesin pertumbuhan perusahaan.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang