Catatan penting dulu. Senin, 17
Agustus 2026 Bursa Efek Indonesia libur dalam rangka Hari Kemerdekaan,
sehingga pekan ini hanya memiliki empat hari perdagangan efektif: Selasa 18
Agustus sampai Jumat 21 Agustus.
Gambaran utama
Pandangan saya, IHSG masuk pekan 18–21
Agustus dengan kondisi yang lebih sehat dibanding beberapa bulan sebelumnya,
tetapi sekarang sedang berhadapan dengan area teknikal yang cukup penting.

IHSG menutup perdagangan Jumat, 14
Agustus di 6.401,89, naik 1,59% dalam sehari. Secara teknikal, indeks
sudah berhasil bangkit jauh dari titik terendah 5.317 pada Juni dan sekarang
kembali menguji area 6.400. Tetapi menariknya, kenaikan tersebut belum
sepenuhnya dibarengi foreign flow. Investor asing masih mencatat net sell
sekitar Rp1,03 triliun pada Jumat, dan sekitar Rp1,58 triliun dalam
sepekan.

Jadi yang saya lihat sekarang cukup
menarik:
harga sudah membaik, tetapi asing
belum benar-benar kembali.
Artinya kekuatan IHSG dalam beberapa
waktu terakhir masih banyak ditopang oleh demand domestik. Ini tidak jelek,
tetapi supaya rally lebih sehat dan lebih panjang, kita tetap membutuhkan
foreign flow yang mulai berubah dari sell menjadi buy.
Untuk pekan ini saya melihat IHSG
cenderung positif tetapi tidak cocok terlalu agresif, karena ada dua
kelompok sentimen yang saling tarik-menarik.
Dari domestik, katalisnya cukup
konstruktif:
a) RAPBN 2027
relatif disiplin
b) target
pertumbuhan 6%
c) DSI
semakin diperjelas bukan eksportir tunggal
d) reformasi
BUMN
e) hilirisasi
f)
reformasi pasar modal
g) rupiah
membaik
h) RDG BI
akan berlangsung pekan ini
Tetapi dari global:
a) yield
obligasi Jepang terus naik
b) risiko
carry trade mulai perlu diperhatikan
c) yield
obligasi AS masih tinggi
d) China
menunjukkan perlambatan
e) pasar
menunggu FOMC Minutes
Jadi secara sederhana, domestik
mulai memberi alasan untuk percaya diri, tetapi kondisi global belum
benar-benar tenang.
1. Analisa teknikal IHSG
Ada tiga level utama yang menurut saya
paling penting:
a) Support
pertama: 6.400
b) Support
utama: 6.220
c) Resistance
utama: 6.540
IHSG sekarang sedang berada tepat di
area 6.400. Area ini penting karena sebelumnya merupakan resistance, dan
sekarang sedang dicoba untuk diubah menjadi support.
Skenario pertama: 6.400 bertahan
Kalau indeks mampu bertahan di atas
6.400, saya melihat peluang pengujian ke 6.500–6.540 cukup terbuka. Kalau
6.540 berhasil ditembus dengan volume transaksi yang sehat, struktur rebound
akan semakin kuat dan ruang menuju area 6.650–6.700 mulai terbuka. Ini
akan menjadi perkembangan positif karena pasar tidak hanya membentuk rebound,
tetapi mulai membangun pola: higher low → higher high. yang menjadi
dasar perubahan struktur tren.
Skenario kedua: 6.400 gagal
dipertahankan
Kalau IHSG turun lagi di bawah 6.400,
itu belum otomatis membuat market bearish. Area berikutnya yang menurut saya
jauh lebih penting adalah 6.220. Selama 6.220 masih bertahan, koreksi
masih bisa dibaca sebagai normal pullback setelah kenaikan. Tetapi kalau 6.220
ikut ditembus dengan volume jual besar, momentum pemulihan mulai kehilangan
tenaga dan area 6.000–6.100 bisa kembali diuji.
Bagaimana dengan tren besarnya?
Perbaikan short-term sudah terlihat. Harga
sudah bergerak di atas MA20 dan MA50, sementara MA20 mulai menanjak. Ini
menunjukkan momentum jangka pendek sudah jauh lebih sehat dibanding Mei–Juni. Tetapi
MA200 masih berada jauh di atas harga dan masih menurun. Jadi saya belum
menganggap IHSG sudah kembali ke bull market besar.
Catatan : short-term mulai bullish,
tetapi tren besar masih dalam tahap recovery.
2. View dari sisi volume
Bagian volume justru cukup menarik. Rata-rata
volume mulai naik dibanding periode konsolidasi Juli. Ketika IHSG bergerak
mendekati 6.400, aktivitas transaksi juga meningkat. Ini memberi tanda bahwa
market mulai kembali aktif. Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang
membeli. Karena pada saat IHSG naik kuat Jumat lalu, asing masih mencatat
net sell cukup besar.
Artinya kemungkinan besar banyak
supply asing sedang diserap oleh investor domestik. Menurut saya ada dua sisi
dari kondisi ini.
Sisi positifnya:
a) seller
asing bisa menjual tetapi indeks tidak jatuh
b) berarti
ada demand yang mampu menyerap supply
c) tekanan
jual tidak lagi memiliki efek sebesar beberapa bulan lalu
Tetapi sisi yang masih perlu
diperhatikan:
a) rally yang
hanya ditopang domestik biasanya lebih sulit berkembang menjadi rally
institusional besar
b) breakout
akan jauh lebih berkualitas kalau foreign flow ikut berbalik
Jadi pekan ini saya akan memperhatikan
kombinasi: IHSG > 6.400 + volume naik + foreign net buy. Kalau
ketiganya muncul bersamaan, probabilitas breakout 6.540 jauh lebih kuat.
3. Katalis paling penting: keputusan
Bank Indonesia
RDG Bank Indonesia berlangsung 18–19
Agustus 2026. BI Rate saat ini berada di 5,75% setelah kenaikan suku
bunga yang cukup agresif beberapa bulan terakhir. Base case saya, BI kemungkinan masih akan
menjaga pendekatan yang konservatif karena rupiah memang sudah membaik, tetapi
risiko eksternal belum selesai.
Posisi JISDOR pada 14 Agustus sudah
membaik ke sekitar Rp17.836 per dolar AS, jauh lebih baik dibanding
ketika rupiah sempat mengalami tekanan berat beberapa bulan lalu. Inflasi Juli
juga berada di 2,88% yoy, masih di dalam target BI. Ini memberi BI ruang yang sedikit lebih
nyaman. Tetapi menurut saya, pasar bukan hanya akan melihat apakah BI Rate naik
atau tetap. Fokusnya justru tone BI mengenai rupiah dan independensi
kebijakan moneter.
Ada faktor tambahan yang cukup
sensitif. Perry Warjiyo sebelumnya mengundurkan diri dan Destry Damayanti saat
ini menjadi kandidat tunggal gubernur BI. Destry dipandang memiliki pengalaman
pasar yang kuat dan orientasi stabilitas, tetapi investor masih memperhatikan
batas antara koordinasi fiskal-moneter dan independensi bank sentral.

Jadi:
Kalau BI tetap disiplin
a) rupiah
lebih mudah stabil
b) confidence
investor membaik
c) yield SBN
lebih terkendali
d) big banks
bisa mendapat sentimen positif
e) IHSG punya
peluang mempertahankan 6.400
Kalau pasar membaca BI terlalu cepat
pro-growth
Terutama kalau dilakukan ketika risiko
global masih tinggi:
a) kekhawatiran
independensi BI bisa muncul lagi
b) rupiah
berisiko melemah
c) risk
premium Indonesia naik
d) foreign
flow kembali tertekan
Jadi saya melihat RDG BI sebagai
agenda domestik paling penting minggu ini.
4. Pidato Prabowo memberikan katalis
domestik baru
Pidato 14 Agustus memang menunjukkan ada banyak kebijakan yang bisa menjadi
narrative market beberapa bulan ke depan: DSI, hilirisasi, reformasi BUMN,
pasar modal, MBG, swasembada energi dan pangan. Tetapi menurut saya tidak semuanya akan
langsung menggerakkan IHSG minggu ini. Ada beberapa poin yang menurut saya
benar-benar layak diperhatikan.

RAPBN 2027: target pertumbuhan 6%,
tetapi defisit tetap dijaga
Pemerintah merencanakan:
a) belanja
negara sekitar Rp4.097,2 triliun
b) pendapatan
negara sekitar Rp3.426 triliun
c) pembiayaan
Rp671,2 triliun
d) defisit
sekitar 2,40% PDB
e) target
pertumbuhan ekonomi 6%
f)
inflasi 2,5%
g) asumsi
rupiah Rp17.500/USD
h) yield SBN
10 tahun 6,9%
Menurut saya kombinasi pertumbuhan
tinggi + defisit tetap di bawah 3% adalah pesan yang cukup positif untuk
market.
Kenapa? Karena beberapa bulan lalu
salah satu ketakutan terbesar investor adalah:
pertumbuhan dikejar terlalu agresif →
belanja membengkak → defisit naik → yield SBN naik → rupiah tertekan.
RAPBN yang sekarang disampaikan
mencoba menunjukkan bahwa pemerintah masih ingin agresif terhadap pertumbuhan
tetapi tetap menjaga disiplin fiskal. Tetapi sekali lagi, market selanjutnya
akan menunggu eksekusinya, bukan targetnya saja.
5. DSI tidak menjadi eksportir
tunggal: ini penting
Ini menurut saya salah satu bagian
pidato yang cukup relevan untuk mengurangi ketakutan market. Narasi terbaru
menjelaskan bahwa DSI akan menjadi titik processing dan monitoring ekspor,
bukan mengambil alih kontrak dan bukan menjadi satu-satunya perusahaan yang
melakukan ekspor komoditas. Fokusnya adalah transparansi harga dan
mengurangi praktik under-invoicing.

DSI telah memonitor lebih dari 6.000
transaksi tiga komoditas dan mengelola sekitar US$14 miliar devisa ekspor,
dengan indikasi potensi tambahan devisa sekitar US$5 miliar dari penyesuaian
harga dan penerimaan ekspor.

Kenapa ini penting? Karena
kekhawatiran sebelumnya adalah: DSI menjadi eksportir tunggal → kontrak
perusahaan terganggu → cash flow berubah → pricing tidak efisien → saham
komoditas ditekan.
Sekarang narasinya berubah menjadi: DSI
monitoring → eksportir tetap melakukan transaksi → pricing lebih transparan →
devisa lebih banyak masuk ke sistem domestik.
Ini jauh lebih market-friendly. Sektor
yang terkait. Yang paling relevan:
a) batu bara
b) CPO
c) ferroalloy
d) nikel
e) timah
f)
mineral lainnya ke depan
Untuk saham seperti PTBA, AADI,
ITMG, ANTM, INCO, TINS serta emiten CPO, kebijakan ini bisa menjadi katalis
positif bila meningkatkan transparansi tanpa mengganggu cash flow. Tetapi tetap
perlu diperhatikan biaya kepatuhan dan detail implementasinya.
6. Bursa Mineral dan Komoditas
Strategis
Pemerintah menargetkan Bursa
Mineral dan Komoditas Strategis mulai beroperasi 1 Januari 2027, dengan
aturan ditargetkan terbit paling lambat 17 September 2026. Tujuan utamanya
membentuk Indonesia Reference Price agar Indonesia tidak hanya menjadi price
taker untuk komoditasnya sendiri.

Menurut saya ini bukan katalis
langsung untuk IHSG empat hari ke depan.
Tetapi secara narrative, ini penting
untuk sektor:
a) timah
b) nikel
c) emas
d) batu bara
e) CPO
f)
komoditas strategis lainnya
Yang mungkin diuntungkan adalah pemain
legal, berskala besar, memiliki cadangan yang jelas dan tata kelola yang baik. Contohnya:
TINS, ANTM, INCO, PTBA dan beberapa pemain komoditas besar lainnya.
7. TINS menjadi salah satu proxy
kebijakan yang menarik
Pemerintah juga menekankan penertiban
pertambangan ilegal, termasuk penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal
di Bangka Belitung.

Logikanya cukup sederhana.
Sebelumnya: tambang ilegal banyak →
supply tidak tercatat → harga rusak → produksi perusahaan legal tertekan.
Kalau aktivitas ilegal dikurangi: supply
ilegal turun → transaksi lebih transparan → pemain legal mendapatkan playing
field yang lebih baik.
Itu sebabnya saya melihat TINS bukan
hanya cerita harga timah, tetapi juga cerita normalisasi struktur
industrinya. Namun jangan langsung menyimpulkan semua kebijakan pemerintah
otomatis membuat laba perusahaan naik. Harga timah, produksi, biaya, capex, dan
eksekusi operasional tetap menjadi faktor utama.
Dan tentunya kita udah bahas TINS jauh
hari sebelum berita ini keluar di ROADMAP yang kita share bulan JUNI lalu.

8. Reformasi BUMN: yang kuat
berpotensi semakin kuat
Pemerintah menyatakan sudah menutup 290
BUMN yang dinilai tidak produktif, dengan target jumlah BUMN maksimal
sekitar 300 pada akhir 2026. Pemerintah juga menargetkan dividen BUMN 2026
sekitar Rp200 triliun.

Pandangan saya, ini positif untuk
sentimen BUMN yang memang:
a) profitable
b) punya cash
flow
c) mampu
membayar dividen
d) memiliki
balance sheet sehat
Market akan semakin membedakan: BUMN
yang benar-benar menghasilkan cash versus BUMN yang hanya punya aset
besar tetapi arus kas lemah.
Nama seperti big banks, PTBA, TLKM
atau beberapa perusahaan komoditas BUMN akan lebih mudah mendapat perhatian
dibanding BUMN yang masih membutuhkan restrukturisasi berat.
9. MBG tetap jalan, tetapi fokusnya
efisiensi
Presiden menegaskan program MBG tetap
dilanjutkan, tetapi dengan perbaikan dan efisiensi. Untuk market,
menurut saya kalimat efisiensi justru penting.

Pasar tidak mempermasalahkan program
sosial selama:
a) anggaran
terkendali
b) tidak
membuat defisit melebar drastis
c) spending
multiplier jelas
d) kebocoran
dikurangi
Kalau MBG dapat dijalankan lebih
efisien, tekanan terhadap persepsi fiskal justru berkurang. Jadi katalisnya
bukan sekadar MBG lanjut atau tidak. Fokusnya : berapa anggarannya, seberapa
efektif penggunaannya, dan bagaimana dampaknya terhadap APBN.
10. Jepang mulai menjadi risiko global
yang harus diperhatikan
Ini menurut saya salah satu sentimen
global yang masih sering diremehkan. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 30
tahun sudah berada di sekitar 4%, bahkan data 17 Agustus menunjukkan
sekitar 4,08%. Yield JGB 10 tahun juga mencapai sekitar 2,93%, tertinggi
dalam sekitar tiga dekade.

Kenapa ini relevan untuk IHSG? Karena
selama bertahun-tahun Jepang menjadi salah satu sumber pendanaan murah dunia. Konsep
carry trade sederhananya:
pinjam yen dengan bunga sangat murah →
dananya dipindahkan ke saham, obligasi, atau mata uang lain yang memberikan
return lebih tinggi.
Masalahnya sekarang BOJ sudah tidak
lagi berada di era bunga mendekati nol. Suku bunga deposito BOJ sudah berada di
sekitar 1%, dan pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan
lebih lanjut.
Ketika biaya pinjam yen naik: carry
trade menjadi kurang menarik.
Kalau posisi tersebut mulai ditutup: investor
jual aset berisiko → beli kembali yen → volatilitas global meningkat.
Dan aset emerging market seperti
Indonesia bisa ikut terkena. Tetapi saya tidak melihat yield JGB 4% otomatis
berarti crash. Perlu di waspadai yaitu beberapa kombinasai :
a) JGB yield
melonjak cepat
b) yen
menguat tajam
c) leverage
global mulai dikurangi
d) pasar
saham dunia ikut turun
Kalau itu terjadi bersamaan, baru
risiko carry trade unwind menjadi serius.
11. Data Jepang hari Jumat menjadi
lebih penting dari biasanya
Jepang akan merilis CPI Juli pada
Jumat, 21 Agustus. Jadwal ini sudah dikonfirmasi oleh Statistics Bureau
Jepang.

Ini penting karena:
Inflasi Jepang lebih tinggi
a) ekspektasi
BOJ hike naik
b) JGB yield
berpotensi naik
c) yen
berpotensi menguat
d) risiko
carry trade unwind meningkat
Inflasi lebih jinak
a) tekanan
terhadap BOJ berkurang
b) yield
Jepang berpotensi lebih tenang
c) sentimen
risk asset lebih nyaman
Jadi minggu ini bukan hanya soal The
Fed. BOJ mulai kembali relevan untuk emerging market.
12. China justru memberi sentimen yang
kurang bagus

Karena Bursa Indonesia libur pada
Senin, data China yang keluar 17 Agustus baru akan benar-benar dicerna IHSG
pada Selasa. Data Juli menunjukkan:
a) industrial
production tumbuh 4,5% yoy, melambat dari 5,3%
b) retail
sales hanya tumbuh 0,6%, turun dari 1%
c) fixed
asset investment Januari–Juli turun 6,7%
Ini menunjukkan ekonomi China masih
kehilangan momentum. Untuk IHSG dampaknya terutama ke sektor:
a) metal
b) coal
c) industrial
d) commodity
cyclicals
Tetapi ada sisi lain. Data yang
terlalu lemah juga bisa meningkatkan ekspektasi stimulus baru dari Beijing. Jadi
China minggu ini bisa memberikan dua fase: data lemah → commodity sentiment
tertekan
Kemudian jika stimulus muncul: risk
appetite China-related asset bisa pulih.
13. FOMC Minutes: jangan hanya lihat
The Fed naik atau tidak
The Fed akan merilis minutes rapat
28–29 Juli pada Rabu, 19 Agustus pukul 14.00 waktu AS, sehingga dampak
penuhnya baru akan masuk ke perdagangan IHSG Kamis pagi, 20 Agustus WIB.
Catatan :
a) seberapa
besar kekhawatiran Fed terhadap inflasi
b) bagaimana
Fed melihat harga energi
c) apakah
kenaikan bunga masih dianggap perlu
d) apakah
anggota Fed mulai khawatir pertumbuhan melambat
Data konsumsi AS terbaru mulai
menunjukkan pendinginan, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga September ikut
berkurang. Tetapi harga energi dan geopolitik masih menjadi risiko inflasi.
Kalau minutes lebih dovish: UST
yield turun → USD melemah → EM lebih menarik → positif untuk IHSG.
Kalau lebih hawkish: yield naik →
USD kuat → foreign inflow lebih sulit → IHSG tertahan.
What to Watch? 18–21 Agustus 2026
Selasa, 18 Agustus
Indonesia
a) Bursa
kembali buka setelah libur 17 Agustus
b) Hari
pertama RDG Bank Indonesia
c) Market
mencerna RAPBN 2027 dan pidato Prabowo
d) Market
juga baru mencerna data China yang lemah
Amerika Serikat
a) Industrial
Production Juli dari The Fed
b) Import
& Export Price Indexes Juli
Menurut saya Selasa bisa cukup
volatile karena banyak informasi tiga hari terakhir baru masuk sekaligus. Patokan
pertama: apakah 6.400 bisa dipertahankan.
Rabu, 19 Agustus
Indonesia
Ini menjadi hari domestik terpenting.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya BI
Rate, tetapi:
a) outlook
rupiah
b) inflasi
c) foreign
flow
d) kebijakan
SRBI
e) likuiditas
perbankan
f)
arah kebijakan di bawah transisi kepemimpinan
BI
Amerika Serikat
a) FOMC
Minutes keluar malam waktu AS.
Dampak terbesarnya ke IHSG kemungkinan
baru terasa Kamis.
Kamis, 20 Agustus
Hari ini market Indonesia akan
mencerna FOMC Minutes.
a) Pantau:
b) UST 10Y
c) DXY
d) USD/IDR
e) foreign
flow
f) big banks
Kalau yield AS turun dan rupiah
menguat, peluang IHSG menguji 6.540 semakin besar. Kalau yield melonjak, jangan
kaget kalau market melakukan profit taking.
Jumat, 21 Agustus
Jepang
Ini data yang menurut saya cukup
penting karena pasar sedang sangat sensitif terhadap JGB yield dan kemungkinan
normalisasi BOJ. Kalau CPI Jepang lebih panas, pasar bisa kembali
memperhitungkan kenaikan bunga BOJ lebih cepat. Untuk IHSG, efeknya tidak
langsung, tetapi bisa melalui: JGB yield → yen → carry trade → global
liquidity → emerging market.
Base Case IHSG
Skenario yang paling mungkin menurut
saya adalah IHSG bergerak dalam rentang:
6.220–6.540
Dengan kecenderungan mencoba kembali
area atas.
Alasannya:
a) momentum
teknikal membaik
b) harga
sudah di atas MA20 dan MA50
c) kebijakan
domestik cukup suportif
d) rupiah
mulai membaik
e) tetapi
asing masih net sell
f)
BI masih harus defensif
g) yield
global masih tinggi
h) risiko
Jepang mulai meningkat
i)
China sedang melambat
Jadi saya belum melihat kondisi untuk
rally lurus tanpa koreksi.
Bull Case
Bull case mulai kuat apabila:
a) 6.400
bertahan
b) BI tidak
memberi kejutan negatif
c) rupiah
tetap di bawah Rp18.000/USD
d) foreign
sell mulai mengecil
e) FOMC
Minutes tidak terlalu hawkish
f)
yield AS turun
g) JGB yield
tidak melonjak lagi
h) IHSG
breakout 6.540 dengan volume besar
Kalau itu terjadi, area berikutnya
yang saya lihat: 6.650–6.700
Kemudian barulah market mulai memiliki
ruang menuju area resistance yang lebih tinggi.
Fokusnya : breakout 6.540 harus
disertai volume.
Kalau tidak, false breakout tetap
mungkin.
Bear Case
Skenario negatif terjadi apabila:
a) BI memberi
sinyal yang membuat confidence rupiah menurun
b) rupiah
kembali melemah
c) FOMC
Minutes lebih hawkish
d) yield US
Treasury naik
e) yield
Jepang melonjak dan yen menguat cepat
f)
foreign sell kembali membesar
g) IHSG gagal
mempertahankan 6.400
Kalau 6.400 hilang, target pengujian
pertama berada di: 6.220
Kalau 6.220 ikut jebol: 6.000–6.100
kembali menjadi area yang perlu diperhatikan.
Sector View
1. Bank
Saya masih melihat perbankan sebagai
salah satu kunci IHSG.
Katalisnya:
a) RAPBN 2027
pro-growth
b) target
pertumbuhan ekonomi 6%
c) potensi
peningkatan kredit
d) DHE dan
aktivitas DSI berpotensi menambah dana yang berputar di sistem domestik
e) rupiah
membaik
Tetapi tantangannya:
a) BI Rate
5,75% masih tinggi
b) cost of
fund
c) foreign
ownership
d) NIM
Jadi big banks akan menjadi indikator
bagus untuk membaca apakah foreign confidence benar-benar mulai pulih.
2. Tambang dan hilirisasi
Ini salah satu sektor yang mendapatkan
narrative paling kuat dari kebijakan pemerintah.
Yang saya cermati:
TINS, ANTM, INCO, PTBA dan beberapa
pemain komoditas besar lainnya.
Katalis:
a) hilirisasi
b) penindakan
tambang ilegal
c) DSI
d) Commodity
Exchange
e) Indonesia
Reference Price
f)
transparansi ekspor
Tetapi jangan hanya mengejar
narrative. Tetap lihat:
a) harga
komoditas
b) produksi
c) margin
d) capex
e) cash flow
3. Energi
Agenda swasembada energi masih menjadi
kebijakan strategis pemerintah. Sektor migas, energi baru, kelistrikan, serta
industri pendukung berpeluang memperoleh investasi. Tetapi saham energi tetap
sangat bergantung pada harga minyak dan kondisi geopolitik.
4. Consumer
Target pertumbuhan ekonomi yang lebih
tinggi dan kelanjutan program sosial berpotensi menjaga konsumsi. Tetapi saya
akan lebih selektif. Cari perusahaan yang:
a) volume
penjualannya tumbuh
b) margin
tidak tertekan
c) punya
pricing power
d) utangnya
rendah
5. Infrastruktur dan kawasan industri
Hilirisasi membutuhkan:
a) listrik
b) jalan
c) pelabuhan
d) kawasan
industri
e) logistik
f) warehouse
Secara narrative sektor ini mendapat
angin. Tetapi perusahaan konstruksi tidak langsung menjadi pemenang.
Yang penting tetap: proyek
menghasilkan cash atau justru menambah utang.
Lima hal yang saya gunakan untuk
membaca market minggu ini
Kalau semua informasi ini terasa
terlalu banyak, saya sederhanakan menjadi lima faktor:
1. Earnings
Apakah laba perusahaan benar-benar
tumbuh?
2. Likuiditas
Apakah asing dan institusi mulai
membeli?
3. Valuasi
Apakah harga saham masih masuk akal
dibanding laba?
4. Suku bunga
Apa yang dilakukan BI, Fed, dan BOJ?
5. Sentimen
Bagaimana RAPBN, geopolitik, China,
dan reformasi pemerintah dibaca oleh pasar?
Kalau lima faktor ini sebagian besar
membaik, market biasanya ikut membaik.
Apa yang sebaiknya dilakukan trader?
Pandangan saya, trader sudah bisa
sedikit lebih aktif dibanding Mei–Juni, tetapi jangan kehilangan disiplin
karena IHSG sudah naik cukup jauh dari bottom.
Fokus saya:
a) jangan
FOMO saat market gap up Selasa
b) lihat
apakah 6.400 benar-benar bertahan
c) tambah
agresivitas kalau 6.540 breakout dengan volume
d) pilih
saham yang sudah membuat higher low
e) prioritaskan
saham yang volume dan transaksinya meningkat
f)
hindari saham yang sudah naik terlalu vertikal
g) perhatikan
foreign flow di big banks
h) hati-hati
menjelang hasil BI dan FOMC Minutes
Kalau IHSG masih di bawah 6.540,
menurut saya pendekatan yang paling tepat masih: buy on weakness dan
selective trading. Bukan mengejar seluruh saham yang hijau.
Apa yang sebaiknya dilakukan investor?
Untuk investor, kondisi sekarang
berbeda dibanding saat IHSG masih panic selling di 5.300-an. Harga sudah
rebound cukup jauh. Jadi fokus seharusnya mulai berubah dari: sekadar
mencari saham murah
Jadi : mencari perusahaan yang
earnings-nya mampu mengikuti kenaikan harga saham.
Pendekatan yang menurut saya lebih
sehat:
a) tetap
masuk bertahap
b) jangan all
in
c) pertahankan
perusahaan dengan earnings kuat
d) tambah
ketika valuasi dan harga masih masuk akal
e) gunakan
koreksi market untuk akumulasi
f)
hindari mengejar narrative tanpa kontribusi
laba
g) sisakan
cash untuk volatilitas global
Untuk tema pemerintah seperti
hilirisasi, BUMN, energi, DSI dan commodity exchange, saya lebih suka
perusahaan yang sudah memiliki bisnis dan cash flow nyata daripada sekadar
saham yang namanya terkait dengan tema tersebut.
Kesimpulan sederhana
Pandangan saya untuk IHSG 18–21
Agustus 2026 adalah positif hati-hati. Secara teknikal, recovery semakin
sehat. Area 6.400 sedang diuji untuk menjadi support baru, MA20 dan MA50 mulai
mendukung kenaikan, dan volume mulai membaik. Tetapi masih ada satu hal yang
belum lengkap: foreign flow belum ikut mengonfirmasi.
Patokannya :
a) 6.400
bertahan → peluang ke 6.540 masih terbuka.
b) 6.540
breakout + volume besar + asing mulai masuk → recovery naik kelas.
c) 6.400
gagal → kembali uji 6.220.
Dari sisi domestik, saya melihat
sentimen jauh lebih konstruktif setelah RAPBN 2027 menunjukkan target
pertumbuhan 6% dengan defisit tetap dijaga 2,4%. Klarifikasi bahwa DSI lebih
berfungsi sebagai monitoring dan processing, bukan mengambil alih perdagangan
eksportir, juga mengurangi salah satu ketakutan besar pasar. Namun minggu ini bukan hanya soal Indonesia. Yang
harus benar-benar diperhatikan justru tiga bank sentral besar secara tidak
langsung: BI melalui keputusan 19 Agustus, The Fed melalui FOMC Minutes, dan
BOJ melalui pergerakan yield Jepang serta CPI 21 Agustus.
Kalau kombinasi akhirnya menjadi: rupiah
stabil + UST yield turun + JGB yield stabil + foreign sell mengecil
saya melihat probabilitas IHSG
menembus 6.540 mulai semakin menarik. Tetapi kalau yield global kembali
naik dan rupiah melemah, jangan memaksakan bullish hanya karena kebijakan
domestik terlihat bagus. Market pada akhirnya tetap kembali ke tiga hal:
earnings, liquidity, dan confidence.
Thank you & Good luck!
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang