Cerita WIFI pada 2026 sudah
berubah cukup jauh. Tahun lalu pasar banyak membicarakan soal frekuensi 1:4
GHz, rights issue, pembangunan backbone, dan potensi Internet Rakyat. Sekarang
sebagian cerita tersebut sudah masuk fase operasional.

Jadi.. seberapa cepat
seluruh infrastruktur dan pelanggan baru tersebut dapat berubah menjadi
pendapatan, laba, dan arus kas yang berulang. Ini yang menurut saya akan
menentukan fase berikutnya dari WIFI.
Gambaran besarnya
Ada beberapa poin yang
paling penting untuk memahami posisi WIFI sekarang:
a)
pasar fixed broadband Indonesia masih
mempunyai ruang pertumbuhan besar
b)
WIFI sudah memiliki spektrum 1,4 GHz yang
memberikan jalur khusus untuk mengembangkan FWA
c)
Internet Rakyat sudah masuk fase komersial
dan jumlah penggunanya mulai bertambah
d)
pertumbuhan pendapatan dan laba semester
I/2026 sudah mulai membuktikan ekspansi tersebut
e)
tetapi target ekspansinya sangat agresif
sehingga kebutuhan capex, kualitas jaringan, dan persaingan harga menjadi
risiko utama
f)
langkah masuk ke konstruksi telekomunikasi
membuka sumber pendapatan baru, tetapi menurut saya belum perlu dihargai besar
sebelum order book-nya terlihat.
Kenapa bisnis internet rumah
masih menarik?
Indonesia sebenarnya sudah
memiliki penetrasi internet yang tinggi, tetapi struktur aksesnya belum merata.
Jangkauan fixed broadband
pada 2024 baru sekitar 70,88% wilayah permukiman. Sekitar 24,5 juta rumah
tangga juga belum menggunakan layanan fixed broadband. Sementara penetrasi
jaringan 5G masih jauh lebih kecil dibandingkan jaringan mobile broadband
secara keseluruhan.

Menurut saya, di sinilah
peluangnya.
Masalah Indonesia bukan
sekadar masyarakat belum mengenal internet. Sebagian besar sudah menggunakan
internet melalui smartphone. Masalahnya adalah belum semua rumah mempunyai
koneksi broadband tetap yang cepat dan murah. Itulah pasar yang sedang
diperebutkan oleh WIFI, MORA/MyRepublic, Telkomsel, Indosat, dan operator
lainnya.

FWA menjadi menarik karena
operator tidak perlu menarik kabel fiber sampai ke setiap rumah. Backbone tetap
dibutuhkan, tetapi bagian terakhir menuju pelanggan dapat dikirim menggunakan
jaringan radio.
Secara sederhana:
fiber menjadi jalan tol
utamanya, FWA menjadi akses keluar menuju rumah pelanggan. Model
seperti ini memungkinkan ekspansi lebih cepat daripada membangun FTTH
sepenuhnya dari nol.
Frekuensi 1,4 GHz adalah
aset strategis WIFI
Anak usaha WIFI, PT
Telemedia Komunikasi Pratama, secara resmi memenangkan seleksi frekuensi 1,4
GHz Regional I.

Regional tersebut mencakup
sebagian besar Jawa, Maluku, dan Papua. Telemedia memperoleh satu blok spektrum
80 MHz pada rentang 1432–1512 MHz dengan masa izin 10 tahun. Keputusan
pemenangnya sudah final dari Komdigi.
Menurut saya, ini salah satu
aset terpenting dalam thesis WIFI. Spektrum tersebut memberi perusahaan
kapasitas untuk membangun jaringan FWA tanpa harus bergantung sepenuhnya pada
fiber sampai rumah. Yang menarik, WIFI sudah mempunyai backbone fiber yang
cukup panjang. Jadi strateginya bukan memilih antara fiber atau wireless.
Justru keduanya digabungkan:
backbone fiber + wireless last mile.
Kalau model ini berhasil,
biaya untuk menghubungkan pelanggan baru bisa menjadi lebih efisien dan
deployment jauh lebih cepat.
Internet Rakyat sudah
berubah dari story menjadi bisnis
Internet Rakyat menawarkan
internet rumah sekitar Rp100.000 per bulan dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Target
WIFI memang sangat agresif: sekitar 5.500 site pada 2026 dan potensi menjangkau
hingga 5 juta pelanggan FWA.

Yang penting sekarang, kita
sudah bisa melihat progres awal.
Pada 31 Maret 2026, pengguna
Internet Rakyat sudah mencapai lebih dari 209.000 pelanggan. Pada akhir Juni 2026, jumlah pelanggan FWA
sudah meningkat menjadi 513.040 pelanggan, sementara pelanggan FTTH
mencapai sekitar 1,85 juta.

Jadi dalam waktu relatif
singkat setelah komersialisasi, basis pelanggan FWA sudah tumbuh cukup cepat. Pada
Mei, jaringan IRA juga telah mempunyai lebih dari 550 site aktif dan 3.189
radio unit yang tersebar di lebih dari 82 kota/kabupaten.

Menurut saya, angka
pelanggan ini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah site. Site adalah
infrastruktur. Pelanggan adalah monetisasi. Dan setelah pelanggan masuk,
indikator berikutnya yang perlu dilihat adalah ARPU, churn, biaya akuisisi
pelanggan, utilisasi site, dan penerimaan kas.
Laporan semester I/2026
mulai memperlihatkan hasilnya
Ini bagian yang menurut saya
paling penting. Pendapatan WIFI pada semester I/2026 mencapai sekitar Rp1,57
triliun, tumbuh 206% YoY. Segmen telekomunikasi bahkan tumbuh sekitar 357%
dan sudah menjadi kontributor pendapatan terbesar perusahaan.

Bandingkan dengan pendapatan
satu tahun penuh 2025 sebesar sekitar Rp1,65 triliun. Artinya, hanya dalam enam
bulan pertama 2026, skala pendapatan WIFI sudah hampir menyamai pendapatan
sepanjang tahun sebelumnya. Pendapatan 2025 sendiri tumbuh sangat tinggi dari
sekitar Rp671,85 miliar pada 2024.
Laba yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham induk pada semester I/2026 mencapai sekitar
Rp331,2 miliar, naik 45% YoY. EBITDA juga meningkat menjadi sekitar
Rp948,9 miliar.
Menurut saya, ini membuat
cerita WIFI sekarang jauh lebih konkret. Dulu investor membeli ekspektasi
pertumbuhan. Sekarang pertumbuhannya sudah mulai terlihat di income statement.
Tetapi ada satu angka yang
justru perlu diperhatikan: margin
Di tengah pertumbuhan EBITDA
yang sangat tinggi, margin EBITDA turun dari sekitar 85,2% pada semester I/2025
menjadi 60,4% pada semester I/2026. Saya tidak melihat ini langsung sebagai
sesuatu yang buruk. Perusahaan sedang memperbesar jaringan, mengakuisisi
pelanggan, mengoperasikan FWA, dan mengembangkan FTTH. Secara alami biaya akan
meningkat.
Tetapi ini menjadi indikator
penting. Yang ingin kita lihat ke depan adalah:
pendapatan terus naik
→ pelanggan bertambah → utilisasi jaringan meningkat → kemudian margin stabil
atau mulai membaik.
Kalau pendapatan naik tetapi
margin terus turun, kualitas pertumbuhannya perlu dipertanyakan. Sebaliknya,
kalau pertumbuhan pelanggan bertahan dan margin mulai stabil, operating
leverage WIFI akan menjadi jauh lebih menarik.
Neracanya sekarang jauh
lebih siap untuk ekspansi
WIFI menghabiskan sekitar Rp1,18
triliun capex pada semester pertama 2026. Namun posisi kas dan setara kas
mencapai sekitar Rp8,29 triliun setelah berbagai aktivitas pendanaan. Net debt sekitar Rp1,77 triliun, atau kurang
lebih 0,9 kali EBITDA tahunan. Jadi
menurut saya, ekspansi WIFI memang sangat capital intensive, tetapi perusahaan
saat ini mempunyai likuiditas yang jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun
sebelumnya.
Rights issue senilai sekitar
Rp5,9 triliun juga diarahkan untuk mempercepat implementasi Internet Rakyat. Yang perlu dinilai sekarang bukan lagi apakah
perusahaan bisa mendapatkan modal.
Pertanyaan berikutnya: berapa
besar return yang dihasilkan dari modal tersebut?
Karena membangun 5.500 site
bukan prestasi ekonomi apabila utilisasinya rendah. Site tersebut baru bernilai
ketika pelanggan masuk dan menghasilkan recurring cash flow.
WIFI ternyata tidak hanya
bermain di segmen internet murah
Ini menurut saya cukup
menarik. WIFI sekarang membangun semacam product ladder. Di bawah ada
Internet Rakyat yang mengejar mass market. Kemudian ada layanan Starlite untuk
konsumen yang membutuhkan koneksi lebih cepat.
Pada Juli 2026 perusahaan
meluncurkan Starlite Super menggunakan XGS-PON dan Wi-Fi 7 dengan kecepatan
sampai 2 Gbps.

Jadi perusahaan mulai
membangun beberapa lapisan pasar:
Internet Rakyat → mass
market FTTH reguler → middle market Starlite
Prime/Super → higher-value broadband
Menurut saya ini lebih sehat
daripada hanya berkompetisi lewat harga Rp100.000. Karena perang harga saja
mempunyai batas. Pada akhirnya operator membutuhkan pelanggan dengan ARPU lebih
tinggi supaya return terhadap jaringan yang sudah dibangun tetap menarik.
Persaingan akan semakin
keras
WIFI tidak bermain sendiri.
Komdigi memberikan Regional
II dan Regional III frekuensi 1,4 GHz kepada PT Eka Mas Republik, yang sekarang
berada dalam ekosistem MORA/MyRepublic.
Indosat juga masuk melalui
HiFi Air, sementara Telkomsel memiliki Orbit dan EZnet. Materi yang Anda kirim
menunjukkan masing-masing pemain mulai menyerang segmen berbeda dengan
kombinasi harga, kuota, kualitas jaringan, dan kemudahan instalasi.
MORA juga menjadi lebih kuat
setelah merger dengan MyRepublic. Basis operasionalnya bertambah menjadi lebih
dari 1,8 juta pelanggan dan sekitar 9,7 juta home passed dalam data yang
dikompilasi pada materi tersebut.

Sedangkan Telkom melalui
IndiHome tetap mempunyai basis pelanggan yang jauh lebih besar. Jadi menurut
saya, ini tidak akan menjadi winner takes all market.
Indonesia terlalu besar
untuk hanya satu pemain. Pertarungan sebenarnya akan terjadi pada tiga hal:
harga, kualitas jaringan,
dan biaya memperoleh pelanggan.
Kalau WIFI bisa menawarkan
harga murah tetapi jaringan sering bermasalah, churn akan tinggi. Kalau
kualitas bagus tetapi biaya akuisisinya terlalu mahal, return investasi akan
rendah. Yang dicari adalah keseimbangannya.
Ekspansi ke konstruksi
telekomunikasi: masuk akal, tapi jangan dihitung terlalu cepat
Perkembangan terbaru adalah
rencana WIFI menambah kegiatan usaha KBLI 42206 – konstruksi sentral
telekomunikasi.
Rencana ini akan dibawa ke
RUPSLB, dan model usahanya mencakup pembangunan infrastruktur telekomunikasi
untuk area komersial, residensial, industri, pendidikan, pemerintahan, hingga
proyek B2B. Dokumen keterbukaan perusahaan memang memasukkan kegiatan konstruksi
telekomunikasi tersebut sebagai salah satu lini yang dikaji.

Detail mengenai target
pasarnya lebih lengkap terdapat dalam laporan yang mengutip keterbukaan WIFI ke
BEI. WIFI menargetkan segmen business-to-business (B2B) yang membutuhkan
pembangunan jaringan di banyak lokasi atau multi-site, termasuk kawasan komersial,
residensial, industri, pendidikan, pemerintahan, dan ruang publik. Jadi
pada intinya : WIFI berencana memperluas kegiatan usahanya ke bidang Konstruksi
Sentral Telekomunikasi melalui penambahan KBLI 42206. Rencana tersebut
akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 11 September 2026.
Bisnis baru ini menyasar kebutuhan pembangunan infrastruktur telekomunikasi
B2B, termasuk jaringan multi-site di kawasan komersial, residensial, industri,
pendidikan, pemerintahan, dan ruang publik.
Menurut saya, secara
strategi langkah ini cukup logis. WIFI sudah mempunyai:
backbone → jaringan →
customer → engineering capability.
Dengan masuk ke konstruksi
telekomunikasi, perusahaan mencoba menangkap nilai di bagian lain dari
ekosistem yang selama ini mungkin diberikan kepada kontraktor eksternal.
Potensinya ada dua.
1)
Pertama, menurunkan biaya pembangunan
jaringan internal.
2)
Kedua, menjual kemampuan tersebut kepada
pihak lain sebagai bisnis B2B.
Namun saya belum akan
memasukkan kontribusi besar dari bisnis ini ke proyeksi laba. Studi kelayakan
memang dapat menunjukkan NPV atau payback period yang menarik, tetapi itu masih
forecast.
Yang penting nanti adalah: berapa
nilai kontrak yang benar-benar diperoleh dan berapa marginnya.
Jadi apa sebenarnya story
WIFI sekarang?
Menurut saya, story WIFI
dapat dibagi menjadi empat fase.
Fase pertama: Infrastruktur
Perusahaan membangun
backbone fiber dan akses jaringan.
Fase kedua: Spectrum
WIFI memenangkan Regional I
frekuensi 1,4 GHz.
Fase ketiga: Monetisasi
Internet Rakyat, FTTH dan
Starlite mulai menghasilkan pelanggan serta pendapatan.
Fase keempat: Scale
Ini yang sedang berjalan
sekarang. Perusahaan harus membuktikan bahwa jutaan pelanggan dapat ditambahkan
tanpa membuat biaya, churn, dan capex tumbuh lebih cepat daripada pendapatan. Menurut
saya, fase keempat inilah yang paling menentukan valuasi WIFI berikutnya.
Pengaruh terhadap market
Dari sisi pasar saham, WIFI
sekarang punya kombinasi yang biasanya disukai investor growth:
pertumbuhan pendapatan
tinggi, basis pelanggan meningkat, pasar yang masih luas, aset spektrum
strategis, dan ekspansi produk baru. Karena itu, setiap perkembangan seperti
pertumbuhan pelanggan IRA, tambahan site, ekspansi Starlite, atau kontrak
konstruksi baru dapat menjadi katalis sentimen. Tetapi semakin tinggi
ekspektasi pasar, standar pembuktiannya juga semakin tinggi.
Pasar kemungkinan mulai
melihat indikator yang lebih konkret:
subscriber growth → ARPU →
EBITDA → cash flow.
Bukan lagi hanya jumlah home
pass atau jumlah site. Menurut saya, inilah perubahan penting dalam membaca
WIFI. Pada tahap awal, kenaikan home pass cukup membuat pasar antusias. Sekarang
tidak lagi. Investor perlu melihat apakah rumah yang sudah dijangkau
benar-benar menjadi home connect, lalu menjadi pelanggan yang membayar
secara konsisten.
Risiko utama :
Menurut saya ada empat.
Pertama, target pelanggan
terlalu agresif. Target jutaan pelanggan berarti rollout
semester II harus tetap sangat cepat.
Kedua, perang harga. Indosat,
Telkomsel, MORA/MyRepublic dan pemain lokal juga mengejar pasar yang sama.
Ketiga, margin selama
ekspansi. Penurunan EBITDA margin sudah menunjukkan pertumbuhan
membutuhkan biaya.
Keempat, capex dan kualitas
eksekusi. Jaringan yang besar hanya menghasilkan return jika
utilization-nya tinggi.
Kesimpulan
Menurut saya, WIFI sekarang
jauh lebih menarik untuk dianalisis dibanding satu tahun lalu karena sebagian
besar narasi mulai mempunyai bukti operasional.
1)
Frekuensi 1,4 GHz sudah didapat.
2)
Internet Rakyat sudah komersial.
3)
Pelanggan FWA sudah mencapai lebih dari
setengah juta pada akhir Juni.
4)
FTTH mencapai sekitar 1,85 juta pelanggan.
5)
Pendapatan semester pertama melonjak menjadi
Rp1,57 triliun.
6)
Laba pemegang saham tumbuh.
7)
Dan perusahaan masih mempunyai kas besar
untuk melanjutkan ekspansi.
Namun menurut saya, cerita
WIFI berikutnya bukan lagi tentang “internet murah akan booming.” Itu
terlalu sederhana.
Cerita berikutnya adalah: apakah
WIFI mampu mengubah skala jaringan yang sangat besar menjadi recurring cash
flow dengan margin yang tetap sehat.
Kalau jawabannya iya, WIFI
dapat berubah dari saham bertema ekspansi menjadi perusahaan broadband dengan
earnings visibility yang jauh lebih kuat. Kalau pertumbuhan pelanggan melambat
sementara capex dan biaya tetap tinggi, pasar akan mulai mempertanyakan valuasi
yang diberikan kepada cerita pertumbuhan tersebut.
Jadi inti dari tulisan ini
untuk WIFI :
2025 adalah tahun membangun
cerita.
2026 adalah tahun
membuktikan monetisasi.
2027 nanti kemungkinan
menjadi tahun untuk melihat apakah model bisnis ini benar-benar menghasilkan
return yang sebanding dengan modal yang sudah ditanamkan.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang