Ada satu angka yang menurut saya
cukup menarik untuk memulai pembahasan ini:
204 data center.
Itu adalah jumlah data center di
Indonesia per 31 Juli 2026. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah
satu pasar data center terbesar di Asia Tenggara.

Jadi, apa yang mungkin terjadi
dalam 5–10 tahun ke depan?
Karena kalau investasi AI global
terus berjalan seperti sekarang, data center bukan lagi sekadar cerita sektor
teknologi. Efeknya bisa merembet ke kawasan industri, listrik, fiber optik,
properti, konstruksi, sampai infrastruktur.
Dan Indonesia punya peluang cukup
besar untuk menikmati aliran uang tersebut.
Uang Besar Sedang Masuk ke
Infrastruktur AI
AI membutuhkan komputasi dalam
skala yang sebelumnya sulit dibayangkan. Microsoft, Google, Meta, dan Amazon
mengalokasikan belanja modal dalam jumlah sangat besar untuk membangun data
center, server, GPU, jaringan, dan infrastruktur pendukung AI.

Amazon menargetkan sekitar US$200
miliar CapEx pada 2026. Alphabet memperkirakan US$180–190 miliar, dengan
mayoritas dialokasikan untuk technical infrastructure. Meta juga sudah
menaikkan outlook CapEx menjadi US$130–145 miliar. Tiga perusahaan ini saja berarti
berpotensi mengeluarkan sekitar US$510–535 miliar dalam satu tahun.
Dan sebagian besar kenaikan
belanja tersebut berkaitan dengan pembangunan compute capacity, data center,
server, networking, dan infrastruktur untuk memenuhi permintaan AI.
Pertanyaannya : Ke mana uang
sebesar itu akan mengalir?
Amerika Serikat tentu masih
menjadi pusatnya. Tapi perusahaan teknologi global tidak mungkin hanya
mengandalkan satu wilayah. India, Timur Tengah, Eropa, dan Asia Tenggara mulai
mendapat bagian.
Dan menurut saya, Indonesia punya
kombinasi yang cukup menarik: populasi besar, konsumsi digital tinggi, lahan
relatif kompetitif, kebutuhan penyimpanan data yang terus meningkat, serta
pasar domestik yang sangat besar.
Indonesia Bukan Lagi Pasar
Kecil
Nilai pasar data center Indonesia
diperkirakan sekitar US$2,81 miliar pada 2025 dan berpotensi menjadi
sekitar US$6,08 miliar pada 2031. CAGR-nya sekitar 13,7%.

Yang menarik justru dari kebutuhan
listriknya. Kebutuhan kapasitas data center Indonesia diproyeksikan meningkat
dari sekitar 650 MW pada 2024 menjadi sekitar 4.280 MW pada 2035.
Hampir tujuh kali lipat. Dan
perlu diingat, AI membuat kebutuhan listrik per data center semakin besar
karena penggunaan GPU jauh lebih intensif dibanding data center tradisional.
Artinya, kalau gelombang AI terus
berkembang, kebutuhan infrastrukturnya bisa lebih agresif dari proyeksi
sebelumnya.
Investor Sudah Mulai Menaruh
Uang
Ini bukan lagi sebatas proyeksi. Microsoft
mengumumkan investasi sekitar US$1,7 miliar untuk cloud dan AI
infrastructure di Indonesia. Ini menjadi investasi terbesar Microsoft sepanjang
hampir tiga dekade beroperasi di Indonesia.

DAMAC Digital juga membawa
investasi sekitar US$2,3 miliar untuk pengembangan AI-ready data center
di Jakarta. Digital Edge memperoleh fasilitas kredit sekitar US$325 juta
dari BCA untuk mendukung ekspansi data center di kawasan Jakarta.

Batam juga semakin menarik
melalui Nongsa Digital Park karena posisinya yang sangat dekat dengan
Singapura. Jadi menurut saya, pertanyaan hari ini bukan lagi:
Jadi.. "Kalau
pembangunan ini benar-benar terjadi besar-besaran, siapa yang paling banyak
mendapat aliran uangnya?"
Di sinilah ceritanya mulai
menarik.
Data Center Itu Bukan Cuma
Gedung Berisi Server
Untuk membangun data center AI,
perusahaan membutuhkan banyak hal. Butuh lahan. Butuh listrik dalam jumlah
besar. Butuh cooling system. Butuh jaringan fiber. Butuh konstruksi dengan
standar khusus. Butuh sistem keamanan, generator, mechanical & electrical
engineering, sampai koneksi langsung ke internet backbone. Jadi ketika
hyperscaler mengeluarkan US$1 untuk membangun AI infrastructure, uang tersebut
tidak hanya masuk ke operator data center.
Ada supply chain panjang di
belakangnya. Menurut saya, justru di sinilah peluang terbesar di pasar saham
bisa muncul.
Layer 1 — Kawasan Industri
Sebelum membangun data center,
hal pertama yang dibutuhkan adalah lahan yang tepat. Bukan sembarang
tanah. Lokasinya harus punya akses listrik besar, air, fiber optic, jalan,
keamanan, dan idealnya dekat dengan pusat ekonomi. Karena itu kawasan seperti
Cikarang, Bekasi, Karawang, sampai Batam menjadi menarik. Salah satu yang
paling jelas adalah DMAS.
Pada awal 2026, permintaan lahan
industri DMAS sekitar 75 hektare dan lebih dari separuhnya berasal dari sektor
data center.

Ini penting. Artinya data center
mulai menjadi sumber permintaan lahan yang nyata, bukan sekadar potensi. DMAS
juga terkenal sebagai emiten yang cukup royal membagikan dividen. Kalau
penjualan lahan tetap kuat, cash flow dan kemampuan membayar dividen dalam
jangka pendek-menengah tentu menarik untuk diperhatikan.
Selain DMAS, ada SSIA yang
mempunyai kawasan industri di Subang dan Karawang serta berada di jalur
pertumbuhan industri Jawa Barat. Menurut saya, ke depan persaingan kawasan
industri tidak lagi sekadar siapa yang punya tanah paling luas. Yang menang
adalah kawasan yang bisa menyediakan: land + power + water + fiber +
connectivity.
Layer 2 — Listrik Bisa Jadi
Bottleneck Terbesar
Ini justru bagian yang menurut
saya paling menarik. AI itu rakus listrik. Sangat rakus. Satu hyperscale data
center bisa membutuhkan listrik puluhan sampai ratusan MW. Kalau kebutuhan
kapasitas data center Indonesia benar-benar menuju 4.280 MW, berarti ada
kebutuhan energi dalam skala sangat besar yang harus tersedia secara stabil 24
jam. Karena data center tidak boleh mati. Di sinilah perusahaan energi bisa
ikut menikmati pertumbuhan AI tanpa harus menjual satu GPU pun. Salah satu nama
menarik adalah DSSA. DSSA mempunyai kombinasi yang cukup unik karena
berada di ekosistem energi sekaligus digital infrastructure. Mereka menyiapkan
SMX01, AI-ready Tier IV data center di Jakarta bersama LG CNS.

Kapasitas awalnya sekitar 18 MW
dan direncanakan berkembang menuju 60 MW. Yang menarik, kontribusi bisnis
digital terhadap pendapatan DSSA juga terus meningkat.
Menurut saya kombinasi: energy
+ land + data center
adalah posisi yang sangat
strategis. Karena pada akhirnya salah satu hambatan terbesar pertumbuhan data
center bukan hanya ketersediaan tanah. Tapi apakah tersedia listrik yang cukup
besar, stabil, dan kompetitif.
Layer 3 — Land Bank Mendapat
Fungsi Baru
Ini bagian yang mungkin
sebelumnya tidak banyak diperhatikan investor properti. Land bank besar
biasanya dinilai berdasarkan potensi pembangunan rumah, apartemen, mall, atau
kawasan komersial. Sekarang muncul fungsi baru: digital infrastructure. Contohnya
BSDE.

BSDE mempunyai land bank lebih
dari 4.448 hektare, dengan porsi besar berada di kawasan BSD. Lokasi suburban
seperti BSD menarik karena masih relatif dekat dengan Jakarta tetapi mempunyai
ruang pengembangan yang jauh lebih besar. Dalam satu grup, Sinar Mas juga
mempunyai DSSA. Secara sederhana: BSDE punya tanah. DSSA punya exposure
energi dan data center. Kalau ekosistem tersebut benar-benar
diintegrasikan, land bank yang sebelumnya hanya dinilai sebagai aset properti
bisa mendapatkan monetisasi baru dari ekonomi digital.
Layer 4 — Fiber dan
Connectivity
Data center tanpa jaringan
hanyalah bangunan mahal berisi komputer. Server harus terhubung ke pengguna.
Semakin besar traffic AI, semakin
besar pula kebutuhan fiber, backbone, interconnection, tower, dan jaringan
transmisi data. Karena itu saya melihat TLKM, MTEL, dan ISAT sebagai
bagian penting dari ekosistem ini. TLKM mempunyai backbone jaringan nasional. MTEL
tidak lagi hanya bicara tower, tetapi juga memperbesar exposure ke fiber. ISAT
juga agresif membangun positioning sebagai perusahaan teknologi berbasis AI,
termasuk melalui kolaborasi dengan pemain global seperti NVIDIA. Kalau konsumsi
AI meningkat, traffic data juga ikut meningkat. Dan traffic tersebut harus
lewat jaringan.
Layer 5 — Danantara Effect
Ada satu katalis tambahan yang
menurut saya belum banyak dihitung pasar secara penuh. Danantara. Danantara
sudah menunjukkan ketertarikan terhadap pembangunan digital infrastructure,
termasuk proyek data center bernilai besar. Kalau pembangunan AI masuk menjadi
bagian dari agenda strategis nasional, efeknya bisa menyebar ke banyak BUMN.

a) Telekomunikasi.
b) Energi.
c) Konstruksi.
d) Infrastruktur.
e) Pendanaan.
Karena membangun ekosistem data
center nasional tidak bisa dilakukan satu perusahaan sendirian. Kalau Danantara
benar-benar mendorong proyek tersebut, potensi multiplier effect-nya ke
ekosistem BUMN cukup besar.

Layer 6 — Konstruksi dan
Engineering
Data center bukan gudang biasa. Bangunannya
membutuhkan standar sangat tinggi. Cooling harus presisi. Listrik harus
redundant. Generator harus siap ketika sumber utama bermasalah. Sistem pemadam
tidak boleh merusak server. Security juga harus berlapis. Belum lagi mechanical
& electrical engineering. Karena itu pembangunan data center mempunyai
nilai proyek per meter persegi yang jauh lebih tinggi dibanding bangunan biasa.
Kalau pembangunan data center Indonesia meningkat drastis, saya justru akan
memperhatikan siapa kontraktor dan supplier M&E yang mendapatkan order.
Karena terkadang saham yang
paling menarik dalam sebuah megatrend bukan perusahaan yang menjual produk
akhirnya. Tapi perusahaan yang menjual "sekop dan cangkul"
kepada semua pemain yang sedang berlomba.
Batam Bisa Jadi Wild Card
Kalau ada satu wilayah yang
menurut saya layak diperhatikan, itu Batam. Alasannya sederhana: Singapura
sangat dekat, tapi Batam jauh lebih murah.
Nongsa Digital Park sudah
diarahkan menjadi kawasan digital dan memperoleh status KEK. Untuk operator
yang ingin melayani Singapura dan Asia Tenggara, tetapi menghadapi mahalnya
lahan serta keterbatasan listrik di Singapura, Batam menawarkan alternatif yang
cukup logis. Kalau konektivitas kabel bawah laut, listrik, dan regulasinya
berkembang sesuai rencana, Batam bisa menjadi salah satu beneficiary terbesar
dari ekspansi data center regional.
Jadi Siapa yang Berpotensi
Menikmati Gelombang Ini?
Kalau saya petakan secara
sederhana:
Lahan industri: DMAS, SSIA
dan kawasan industri yang mempunyai kesiapan power serta fiber.
Energi + data center:
DSSA.
Land bank: BSDE.
Connectivity: TLKM, MTEL,
ISAT serta pemain fiber.
Data center operator: DSSA
dan berbagai operator/JV lokal-global.
Konstruksi & M&E:
kontraktor serta supplier yang mempunyai kompetensi membangun fasilitas data
center.
BUMN ecosystem: perusahaan
yang nantinya terlibat dalam proyek digital infrastructure Danantara.
Jadi saya tidak akan melihat tema
AI Indonesia hanya dari satu saham. Saya lebih suka melihatnya sebagai rantai
ekonomi. Karena semakin besar data center yang dibangun, semakin besar
tanah yang dibutuhkan. Semakin besar kapasitas server, semakin besar
listriknya. Semakin banyak data diproses, semakin besar kebutuhan fiber. Semakin
banyak fasilitas dibangun, semakin besar kebutuhan konstruksi dan engineering. Itu
multiplier effect-nya.
Tapi Jangan Terlalu Cepat
Euforia
Cerita ini tetap punya risiko. Menurut
saya ada empat yang paling penting.
1) Pertama,
listrik. Kalau pasokan listrik tidak berkembang secepat kebutuhan data
center, ekspansi bisa tertahan.
2) Kedua,
regulasi. Investor hyperscale membutuhkan kepastian mengenai data
residency, perpajakan, energi, dan perizinan.
3) Ketiga,
kompetisi regional. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengejar
uang ini. Johor di Malaysia berkembang sangat agresif. Vietnam dan Thailand
juga tidak tinggal diam.
4) Keempat,
valuasi saham.
Ini yang paling penting buat
investor. Bisnis bagus tidak otomatis berarti sahamnya murah. Narasi AI bisa
benar, perusahaan bisa mendapatkan keuntungan, tetapi kalau harga saham sudah
memasukkan ekspektasi terlalu tinggi, risk-reward-nya belum tentu menarik.
Jadi tetap harus pisahkan antara:
cerita yang bagus dan harga yang bagus.
Kesimpulan
Menurut saya, AI bisa menjadi
salah satu gelombang investasi infrastruktur terbesar di Indonesia dalam
beberapa tahun ke depan. Tapi peluangnya jauh lebih luas daripada sekadar
perusahaan data center.
a) Ada
tanah.
b) Ada
listrik.
c) Ada
fiber.
d) Ada
properti.
e) Ada
konstruksi.
f) Ada
engineering.
g) Ada
pembiayaan.
Dan ada ekosistem BUMN yang
berpotensi ikut masuk. Indonesia sudah mempunyai lebih dari 200 data center.
Pasarnya diproyeksikan tumbuh dari sekitar US$2,81 miliar menjadi US$6,08
miliar pada 2031, sementara kebutuhan kapasitasnya berpotensi bergerak dari
ratusan MW menjadi beberapa GW dalam satu dekade. Microsoft sudah membawa
US$1,7 miliar. DAMAC Digital membawa US$2,3 miliar. Pemain global lainnya juga
terus mencari kapasitas baru di Asia Tenggara. Jadi menurut saya, uangnya
sudah mulai bergerak. Sekarang pekerjaan investor bukan menebak apakah AI
akan besar. Itu bagian yang relatif mudah.
Yang jauh lebih penting adalah
mencari:
siapa yang benar-benar
mendapatkan uangnya, seberapa besar dampaknya terhadap laba, dan apakah harga
sahamnya masih masuk akal.
Karena dalam sebuah megatrend,
perusahaan yang paling sering disebut belum tentu menghasilkan return terbaik. Kadang
peluang terbesar justru berada satu atau dua layer di belakangnya.
Key Point
1. Indonesia punya posisi kuat
di data center ASEAN. Pasar domestik besar, kebutuhan data tinggi, lahan
relatif kompetitif dan lokasi geografis strategis.
2. AI bukan cuma cerita
teknologi. Beneficiary-nya bisa merambat ke kawasan industri, listrik,
properti, fiber, konstruksi dan engineering.
3. DMAS & SSIA menarik
dari sisi kebutuhan lahan. Data center mulai menjadi sumber demand kawasan
industri yang nyata.
4. DSSA punya positioning yang
unik. Exposure terhadap energi sekaligus digital infrastructure membuatnya
berada di beberapa layer sekaligus.
5. BSDE menarik dari sisi
optionality land bank. Tanah strategis bisa mempunyai fungsi ekonomi baru
ketika kebutuhan digital infrastructure meningkat.
6. TLKM, MTEL & ISAT
bermain di connectivity. Semakin tinggi penggunaan AI dan data center,
semakin penting backbone dan fiber.
7. Batam adalah wild card.
Kedekatannya dengan Singapura ditambah biaya lahan yang lebih rendah bisa
membuat Batam berkembang sebagai data center hub regional.
8. Risiko terbesar: power,
regulasi, kompetisi dan valuasi.
Dan yang terakhir:
Jangan beli saham hanya karena
ada kata "AI" di ceritanya.
Narasi memberi kita arah untuk
mencari peluang. Fundamental menentukan siapa yang benar-benar mendapat
keuntungan. Valuasi menentukan apakah peluang itu masih layak dibeli.
Tulisan ini merupakan pandangan
pribadi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Tetap lakukan
analisis lanjutan dan sesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang