TOWR ini menarik karena market
sedang memberi harga yang cukup rendah untuk bisnis yang sebenarnya masih
menghasilkan cashflow besar. Di harga Rp402, TOWR diperdagangkan di sekitar 6x
laba. Untuk perusahaan infrastruktur telekomunikasi dengan pendapatan berulang,
margin EBITDA tinggi, dan aset menara yang besar, valuasi seperti ini mulai
terlihat murah.

Namun, alasan saham ini murah
juga jelas. Market sedang ragu karena bisnis menara tidak lagi sekencang dulu.
Pertumbuhan tenant tidak eksplosif, konsolidasi operator seluler membuat
kebutuhan sewa menara baru lebih lambat, dan beban bunga masih menjadi tekanan
karena TOWR punya utang besar.
Jadi cerita TOWR hari ini bukan
lagi sekadar “bisnis menara defensif”. Ceritanya berubah menjadi: apakah TOWR
bisa menjaga bisnis menara tetap stabil, sambil membangun mesin pertumbuhan
baru dari fiber, FTTH, konektivitas, dan aset digital lain.

Menurut saya, inilah yang
membuat TOWR menarik di 2026.
Bisnis menaranya memang sudah
besar dan cenderung matang. Pendapatan dari sewa menara masih stabil, tapi
growth-nya tidak akan eksplosif. Dari pengamatan saya, jumlah site dan tenant
masih naik, tetapi kenaikannya pelan. Ini wajar karena bisnis tower leasing di
Indonesia sudah masuk fase lebih dewasa.
Namun, di luar bisnis menara,
TOWR mulai punya cerita baru. Segmen non-menara seperti fiber optic, FTTH, dan
konektivitas mulai tumbuh lebih cepat. Di Q2 2026, pendapatan non-menara naik
lebih agresif dibanding segmen tower. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan TOWR ke
depan kemungkinan tidak lagi datang dari menara saja, tetapi dari jaringan
fiber dan layanan konektivitas.
Masalahnya, segmen non-menara ini
punya margin lebih rendah dibanding bisnis menara. Jadi walaupun pendapatan
naik, margin EBITDA bisa turun. Ini yang terlihat di Q2 2026. Revenue naik
bagus, tapi margin EBITDA turun karena kontribusi non-tower semakin besar.
Buat investor, ini perlu dibaca
dengan benar. Turunnya margin bukan selalu berarti bisnis memburuk. Bisa saja
ini bagian dari fase transisi product mix. TOWR sedang membangun sumber
pertumbuhan baru, tapi dalam prosesnya margin jangka pendek tidak setebal
bisnis menara tradisional.
Dari sisi kinerja, Q2 2026 masih
cukup solid. Pendapatan 1H26 berada di sekitar Rp7,2 triliun, naik sekitar 13%
secara tahunan. EBITDA 1H26 berada di sekitar Rp5,6 triliun, naik sekitar 5%
YoY. Core net profit 1H26 sekitar Rp1,9 triliun, naik sekitar 9% YoY. Jadi
secara angka, bisnis ini masih tumbuh, bukan bisnis yang sedang turun.

Yang menarik, core net profit Q2
2026 naik menjadi sekitar Rp955 miliar. Artinya, walaupun margin tertekan, laba
inti masih bisa tumbuh. Ini penting karena salah satu thesis TOWR adalah
kemampuan perusahaan menjaga profit sambil pelan-pelan menurunkan tekanan
utang.

Dari sisi neraca, total debt TOWR
turun ke sekitar Rp44,5 triliun pada akhir 1H26, dan net gearing membaik ke
sekitar 1,5x. Ini positif karena selama beberapa tahun terakhir, salah satu
kekhawatiran terbesar TOWR adalah utang dan beban bunga. Kalau perusahaan bisa
terus menjaga arah deleveraging, laba bersih bisa lebih terbantu ke depan.

Namun, perlu dicatat juga bahwa
sekitar 60% utang TOWR masih berbunga floating. Artinya, kalau suku bunga naik
atau bertahan tinggi, beban bunga bisa ikut menekan laba. Jadi thesis
deleveraging tetap menarik, tapi belum bebas risiko.
Dari pengamatan saya, ada
beberapa hal menarik di balance sheet. Pendapatan ditangguhkan naik lagi di Q2
2026. Secara sederhana, pendapatan ditangguhkan adalah uang yang sudah diterima
perusahaan, tetapi belum diakui sebagai revenue. Ini bisa menjadi sinyal bahwa
ada kontrak atau pembayaran yang nantinya akan masuk ke pendapatan pada periode
berikutnya.
Yang menarik, kenaikan pendapatan
ditangguhkan banyak berkaitan dengan pelanggan besar seperti XL Axiata/XLSMART,
Indosat, dan kategori lain-lain. Ini bisa menjadi indikasi bahwa ekspansi
jaringan, sewa infrastruktur, atau proyek konektivitas masih berjalan. Efeknya
mungkin belum langsung terasa penuh di Q2, tapi bisa mulai mengalir ke revenue
di kuartal-kuartal berikutnya.

1) Katalis
pertama TOWR adalah ekspansi non-menara. Fiber optic, FTTH, FWA, dan
konektivitas bisa menjadi mesin pertumbuhan baru. Bisnis ini tidak
se-margin menara, tapi pasar yang bisa digarap masih besar. Kalau eksekusinya
benar, TOWR bisa berubah dari perusahaan tower leasing menjadi perusahaan
infrastruktur digital yang lebih lengkap.
2) Katalis
kedua adalah kebutuhan jaringan dari internet rakyat, FWA, dan ekspansi data.
Jika operator seperti XL, Indosat, dan Telkomsel terus memperkuat jaringan,
kebutuhan infrastruktur fiber dan konektivitas tetap akan ada. TOWR punya
posisi yang bagus karena sudah punya basis menara dan jaringan fiber yang
besar.
3) Katalis
ketiga adalah akuisisi DATA melalui iForte. Ini penting karena DATA bisa
memperkuat ekosistem fiber dan konektivitas TOWR. Jadi TOWR tidak hanya
mengandalkan sewa menara, tapi mulai membangun exposure ke bisnis internet dan
jaringan yang lebih luas.
4) Katalis
keempat adalah deleveraging. Kalau utang turun dan bunga mulai lebih
ringan, laba bersih bisa naik meskipun revenue tidak tumbuh agresif. Untuk
perusahaan seperti TOWR, penurunan beban bunga bisa menjadi katalis yang sangat
besar karena struktur bisnisnya padat modal dan utangnya besar.
Di harga Rp402, valuasi TOWR
menurut saya cukup menarik. Kalau memakai estimasi EPS 2026 sekitar Rp66, maka
PER TOWR hanya sekitar 6,1x. Untuk bisnis infrastruktur telekomunikasi dengan
revenue recurring, ini tergolong murah.
Kalau menggunakan valuasi
sederhana berbasis PE, gambarannya seperti ini:
Jika TOWR dihargai di PE 8x, fair
value-nya sekitar Rp528. Dari harga Rp402, upside-nya sekitar 31%, dengan
margin of safety sekitar 24%.
Jika TOWR dihargai di PE 10x,
fair value-nya sekitar Rp660. Dari harga Rp402, upside-nya sekitar 64%, dengan
margin of safety sekitar 39%.
Jika TOWR dihargai di PE 12x,
fair value-nya sekitar Rp792. Dari harga Rp402, upside-nya sekitar 97%, dengan
margin of safety sekitar 49%.
Menurut saya, fair value
yang paling masuk akal untuk base case ada di area Rp650–680. Area ini tidak
terlalu agresif, karena hanya memakai PE sekitar 10x. Kalau market
mulai percaya lagi ke growth non-tower dan deleveraging, area tersebut cukup
realistis untuk dibahas.
Sementara target yang lebih
agresif bisa berada di atas Rp900. Tapi area ini lebih cocok sebagai
skenario optimistis, bukan base case. Untuk ke sana, TOWR harus membuktikan
bahwa pertumbuhan non-tower bisa berjalan tanpa merusak margin terlalu dalam,
utang tetap terkendali, dan laba bersih tetap naik.
Apakah TOWR bisa menjadi
bagger?
Dari harga Rp402, untuk menjadi
2x, TOWR harus naik ke sekitar Rp804. Secara hitungan, ini bukan mustahil.
Kalau TOWR dihargai PE 12x dengan EPS sekitar Rp66, harga wajarnya memang bisa
mendekati area Rp790–800. Jadi peluang bagger secara matematis ada.
Tapi saya tidak akan menjadikan
skenario bagger sebagai base case utama. Untuk bisa naik dua kali lipat, market
harus benar-benar berubah pandangan terhadap TOWR: dari saham menara yang
dianggap stagnan menjadi saham infrastruktur digital yang punya growth baru.
Ini butuh bukti beberapa kuartal, bukan hanya satu laporan keuangan.
Risiko terbesar TOWR ada di
beberapa hal.
1) Pertama,
bisnis menara sudah matang. Pertumbuhan tenant tidak lagi sekencang masa lalu.
Kalau operator seluler menahan capex, penambahan sewa menara bisa lambat.
2) Kedua,
konsolidasi operator seperti XL-Smartfren bisa menekan kebutuhan menara baru.
Ketika operator bergabung, ada potensi rationalization jaringan. Ini bisa
membuat pertumbuhan tower leasing lebih terbatas.
3) Ketiga,
segmen non-menara memang tumbuh cepat, tapi marginnya lebih rendah. Kalau
revenue naik tapi margin turun terus, market bisa tetap menahan valuasi.
4) Keempat,
utang dan bunga. TOWR masih punya utang besar dan sebagian utangnya floating
rate. Kalau suku bunga naik, beban keuangan bisa menekan laba.
5) Kelima,
ekspansi ke DATA, fiber, dan non-tower membutuhkan modal. Kalau ekspansi
dilakukan terlalu agresif, deleveraging bisa melambat.
Kesimpulannya, TOWR di
harga Rp402 menurut saya menarik untuk investor yang mencari saham
infrastruktur dengan valuasi murah dan potensi re-rating. Ini bukan saham
growth cepat, tapi saham recovery valuation.
Bisnis menaranya masih stabil,
non-tower mulai menjadi growth driver, laba masih tumbuh, dan valuasi hanya
sekitar 6x laba. Selama TOWR bisa menjaga tiga hal—bisnis menara tetap stabil,
non-tower tumbuh sehat, dan utang tidak kembali naik agresif—thesis investasinya
masih cukup menarik.
Menurut saya, TOWR bisa disebut
underrated di 2026. Market terlalu fokus pada stagnasi bisnis menara dan risiko
utang, tapi belum sepenuhnya menghargai potensi non-tower, fiber, DATA, dan
efek deleveraging ke laba bersih.
Base case fair value saya
ada di area Rp650–680. Dari harga Rp402, upside-nya sekitar 62–69%, dengan
margin of safety sekitar 38–41%. Untuk skenario optimistis, area Rp790–800 bisa
membuat TOWR mendekati potensi bagger. Tapi untuk sampai ke sana,
perusahaan harus terus membuktikan pertumbuhan laba dan kualitas ekspansi
non-menara dalam beberapa kuartal ke depan.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang