Menurut saya, sektor CPO mulai
memiliki kombinasi katalis yang cukup kuat untuk kembali diperhatikan pasar.
Narasinya bukan hanya soal El Niño, tetapi pertemuan antara risiko penurunan
produksi, kenaikan permintaan domestik melalui B50, harga CPO yang masih
relatif kuat, serta perbaikan laba pada sebagian emiten.

Namun, kondisi ini tidak berarti
seluruh saham sawit otomatis menarik. Kinerja perusahaan masih sangat berbeda.
Ada emiten yang pendapatan dan labanya tumbuh bersama, ada yang penjualannya
meningkat tetapi marginnya melemah, dan ada pula yang masih mengalami penurunan
laba. Karena itu, tema CPO lebih tepat dibaca sebagai rotasi selektif,
bukan kenaikan satu sektor secara merata.

Kenapa CPO mulai menarik?
Ada tiga faktor utama.
El Niño berpotensi membatasi
produksi
Sejumlah proyeksi cuaca mengarah
pada El Niño moderat hingga kuat sepanjang semester II/2026 dan berpotensi
berlanjut ke awal 2027. Dampaknya terhadap perkebunan sawit tidak selalu
langsung terlihat.

Kekeringan hari ini dapat
mengganggu pembentukan bunga, perkembangan buah, serta berat tandan. Penurunan
produksi biasanya baru terasa beberapa bulan setelah periode kering
berlangsung.
Artinya, dampak El Niño dapat
berjalan dalam dua tahap.
Tahap pertama adalah sentimen.
Harga CPO dan saham perkebunan dapat mulai bergerak sebelum produksi
benar-benar turun.
Tahap kedua adalah fundamental.
Tekanan baru terlihat ketika volume tandan buah segar, produksi CPO, dan laba
perusahaan mulai terpengaruh pada akhir 2026 atau sepanjang 2027.
Menurut saya, hal ini penting
karena pasar saham hampir selalu bergerak lebih cepat daripada laporan
keuangan.
B50 memperbesar permintaan
domestik
Mandatori biodiesel B50
meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik. Ketika lebih banyak
CPO diserap untuk biodiesel, volume yang tersedia untuk ekspor berpotensi
berkurang.

Gambaran sederhananya: El Niño
berisiko menekan pasokan. B50 memperkuat permintaan.
Kombinasi inilah yang membuat
kondisi 2026 terlihat lebih konstruktif dibanding hanya mengandalkan faktor
cuaca.
Tetapi dampaknya tidak sama bagi
semua perusahaan. Produsen hulu dengan kebun produktif akan lebih mudah
menikmati harga jual yang tinggi. Perusahaan yang lebih dominan di bisnis hilir
justru dapat menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Harga CPO masih mendapat
penopang
Harga CPO diperkirakan tetap
berada pada level yang cukup sehat bagi produsen, meskipun pergerakannya masih
dapat dipengaruhi persediaan minyak nabati global, permintaan ekspor, harga
minyak mentah, dan kebijakan perdagangan.
Menurut saya, kenaikan harga CPO
tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi kenaikan laba dengan persentase yang
sama. Investor tetap harus melihat:
a) volume
produksi
b) biaya
pupuk dan tenaga kerja
c) produktivitas
kebun
d) pungutan
ekspor
e) serta
komposisi penjualan domestik dan ekspor.
Perusahaan yang paling
diuntungkan bukan selalu yang memiliki lahan paling luas, tetapi yang memiliki
produktivitas tinggi dan biaya produksi rendah.
Pelajaran dari 2022–2024
Harga CPO pernah mendekati
RM7.000 per ton pada 2022. Namun kenaikan tersebut tidak hanya berasal dari
cuaca.
Saat itu pasar minyak nabati
menghadapi kombinasi perang Rusia–Ukraina, pembatasan ekspor Indonesia,
gangguan pasokan, dan kekurangan tenaga kerja perkebunan di Malaysia setelah
pandemi.

Ketika tenaga kerja mulai kembali
dan produksi pulih pada 2023–2024, tekanan pasokan berkurang. Harga kemudian
mengalami normalisasi dari level yang sangat tinggi, meskipun El Niño tetap
menjadi risiko.

Pelajarannya sederhana:
El Niño tidak otomatis membuat
harga CPO langsung naik.
Cuaca hanya salah satu variabel.
Harga tetap ditentukan oleh produksi, permintaan biodiesel, stok global, minyak
nabati substitusi, tenaga kerja, dan regulasi.
Kebijakan ekspor menjadi
faktor penyeimbang
Sentimen positif dari El Niño dan
B50 masih dibayangi perubahan tata kelola ekspor melalui Danantara.
Untuk saat ini, dampak
langsungnya masih terbatas. Namun risiko dapat muncul apabila nantinya terdapat
biaya tambahan, perubahan mekanisme harga, atau pengalihan sebagian margin
dalam proses ekspor.
Emiten yang memiliki porsi
penjualan domestik besar relatif lebih terlindungi. Sebaliknya, perusahaan
dengan eksposur ekspor tinggi akan lebih sensitif terhadap perubahan biaya dan
regulasi.
Menurut saya, kepastian
implementasi kebijakan ini menjadi salah satu faktor penting sebelum pasar
memberikan rerating yang lebih besar kepada sektor CPO.
Apakah CPO dapat menjadi next
game?
Bisa, tetapi belum tentu seluruh
sektor bergerak bersamaan.
Rotasi CPO akan terlihat lebih
kuat apabila beberapa kondisi berikut mulai terjadi secara bersamaan:
- harga CPO bertahan pada level tinggi
- produksi Indonesia dan Malaysia mulai melambat
- penyerapan B50 berjalan sesuai rencana
- saham besar seperti AALI, TAPG, DSNG, LSIP, dan
SIMP bergerak bersama
- volume transaksi meningkat
- serta laba semester I dan sembilan bulan 2026 terus
membaik.
Jika hanya satu atau dua saham
lapis kedua yang naik cepat, itu belum cukup disebut rotasi sektor.
Pergerakannya lebih mungkin berasal dari momentum dan spekulasi.
Peta sederhana saham CPO
Fundamental paling terlihat
AALI
AALI menunjukkan pertumbuhan
pendapatan dan laba yang cukup kuat. Kualitas labanya membaik, likuiditas
sahamnya baik, dan posisi bisnisnya relatif defensif.
Risiko utamanya berasal dari
eksposur ekspor yang cukup besar. Perubahan biaya ekspor dapat lebih terasa
terhadap marginnya.
DSNG
DSNG memiliki pertumbuhan
pendapatan dan laba yang relatif seimbang. Model bisnisnya juga lebih
terdiversifikasi.
Kekuatan utamanya adalah
pertumbuhan yang cukup berkualitas. Namun kontribusi bisnis non-sawit tetap
perlu diperhatikan karena dapat menahan kinerja konsolidasi.
TAPG
TAPG menarik karena efisiensi
kebunnya relatif baik dan sebagian besar penjualannya berorientasi domestik.
Hal tersebut membuatnya lebih terlindungi dari risiko perubahan mekanisme
ekspor.
Menurut saya, TAPG layak berada
dalam kelompok utama apabila pasar mulai melakukan rotasi berbasis fundamental.
LSIP
LSIP menawarkan karakter yang
lebih konservatif. Neracanya kuat, utangnya rendah, dan eksposurnya terhadap
bisnis perkebunan cukup langsung.
Saham ini lebih cocok bagi
investor yang mencari kestabilan fundamental dibanding pertumbuhan agresif.
Pertumbuhan menarik, tetapi
margin perlu dibuktikan
STAA
Pendapatannya meningkat sangat
kuat, tetapi laba belum mengikuti. Ini menunjukkan adanya tekanan biaya atau
perubahan product mix.
Pasar perlu melihat apakah
pertumbuhan penjualan akhirnya menghasilkan kenaikan margin dan laba per ton.
CSRA
Pendapatan tumbuh sangat tinggi,
tetapi pertumbuhan laba jauh lebih kecil. Artinya, ekspansinya belum sepenuhnya
menghasilkan operating leverage.
Potensinya ada, tetapi kualitas
pertumbuhannya masih harus diuji.
Turnaround dan high beta
BWPT
Kinerjanya mulai membaik, tetapi
perusahaan masih sensitif terhadap utang, produktivitas kebun, dan kebutuhan
replanting.
BWPT lebih tepat dibaca sebagai
saham turnaround daripada pilihan utama yang defensif.
CBUT
Laba tumbuh meskipun pendapatan
relatif stagnan. Hal tersebut menunjukkan efisiensi membaik, tetapi margin
bersihnya masih tipis.
Karakter sahamnya lebih cocok
untuk investor yang mencari potensi operating leverage dan siap menerima
volatilitas lebih tinggi.
Masih membutuhkan pemulihan
TLDN, SGRO, JARR, PSGO, dan NSSS
masih menunjukkan tekanan pada laba atau margin.
Menurut saya, saham-saham
tersebut dapat ikut naik ketika sentimen CPO menguat. Namun kenaikan yang
berkelanjutan tetap membutuhkan bukti perbaikan produksi, biaya, margin, dan
arus kas.
ANDI berada pada posisi paling
spekulatif karena skala pendapatannya turun tajam dan perusahaan masih mencatat
kerugian.
Efek El Niño di luar sektor
sawit
El Niño juga dapat memengaruhi
sektor pakan ternak dan consumer goods.
Kemarau panjang berpotensi
menekan produksi jagung, kedelai, gandum, dan bahan pangan lainnya. Jika harga
bahan baku pakan naik, emiten unggas seperti CPIN, JPFA, dan MAIN berpotensi
mengalami tekanan margin apabila kenaikan biaya tidak dapat diteruskan ke harga
jual.
Pada consumer goods, dampaknya
tergantung kekuatan merek dan kemampuan menaikkan harga.
Perusahaan yang memiliki pricing
power akan lebih mampu menjaga margin. Sebaliknya, perusahaan yang menjual
produk sensitif terhadap harga akan lebih rentan terhadap kenaikan biaya bahan
baku.
Jadi efek El Niño dapat dibaca
sebagai berikut:
- positif bagi produsen komoditas berbiaya rendah;
- negatif bagi pengguna bahan baku tanpa pricing
power;
- campuran bagi perusahaan yang terintegrasi dari
hulu hingga hilir.
Kesimpulan
Menurut saya, CPO memiliki
peluang menjadi salah satu tema pasar pada semester II/2026 hingga 2027.
Katalisnya cukup jelas:
a) El
Niño berisiko menekan produksi;
b) B50
meningkatkan permintaan domestik;
c) harga
CPO masih memiliki penopang;
d) dan
sejumlah emiten mulai menunjukkan pertumbuhan laba.

Namun, ini bukan cerita satu
arah.
Kekeringan juga dapat menekan
produktivitas dan meningkatkan biaya. Kebijakan ekspor dapat mengurangi margin.
Selain itu, tidak semua perusahaan mampu mengubah kenaikan pendapatan menjadi
pertumbuhan laba.
Karena itu, rotasi fundamental
kemungkinan lebih dahulu mengarah kepada AALI, TAPG, DSNG, dan LSIP.
STAA dan CSRA menarik dari sisi
pertumbuhan, tetapi perlu membuktikan margin. BWPT dan CBUT lebih tepat dibaca
sebagai turnaround atau high beta. Sementara saham dengan laba yang masih turun
lebih berpotensi menjadi pengikut sentimen.
Intinya, El Niño dapat menjadi
pemantik. B50 dapat menjadi penguat. Tetapi laporan produksi, biaya, dan laba
tetap menjadi penentu utama.
Diskusi Komunitas (0)
Gembok Diskusi Terkunci
Hanya member yang sudah masuk yang bisa melihat dan ikut berdiskusi di sini.
Login Sekarang