
]
DKFT adalah emiten nikel yang bisnisnya ada di tambang bijih nikel dan smelter feronikel. Lokasi operasinya berada di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Secara kapasitas, Central Omega memiliki kapasitas tambang bijih nikel sekitar 3 juta ton per tahun dan smelter FeNi sekitar 100 ribu ton per tahun. Jadi pergerakan saham ini biasanya dipengaruhi oleh kuota RKAB, volume produksi/penjualan nikel, harga jual rata-rata nikel, dan sentimen sektor hilirisasi nikel.
Yang menarik,
DKFT sekarang sedang masuk area buy on break setelah mulai naik dari area bawah. Harga terakhir sekitar
710, masih berada di dalam area box. Dari broker summary, terlihat
Big Acc dengan net buy sekitar
Rp5,5 miliar dan average broker di sekitar
693. Artinya, ada indikasi akumulasi di area bawah, tapi konfirmasi paling penting tetap kalau harga bisa bertahan di atas
730.
Katalis DKFT ke depan •
Revisi RKAB jadi katalis utama.DKFT berencana mengajukan revisi RKAB 2026 untuk meminta tambahan kuota produksi bijih nikel semester II. Ini penting karena kuota produksi 2026 sebelumnya turun sekitar
35% dibanding realisasi tahun lalu. Kalau revisi disetujui, ruang produksi dan penjualan bisa lebih besar.
•
Target kuota ingin dinaikkan lagi.Manajemen menyebut ingin mengoptimalkan kembali kuota produksi menuju sekitar
4 juta ton. Ini yang akan dipantau market, karena semakin besar kuota produksi, semakin besar peluang volume penjualan naik.
•
Q1 2026 masih kuat meski volume turun.Produksi dan volume penjualan memang turun, tapi pendapatan Q1 2026 naik sekitar
20,2% menjadi
Rp506 miliar, dan laba bersih naik sekitar
73% menjadi
Rp238,5 miliar. Kenaikan ini banyak dibantu harga jual rata-rata yang lebih tinggi.
•
Sentimen nikel tetap jadi faktor penting.Kalau harga nikel dan permintaan smelter tetap stabil, DKFT bisa tetap dilirik. Tapi kalau harga nikel melemah atau kuota RKAB tidak bertambah sesuai harapan, narasinya bisa melemah.
Key Points• Harga di
710, sedang berada di area
buy on break 685–730• Broker summary menunjukkan
Big Acc• Net broker sekitar
Rp5,5 miliar• Average broker ada di sekitar
693• Resistance awal di
790• Resistance berikutnya di
845• Support penting di
685• Support bawah di
635 Trading Plan to Watch•
Buy area: 685–730
•
Asumsi average entry: 705
•
TP 1: 790 → potensi gain sekitar
+12,1%•
TP 2: 845 → potensi gain sekitar
+19,9%•
Stoploss : <635 → potensi risiko sekitar
-9,9% CatatanDKFT menarik karena ada kombinasi
Big Acc, potensi revisi RKAB, dan kinerja Q1 yang masih kuat. Tapi karena posisinya sudah dekat batas atas box, jangan terlalu agresif kalau belum tembus
730. Konfirmasi lebih sehat baru muncul kalau harga break
730 dengan volume kuat. Kalau jebol
685, skenario buy on break mulai lemah.
Disclaimer :
Analisis ini hanya bersifat edukasi dan insight trading, bukan ajakan atau rekomendasi beli/jual saham. Tetap gunakan manajemen risiko dan sesuaikan dengan trading plan masing-masing.