DKFT ini menarik karena posisinya
agak berbeda dari banyak saham nikel lain. Market mungkin melihatnya sebagai
emiten nikel kecil, tetapi angka kinerjanya menunjukkan bahwa perusahaan ini
sedang menghasilkan laba yang cukup besar dibandingkan ukuran market cap-nya.

Secara sederhana, DKFT adalah
perusahaan tambang dan pengolahan nikel. Bisnisnya bergerak dari penambangan
bijih nikel sampai pengolahan melalui smelter. Produk yang dijual bukan hanya
bijih nikel, tetapi juga produk hilirisasi seperti Nickel Pig Iron atau NPI.
Ini penting karena model bisnis yang terintegrasi biasanya punya peluang margin
lebih baik dibanding perusahaan yang hanya menjual bahan mentah.

Yang membuat DKFT menarik adalah
kombinasi antara valuasi murah, laba yang sedang tumbuh, dan posisi bisnis yang
diuntungkan oleh arah hilirisasi nikel Indonesia.
Di Q2 2026, DKFT mencatat kinerja
yang cukup kuat. Pendapatan semester I 2026 berada di kisaran Rp1 triliun, naik
sekitar 6% secara tahunan. Laba bersihnya mencapai sekitar Rp406 miliar, naik
sekitar 31% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. EPS semester I 2026
sekitar Rp72 per saham. Kalau angka ini disetahunkan, EPS DKFT bisa berada di
kisaran Rp144 per saham.

Artinya, manajemen tidak hanya
bergantung pada volume. Mereka bisa menjaga hasil lewat strategi pemasaran,
efisiensi biaya, dan product mix. Ini penting, karena kalau perusahaan cuma
bisa untung saat volume meledak, kualitas bisnisnya belum tentu kuat. Di DKFT,
justru saat volume sedang tidak maksimal, profitabilitas masih bisa naik. Itu
sinyal yang bagus.
Ini memberi gambaran bahwa DKFT
sedang menikmati kombinasi yang cukup ideal: jualan masih bisa tumbuh, tapi
biaya tetap dijaga. Bagi investor, ini lebih menarik dibanding perusahaan
yang omzetnya besar tapi marginnya tipis. DKFT justru terlihat punya ruang laba
yang lebih sehat.
Masalah utamanya tetap ada:
bisnis ini sangat tergantung RKAB dan siklus nikel
Walaupun kinerjanya bagus, DKFT
bukan tanpa risiko. Risiko terbesar saat ini ada di RKAB dan harga
nikel global. Kalau RKAB ketat, volume produksi bisa tertahan. Artinya,
meskipun harga komoditas bagus, perusahaan tidak bisa maksimal menikmati
momentum kalau izin volume produksi terbatas.

Ini juga terlihat dari penjelasan
bahwa penyesuaian operasional DKFT dilakukan untuk mematuhi ketentuan RKAB
terbaru. Jadi buat saham seperti DKFT, izin produksi itu bukan hal teknis
biasa. Itu salah satu penentu utama apakah pertumbuhan laba bisa berlanjut atau
tidak.
Di luar itu, pasar nikel juga
tetap sensitif terhadap kondisi global. Kalau pasokan tinggi, stok LME besar,
atau permintaan China melemah, harga nikel bisa tertahan. Kalau harga nikel
melemah cukup dalam, valuasi murah seperti DKFT bisa tetap murah lebih lama.

Lalu bagaimana dengan berita
soal reformasi DBH nikel, apakah relevan ke DKFT?
Berita soal usulan reformasi Dana
Bagi Hasil (DBH) nikel memang bukan katalis laba langsung untuk DKFT. Tapi
arah beritanya tetap relevan. Kenapa? Karena ini menunjukkan satu hal: hilirisasi
nikel makin dilihat sebagai sektor strategis yang nilainya besar dan manfaat
ekonominya harus dibagi lebih adil.
Kalau ke depan formula DBH
benar-benar diperluas ke produk olahan seperti feronikel, NPI, dan MHP,
itu berarti perhatian pemerintah terhadap rantai nilai hilirisasi akan makin
besar. Untuk emiten seperti DKFT, narasi ini mendukung tesis bahwa bisnis
olahan nikel tetap punya tempat penting dalam ekosistem nasional.
Tapi perlu jujur juga, ini belum
tentu langsung menambah laba DKFT. Efeknya lebih ke sentimen kebijakan dan
penguatan narasi hilirisasi. Jadi ini saya lihat sebagai katalis pendukung,
bukan katalis utama.
Di harga Rp710, apakah DKFT
masih murah?

Kalau pakai acuan laba berjalan,
saya melihat DKFT masih cukup murah, tapi memang tidak semurah saat
harga masih di area 500–660. Di harga Rp710, pasar mulai memberi sedikit
pengakuan ke perbaikan kinerjanya, tapi menurut saya valuasinya belum mahal.
Kalau kita pakai pendekatan
sederhana berbasis P/E, dan asumsi laba berjalan masih bisa dijaga, maka
gambaran kasarnya begini:
- EPS TTM kira-kira di kisaran Rp120 per
saham
- Di harga Rp710, berarti P/E sekitar 5,9x
- Untuk saham nikel yang sedang profit dan masih
bertumbuh, saya rasa fair P/E konservatif ada di kisaran 6,5x–7,5x
Dari situ, fair value kasarnya
jadi:
a) Fair
value konservatif (6,5x PE): sekitar Rp780
b) Fair
value tengah / base case (7,0x PE): sekitar Rp840
c) Fair
value optimistis (7,5x PE): sekitar Rp900
Jadi kalau saya ambil base
case fair value di Rp840, maka:
a) Upside
dari harga Rp710 ke Rp840 sekitar 18,3%
b) Margin
of safety sekitar 15,5%
Kalau pakai skenario konservatif
Rp780:
a) Upside
sekitar 9,9%
b) MOS
sekitar 9,0%
Kalau pakai skenario optimistis
Rp900:
a) Upside
sekitar 26,8%
b) MOS
sekitar 21,1%
Jadi kesimpulannya, di Rp710
DKFT masih menarik, tapi statusnya sekarang lebih cocok disebut masih
reasonable daripada super murah.
Apakah sebutan yang cocok
untuk DKFT?
DKFT sebagai small-cap nikel
yang sedang berada di fase rerating potensial. Bukan cerita bangkit dari
keterpurukan, tapi cerita market belum sepenuhnya memberi valuasi lebih
tinggi walau kinerja sudah bagus.
Kalau semua berjalan baik RKAB lancar, harga nikel stabil, volume
kembali naik, dan laba tetap besar saham ini bisa lanjut rerating. Tapi kalau
Anda bicara potensi bagger, itu bukan base case. Bisa saja terjadi, tapi
perlu syarat yang cukup banyak. Minimal market harus percaya bahwa pertumbuhan
laba ini berkelanjutan, bukan cuma momentum sesaat.
Apa yang paling perlu dipantau
ke depan?
Kalau mau mengikuti DKFT dengan
serius, saya rasa ada empat hal yang paling penting dipantau.
1) Pertama,
kelanjutan laba di Q2 dan Q3 2026. Kalau laba tetap kuat, artinya Q1
bukan kebetulan.
2) Kedua,
arah RKAB. Karena volume produksi sangat tergantung ini.
3) Ketiga,
harga nikel global. Karena seefisien apa pun perusahaan, harga komoditas
tetap berpengaruh besar.
4) Keempat,
arah ekspansi dan cadangan. Untuk saham tambang, umur cadangan itu
penting. Perusahaan bisa murah kalau pasar ragu soal keberlanjutan produksinya.
Kalau empat hal ini mengarah
positif, rerating masih sangat mungkin terjadi. Tapi kalau salah satunya
meleset, terutama RKAB dan harga nikel, upside saham bisa tertahan.
Kesimpulan
Di harga Rp710, DKFT masih
layak dilirik. Daya tarik utamanya ada di valuasi yang masih rendah,
pertumbuhan laba yang kuat, dan margin yang sehat. Ini bukan saham nikel
yang cuma berharap harga komoditas naik. Di Q1 2026, perusahaan sudah
menunjukkan bahwa mereka masih bisa tumbuh walau volume produksi ditekan.
Tapi tetap harus realistis. DKFT
bukan saham tanpa risiko. Ketergantungan pada RKAB, siklus harga nikel, dan
kepastian volume produksi tetap jadi faktor yang harus diawasi ketat. Jadi
kalau ditanya apakah menarik dibeli di harga sekarang, jawaban saya: masih
menarik untuk akumulasi bertahap, tapi tidak semurah saat harga masih jauh di
bawah ini.
Kalau mau memakai angka praktis,
saya melihat:
a) Fair
value konservatif: Rp780
b) Fair
value tengah: Rp840
c) Fair
value optimistis: Rp900
d) Harga
sekarang: Rp710
Artinya, DKFT masih punya ruang
naik, tapi margin of safety-nya memang sudah lebih tipis dibanding saat harga
masih 660 atau di bawahnya.