Skenario A – Buy on weakness di support
1. Harga mendekati support pada tren yang masih sehat.
2. Muncul penolakan turun, candle bullish, atau volume beli meningkat.
3. Entry dilakukan setelah konfirmasi, bukan ketika harga masih jatuh
cepat.
4. Stop loss ditempatkan di bawah zona invalidasi.
5. Target diarahkan ke resistance terdekat atau memakai trailing stop.
Skenario B – Buy on breakout
1. Resistance jelas dan harga berkonsolidasi di bawahnya.
2. Breakout ditutup di atas zona dengan volume yang mendukung.
3. Entry dapat dilakukan saat breakout atau setelah retest.
4. Stop loss berada di bawah level breakout atau swing low terakhir.
5. Target ditentukan dari resistance berikutnya dan rasio risk-reward.
Skenario C – Sell on strength di resistance
1. Harga mendekati resistance setelah kenaikan yang cukup panjang.
2. Momentum melemah atau muncul candle penolakan.
3. Posisi dikurangi bertahap, bukan harus selalu dijual seluruhnya.
4. Jika resistance ditembus dengan kuat, sisa posisi dapat
dipertahankan dengan trailing stop.
Position sizing
Ukuran posisi ditentukan dari batas
kerugian, bukan dari rasa yakin. Misalnya modal Rp10 juta dan batas risiko per
transaksi Rp100 ribu. Jika jarak entry ke stop loss 5%, nilai posisi maksimal
sekitar Rp2 juta sebelum memperhitungkan biaya transaksi.
Rumus sederhana: Nilai posisi = batas kerugian yang siap diterima ÷ persentase jarak stop
loss.