Semester I/2026 menjadi titik
penting bagi PT Surya Semesta Internusa Tbk. Menurut saya, laporan terbaru ini
mulai menunjukkan bahwa cerita pemulihan SSIA tidak lagi hanya bergantung pada
ekspektasi Subang Smartpolitan, BYD, atau pembangunan Tol Patimban.
Perbaikannya sudah mulai terlihat langsung dalam pendapatan, margin, dan laba
perusahaan.
Pada 31 Juli 2026, saham SSIA
ditutup di Rp1.650, naik 2,48% dengan volume sekitar 18 juta saham. Pada
harga tersebut, kapitalisasi pasarnya berada di kisaran Rp7,76 triliun.

Menurut saya, harga Rp1.650 sudah
cukup menarik untuk mulai diperhatikan. Namun, SSIA belum bisa disebut sangat
murah karena sebagian prospek Subang Smartpolitan dan pemulihan bisnisnya sudah
mulai dihargai pasar.
Hal yang paling penting sekarang
adalah menentukan apakah laba semester I/2026 dapat dipertahankan dan bertumbuh
pada semester kedua.

Kinerja semester I/2026: bukan
sekadar berbalik untung
SSIA membukukan hasil sebagai
berikut:
a) Pendapatan
mencapai Rp3,35 triliun, naik sekitar 58% dari Rp2,12 triliun.
b) Laba
kotor naik menjadi Rp1,09 triliun, dari Rp441,8 miliar.
c) Laba
usaha mencapai sekitar Rp633 miliar.
d) EBITDA
berada di kisaran Rp735,5 miliar.
e) Laba
bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk mencapai sekitar Rp262,6
miliar, berbalik dari rugi Rp32,3 miliar pada semester I/2025.
f)
EPS semester pertama mencapai sekitar Rp55,8
per saham.

Menurut saya, kualitas
pertumbuhannya cukup baik karena laba tidak hanya naik akibat pendapatan yang
lebih tinggi. Margin juga membaik.
Margin laba kotor meningkat dari
sekitar: 20,9% pada semester I/2025
menjadi: 32,4% pada semester
I/2026.
Ini menunjukkan bahwa komposisi
pendapatan SSIA mulai lebih menguntungkan. Kontribusi penjualan lahan industri
dan pemulihan hospitality memiliki margin yang lebih tinggi dibandingkan bisnis
konstruksi.
Secara kuartalan, perbaikannya
juga semakin terlihat. Pendapatan kuartal II diperkirakan mencapai sekitar Rp1,91
triliun, naik sekitar 32% dibandingkan kuartal pertama. Laba bersih kuartal
II sekitar Rp174 miliar, hampir dua kali laba kuartal pertama sebesar
Rp89 miliar.
Jadi menurut saya, ini bukan
sekadar perusahaan yang berhasil keluar dari rugi. SSIA mulai masuk fase
akselerasi laba.
Jangan salah membaca laba
Rp479,9 miliar

Terdapat angka laba periode
berjalan sekitar Rp479,9 miliar. Namun angka tersebut bukan seluruhnya
menjadi hak pemegang saham SSIA.
Laba yang dapat diatribusikan
kepada pemilik entitas induk hanya sekitar Rp262,6 miliar. Sisanya
menjadi bagian kepentingan nonpengendali karena SSIA memiliki sejumlah anak
usaha yang tidak dimiliki 100%, termasuk NRCA dan entitas lainnya.

Menurut saya, angka Rp262,6
miliar yang harus digunakan untuk menghitung EPS dan P/E saham SSIA.
Kesalahan yang sama juga bisa
terjadi saat menghitung PBV. Total ekuitas konsolidasi tercatat sekitar Rp8,48
triliun, tetapi sebagian ekuitas tersebut merupakan milik pemegang saham
nonpengendali. Book value yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham SSIA
menghasilkan BVPS sekitar Rp1.229 per saham, bukan Rp1.803. Dengan
demikian, PBV yang lebih relevan pada harga Rp1.650 adalah sekitar: 1,34
kali, bukan 0,92 kali. Ini membuat valuasinya tetap menarik, tetapi tidak
semurah yang terlihat apabila seluruh ekuitas konsolidasi langsung digunakan.
Apa yang mendorong pemulihan
SSIA?
Ada tiga mesin utama.
1. Penjualan lahan mulai
kembali masuk ke laporan keuangan
Pada kuartal I/2026, SSIA
membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,45 triliun. Segmen properti
tumbuh sangat kuat dan menjadi pendorong utama perbaikan margin. Penjualan
lahan yang diakui mencapai sekitar 21,2 hektare dengan nilai sekitar Rp406 miliar.

SSIA juga mempunyai backlog
penjualan lahan sekitar 46,3 hektare senilai Rp727,4 miliar. Sebagian
besar backlog tersebut mulai diakui pada kuartal kedua sehingga menjelaskan
kenaikan pendapatan dan laba Q2. Menurut
saya, backlog ini memberi visibilitas laba yang lebih baik dibanding sekadar
mengandalkan marketing sales baru. Namun perlu dibedakan: marketing sales
adalah transaksi atau komitmen penjualan,
Sementara accounting revenue
baru diakui ketika syarat serah terima dan ketentuan akuntansi telah terpenuhi.
Karena itu laba kawasan industri bisa sangat besar pada satu kuartal, kemudian
terlihat lebih rendah pada kuartal berikutnya.
2. Paradisus by Meliá Bali
mulai kembali berkontribusi
Kinerja SSIA pada 2025 sempat
tertekan karena Melia Bali ditutup untuk renovasi. Hotel tersebut kemudian
dibuka kembali dengan merek Paradisus by Meliá Bali pada awal 2026. Pada
kuartal pertama, laba kotor segmen hospitality sudah naik sekitar 76% menjadi
Rp83,9 miliar.

Menurut saya, pemulihan hotel
memberi dua keuntungan.
1) Pertama,
pendapatan hotel kembali setelah hilang selama masa renovasi.
2) Kedua,
hotel memberikan recurring income yang membantu mengurangi ketergantungan SSIA
pada penjualan lahan yang bersifat tidak rutin.
Namun pemulihannya belum tentu
langsung penuh. Hotel yang baru dibuka kembali membutuhkan waktu untuk
meningkatkan okupansi, room rate, dan efisiensi operasional.
3. Bisnis konstruksi tetap
menjadi penopang volume
Bisnis konstruksi melalui NRCA
masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar SSIA. Konstruksi memang memiliki
margin lebih rendah dibanding penjualan lahan. Namun keberadaan NRCA memberikan
arus pendapatan yang relatif lebih rutin dan juga mendukung pembangunan
infrastruktur di dalam kawasan Subang. Menurut saya, kombinasi tersebut menjadi
keunggulan sekaligus kelemahan SSIA. Keunggulannya, bisnisnya lebih
terdiversifikasi. Kelemahannya, margin konsolidasi SSIA tidak bisa setinggi
emiten kawasan industri murni seperti DMAS.
Subang Smartpolitan tetap
menjadi aset terpenting
Subang Smartpolitan mempunyai
luas pengembangan sekitar 2.717 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai
pusat manufaktur, kendaraan listrik, logistik, dan industri pendukung di
koridor Subang–Patimban.

BYD menjadi anchor tenant dengan
pembelian lahan lebih dari 100 hektare dan rencana membangun fasilitas produksi
kendaraan listrik. Kehadiran anchor tenant besar biasanya tidak hanya
menghasilkan satu transaksi lahan. Supplier baterai, komponen, logistik,
pergudangan, dan perusahaan pendukung lainnya cenderung mencari lokasi di
sekitar pabrik utama.
Menurut saya, efek BYD terhadap
SSIA baru akan terasa maksimal apabila terjadi cluster effect.

Contohnya pernah terlihat ketika
Wuling masuk ke kawasan DMAS. Setelah itu, sejumlah pemain otomotif dan
komponen ikut masuk ke kawasan yang sama. Jadi nilai BYD bukan hanya harga
lahan yang sudah dijual kepada BYD, melainkan kemampuan BYD menarik tenant
berikutnya.
SSIA menargetkan marketing sales
sekitar 135 hektare pada 2026, naik tajam dari realisasi 46,8 hektare
pada 2025. Target tersebut terdiri dari sekitar 121 hektare di Subang dan 14
hektare di Karawang.

Menurut saya, target tersebut
agresif. Realisasinya akan menjadi salah satu faktor terbesar yang menentukan
apakah laba SSIA bisa terus meningkat pada 2027.

Tol Patimban penting, tetapi
jadwalnya tetap perlu diawasi
Konektivitas merupakan bagian
utama dari valuasi Subang Smartpolitan.

Tol akses Patimban sepanjang
sekitar 37 kilometer dirancang menghubungkan kawasan Cipali dengan Pelabuhan
Patimban. Jika selesai, waktu dan biaya logistik tenant dapat turun sehingga
Subang menjadi lebih kompetitif dibandingkan kawasan industri yang bergantung
pada Pelabuhan Tanjung Priok.

Namun jadwal proyek ini sudah
beberapa kali berubah. Informasi terbaru menyebut konstruksi berpotensi selesai
pada kuartal IV/2026 dan mulai beroperasi pada awal 2027.
Menurut saya, investor jangan
langsung memasukkan kenaikan nilai lahan penuh seolah-olah jalan tol sudah
beroperasi. Lebih tepat melihatnya secara bertahap:
pembangunan berjalan →
progres mendekati selesai → tol beroperasi → tenant merasakan manfaat → harga
dan penjualan lahan meningkat.
Keterlambatan tol tetap menjadi
salah satu risiko utama terhadap valuasi SSIA.
Dukungan konglomerat positif, tetapi bukan jaminan laba

Grup Djarum melalui Dwimuria
Investama menjadi salah satu pemegang saham besar SSIA. Beberapa investor besar
lainnya juga masuk selama 2025.
Menurut saya, masuknya investor
strategis merupakan sinyal positif karena menunjukkan kepercayaan terhadap
potensi jangka panjang Subang. Kehadiran Grup Djarum juga dapat memperkuat
ekosistem digital kawasan melalui infrastruktur konektivitas dari grup tersebut.
Tetapi investor harus tetap
rasional.
Masuknya konglomerat bukan
berarti laba SSIA otomatis naik.
Yang harus dilihat tetap:
a) berapa
hektare lahan yang terjual
b) berapa
harga jual rata-ratanya
c) kapan
transaksi diakui menjadi pendapatan
d) dan
berapa kas yang benar-benar diterima.
Neraca masih cukup terkendali
Per Juni 2026, SSIA memiliki:
a) Kas
sekitar Rp1,09 triliun.
b) Utang
jangka pendek sekitar Rp623 miliar.
c) Utang
jangka panjang sekitar Rp1,85 triliun.
d) Total
aset sekitar Rp13,03 triliun.
e) Total
ekuitas konsolidasian sekitar Rp8,48 triliun.
Net debt secara kasar berada di
kisaran Rp1,4 triliun.
Menurut saya, level tersebut
masih cukup terkendali, tetapi harus dipantau karena pengembangan Subang
membutuhkan capex besar. SSIA menyiapkan capex sekitar Rp2,2 triliun pada 2026,
meskipun lebih rendah dibandingkan Rp3,6 triliun pada 2025.
Jika penjualan lahan berjalan
sesuai target, capex tersebut dapat menghasilkan return yang menarik. Jika
penjualan terlambat, kebutuhan pendanaan bisa meningkat dan menekan arus kas.
Risiko dilusi dari MESOP
SSIA juga merencanakan penerbitan
maksimal sekitar 235,3 juta saham baru, setara 5% dari modal disetor,
melalui program MESOP untuk manajemen dan karyawan.

Jika seluruhnya diterbitkan,
investor lama berpotensi mengalami dilusi sekitar 4,77%. Program tersebut juga
dapat menambah beban kompensasi berbasis saham. Menurut saya, MESOP bukan masalah besar
apabila laba perusahaan terus bertumbuh lebih cepat daripada jumlah saham. Namun
fair value sebaiknya diberi diskon kecil untuk mengantisipasi potensi dilusi
EPS.
Sedikit perbandingan dengan DMAS
DMAS memiliki karakter berbeda.
DMAS lebih murni sebagai
pengembang kawasan industri. Pada kuartal I/2026, DMAS membukukan pendapatan
sekitar Rp1,05 triliun dan laba bersih sekitar Rp818 miliar. Margin labanya
jauh lebih tinggi karena komposisi pendapatan didominasi penjualan lahan.
SSIA memiliki margin lebih rendah
karena pendapatannya juga berasal dari konstruksi dan hotel. Namun SSIA
mempunyai beberapa potensi berbeda:
a) Landbank
Subang yang lebih panjang.
b) Potensi
ekosistem EV dari BYD.
c) Pemulihan
hospitality.
d) Bisnis
konstruksi dan infrastruktur.
e) Potensi
kenaikan nilai lahan setelah Tol Patimban beroperasi.
Menurut saya, DMAS lebih cocok
bagi investor yang menginginkan profitabilitas dan dividen yang lebih terlihat.
SSIA lebih cocok dilihat sebagai growth and asset revaluation story.
Potensinya besar, tetapi laba dan arus kasnya lebih fluktuatif. Karena itu
tidak tepat membandingkan P/E SSIA dan DMAS secara langsung tanpa
mempertimbangkan perbedaan model bisnis.
Valuasi SSIA pada Rp1.650
Jumlah saham SSIA sekitar 4,705
miliar lembar. Pada harga Rp1.650, kapitalisasi pasarnya sekitar Rp7,76
triliun. Saya menggunakan tiga skenario
laba bersih 2026.
Skenario konservatif
Laba bersih: Rp450 miliar
EPS: sekitar Rp96
P/E pada Rp1.650: sekitar 17,3
kali
Skenario ini berlaku jika
pengakuan penjualan lahan melambat pada semester kedua atau pemulihan hotel
lebih lambat.
Skenario dasar
Laba bersih: Rp550–600 miliar
EPS: sekitar Rp117–128
P/E pada Rp1.650: sekitar 12,9–14,1
kali
Menurut saya, ini skenario yang
paling masuk akal. Semester pertama sudah menghasilkan Rp262,6 miliar,
sementara Q2 menunjukkan akselerasi laba yang cukup kuat.
Skenario optimistis
Laba bersih: Rp650 miliar
EPS: sekitar Rp138
P/E pada Rp1.650: sekitar 11,9
kali
Skenario ini membutuhkan
pengakuan penjualan lahan yang kuat, pemulihan hotel yang berlanjut, dan tidak
adanya keterlambatan besar pada proyek.
Fair value berdasarkan P/E
Menurut saya, fair P/E SSIA
berada di sekitar 16–17 kali.
Multiple tersebut
mempertimbangkan:
a) prospek
pertumbuhan laba,
b) landbank
Subang,
c) tetapi
juga volatilitas penjualan lahan,
d) kebutuhan
capex,
e) risiko
keterlambatan tol,
f)
serta potensi dilusi MESOP.
Dengan laba bersih Rp550–600
miliar, fair value dari pendekatan P/E berada di sekitar: Rp1.870–Rp2.170
Midpoint-nya berada di kisaran Rp2.000–Rp2.050.
Fair value berdasarkan PBV
BVPS yang dapat diatribusikan
kepada pemegang saham induk sekitar Rp1.229 per saham. Pada harga
Rp1.650, PBV sekitar : 1,34 kali. Jika SSIA diberikan fair PBV 1,5–1,6
kali, fair value berdasarkan nilai buku saat ini berada di kisaran: Rp1.840–Rp1.970.
Namun book value berpotensi
bertambah setelah laba 2026. Dengan asumsi laba Rp550–600 miliar dan payout
ratio sekitar 30%, forward BVPS berpotensi naik menuju sekitar Rp1.310–Rp1.320.
Menggunakan forward PBV 1,5–1,6
kali menghasilkan fair value sekitar: Rp1.970–Rp2.110
Hasilnya cukup konsisten dengan
pendekatan P/E.
Fair value yang menurut saya rasional
Setelah menggabungkan P/E, PBV,
pemulihan laba, Subang Smartpolitan, dan potensi dilusi, saya mendapatkan:
Bear case: Rp1.550–Rp1.750
Jika laba 2026 hanya sekitar Rp450 miliar dan marketing sales melambat.
Base case: Rp1.950–Rp2.100
Jika laba bersih mencapai Rp550–600 miliar.
Bull case: Rp2.300–Rp2.500
Jika laba mendekati Rp650 miliar dan penjualan lahan Subang melampaui
ekspektasi.
Midpoint fair value saya berada
di sekitar: Rp2.025

Margin of safety pada Rp1.650
Dengan fair value Rp2.025, harga
Rp1.650 berada sekitar: 18,5% di bawah fair value. Potensi kenaikan
menuju fair value sekitar: 22,7%. Menurut saya, ini sudah cukup menarik
tetapi belum memberikan margin of safety yang sangat tebal.
Untuk margin of safety 20%, harga
ideal berada sekitar: Rp1.620.
Untuk margin of safety 25%, harga
ideal berada sekitar: Rp1.520.
Untuk margin of safety 30%, harga
ideal berada sekitar: Rp1.420.
Cara bacanya :
Di bawah Rp1.500 Menarik
dengan margin of safety kuat.
Rp1.500–Rp1.650 Menarik
untuk akumulasi bertahap.
Rp1.650–Rp1.800 Masih
reasonable, tetapi membutuhkan laba 2026 minimal Rp550 miliar.
Rp1.950–Rp2.100 Mulai
mendekati fair value dasar.
Di atas Rp2.300 Pasar
mulai membayar skenario optimistis.
Pengaruh laporan Q2 terhadap market
Menurut saya, laporan semester
I/2026 akan memperkuat sentimen positif terhadap SSIA karena tiga hal.
1) Pertama,
pasar mendapatkan bukti bahwa pemulihan tidak hanya terjadi pada revenue,
tetapi juga pada margin.
2) Kedua,
laba Q2 hampir dua kali laba Q1. Ini menunjukkan adanya momentum, bukan sekadar
pembalikan satu kuartal.
3) Ketiga,
laporan ini memperkuat pandangan bahwa 2025 memang merupakan tahun transisi
akibat renovasi hotel dan rendahnya pengakuan penjualan lahan.
Namun reaksi pasar berikutnya
akan bergantung pada informasi yang belum sepenuhnya terlihat dalam laporan
keuangan:
a) realisasi
marketing sales sampai Juli,
b) tenant
baru di Subang,
c) pengakuan
backlog pada semester kedua,
d) okupansi
dan profitabilitas Paradisus,
e) serta
progres Tol Patimban.
Laporan yang bagus dapat
mendorong rerating jangka pendek, tetapi rerating berkelanjutan membutuhkan
marketing sales dan arus kas yang ikut membaik.
Kesimpulan
Menurut saya, SSIA pada semester
I/2026 mulai menunjukkan bahwa narasi Subang Smartpolitan memiliki dukungan
fundamental yang lebih nyata.
a) Pendapatan
naik 58%.
b) Laba
kotor naik lebih dari dua kali lipat.
c) Margin
naik tajam.
d) Laba
bersih pemegang saham berbalik dari rugi Rp32 miliar menjadi untung Rp262,6
miliar.
e) Hotel
kembali beroperasi.
f) Penjualan
lahan mulai diakui.
g) Dan
Subang masih mempunyai runway pengembangan yang panjang.
Tetapi saya tidak akan menyebut
Rp1.650 sebagai harga yang sangat murah.
Dengan estimasi laba bersih 2026
sekitar Rp550–600 miliar, SSIA diperdagangkan pada forward P/E sekitar 13–14
kali dan PBV sekitar 1,34 kali. Valuasi tersebut cukup menarik, tetapi masih
membutuhkan eksekusi.
Fair value yang menurut saya
cukup rasional berada di: Rp1.950–Rp2.100 dengan midpoint sekitar: Rp2.025.
Pada penutupan Rp1.650, margin of safety sekitar 18%–19%.
Kesimpulan :
SSIA di Rp1.650 sudah layak
dicermati dan cukup menarik untuk akumulasi bertahap. Namun area
Rp1.450–Rp1.550 memberikan risk-reward yang jauh lebih nyaman.
Poin terpentingnya bukan lagi
apakah Subang mempunyai potensi besar. Itu sudah cukup jelas. Pertanyaan
berikutnya adalah apakah SSIA dapat mengubah target 135 hektare, pemulihan
hotel, dan perbaikan konektivitas menjadi laba bersih yang konsisten di atas
Rp550–600 miliar per tahun.
Kalau itu tercapai, harga Rp1.650
masih menyimpan ruang. Kalau penjualan lahan kembali terlambat, harga tersebut
akan terasa jauh lebih dekat ke nilai wajarnya daripada yang terlihat sekarang.
Ini merupakan analisis valuasi
berdasarkan data saat ini, bukan ajakan membeli atau menjual saham.