INCO menjadi salah satu saham
tambang yang paling menonjol pada penutupan Jumat, 31 Juli 2026. Harga sahamnya
ditutup di Rp5.275, naik 7,65%, setelah sempat menyentuh Rp5.350. Kenaikan ini
muncul bersamaan dengan laporan kinerja semester I-2026 yang jauh lebih kuat
dibandingkan tahun lalu.

Menurut saya, sentimen positif
INCO bukan hanya berasal dari laba yang melonjak. Hal yang lebih penting adalah
mulai terlihatnya hasil transformasi bisnis Vale dari perusahaan yang
sebelumnya sangat bergantung pada Sorowako menjadi perusahaan dengan tiga pusat
pertumbuhan: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Namun, setelah harga naik sekitar
13,7% hanya dalam dua hari perdagangan, posisi Rp5.275 sudah tidak semenarik
ketika saham masih berada di area Rp4.600–Rp4.900. Fundamentalnya membaik,
tetapi keputusan masuk tetap perlu mempertimbangkan risiko mengejar harga.
Ringkasan utamanya
INCO mencatatkan pendapatan
semester I-2026 sebesar US$543,07 juta, naik 27,3% dibandingkan US$426,74 juta
pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih melonjak 313,4% menjadi
US$104,38 juta dari sebelumnya hanya US$25,25 juta. EBITDA juga meningkat dari
US$92 juta menjadi US$196 juta.


Kenaikan laba tersebut berasal
dari kombinasi beberapa faktor:
a) harga
jual nikel matte yang lebih tinggi
b) pemulihan
produksi pada kuartal II
c) peningkatan
penjualan bijih dari Bahodopi dan Pomalaa
d) serta
perbaikan biaya produksi per unit.
Menurut saya, ini merupakan
pertumbuhan laba yang berkualitas dari sisi operasional. Namun, arus kas dan
kebutuhan belanja modal masih menjadi bagian yang harus dicermati.
Produksi tahunan masih turun,
tetapi tren kuartalannya membaik
Produksi nikel matte sepanjang
semester I-2026 tercatat 29.773 ton, turun sekitar 16,3% dibandingkan 35.584
ton pada semester I-2025. Penurunan ini terutama dipengaruhi pembangunan
kembali Furnace 3. Proyek tersebut selesai pada Juni 2026, sehingga produksi
kuartal II mulai pulih menjadi 16.153 ton, naik 19% dibandingkan 13.620 ton
pada kuartal sebelumnya.
Jadi, angka produksi semester
pertama memang masih lebih rendah secara tahunan, tetapi arahnya mulai membaik.

Menurut saya, pasar lebih fokus
pada pemulihan kuartalan tersebut karena Furnace 3 dapat beroperasi penuh pada
semester II. Jika operasional berjalan stabil, volume produksi dan penjualan
seharusnya lebih kuat dibandingkan semester pertama.
Harga jual dan efisiensi
menjadi pengungkit laba
Harga realisasi rata-rata nikel
matte pada kuartal II mencapai US$14.765 per ton, naik 4% dari US$14.213 per
ton pada kuartal I.
Secara semesteran, harga
realisasi rata-rata mencapai US$14.491 per ton, meningkat sekitar 20,6%
dibandingkan US$12.014 per ton pada semester I-2025.
Selain kenaikan harga, biaya
tunai nikel matte membaik dari US$10.382 menjadi US$10.005 per ton. Biaya
operasional Pomalaa juga turun menjadi sekitar US$7 per wet metric ton karena
volume penjualan meningkat dan skala operasinya mulai membesar.
Hasilnya terlihat pada margin
perusahaan:
- margin laba kotor naik dari sekitar 7,1% menjadi
28%;
- margin EBITDA meningkat dari sekitar 21,6% menjadi
36,1%;
- margin laba bersih naik dari sekitar 5,9% menjadi
19,2%.
Menurut saya, lonjakan laba INCO
bukan semata-mata akibat pencatatan nonoperasional. Perbaikan harga jual, skala
produksi, dan efisiensi memang memberikan dampak nyata terhadap profitabilitas.
Tiga blok mulai membentuk
sumber pendapatan baru
Sorowako tetap menjadi pusat
produksi nikel matte. Namun, Bahodopi dan Pomalaa mulai memberikan kontribusi
dari penjualan bijih nikel.
Sepanjang semester I-2026:
- Bahodopi menjual sekitar 1,96 juta wet metric ton
bijih saprolit;
- Pomalaa menjual sekitar 584.584 wet metric ton
bijih nikel.

Pada kuartal II saja, Bahodopi
menjual sekitar 1,07 juta wmt, sedangkan Pomalaa menjual sekitar 495.601 wmt.
Menurut saya, diversifikasi ini
penting. INCO tidak lagi hanya mengandalkan penjualan nikel matte dari
Sorowako. Penjualan bijih dari Bahodopi dan Pomalaa memberikan sumber
pendapatan tambahan, sekaligus menjadi dasar bagi ekspansi ke produk bahan baku
baterai.
Proyek HPAL Sambalagi juga
mencapai perkembangan penting setelah unit autoclave tiba pada 22 Juli 2026.
Autoclave merupakan peralatan utama dalam proses High Pressure Acid Leaching
untuk mengolah bijih limonit menjadi mixed hydroxide precipitate atau MHP.
Namun, proyek tersebut masih
memasuki tahap pembangunan dan peningkatan kapasitas. Artinya, potensi
ekonominya besar, tetapi belum seluruhnya tercermin dalam laba saat ini.
Kinerja laba kuat, tetapi kas
turun tajam
Di balik kenaikan laba, posisi
kas INCO menurun cukup besar.
Kas dan setara kas turun dari
US$376,36 juta pada akhir 2025 menjadi US$110,66 juta pada akhir Juni 2026.
Penyebab utamanya adalah:
- belanja modal sebesar US$254,97 juta;
- pembayaran dividen sekitar US$45,64 juta;
- sementara arus kas operasi semester pertama hanya
US$38,4 juta.
Persediaan juga meningkat dari
US$192,07 juta menjadi US$301,81 juta.
Menurut saya, ini bukan tanda
bahwa bisnis INCO sedang bermasalah. Penurunan kas lebih banyak berkaitan
dengan siklus investasi besar. Namun, investor tetap perlu memahami bahwa
pertumbuhan INCO membutuhkan modal sangat besar.
Laba bersihnya sudah meningkat,
tetapi arus kas bebasnya masih negatif karena perusahaan sedang membangun dan
meningkatkan kapasitas beberapa proyek sekaligus.
INCO memiliki
Sustainability-Linked Loan senilai US$750 juta untuk mendukung program
investasinya. Fasilitas ini memberikan tambahan likuiditas, tetapi penarikan
utang nantinya juga dapat meningkatkan biaya bunga dan kewajiban keuangan.

Risiko biaya belum sepenuhnya
selesai
Walaupun biaya tunai per unit
berhasil turun, harga energi justru meningkat pada kuartal II:
1) harga
HSFO naik sekitar 25% secara kuartalan;
2) diesel
naik sekitar 40%
3) batu
bara naik sekitar 12%.
INCO mampu menahan tekanan
tersebut karena produksi meningkat dan skala ekonominya membaik.
Menurut saya, ini menunjukkan
operating leverage mulai bekerja. Tetapi kondisi tersebut juga berarti bahwa
jika produksi terganggu sementara harga energi tetap tinggi, margin dapat
kembali tertekan.
Sulfur dan asam sulfat juga
menjadi komponen penting bagi proyek HPAL. Keterbatasan pasokan dan kenaikan
biaya bahan tersebut dapat memengaruhi keekonomian proyek pengolahan nikel
berbasis HPAL.
RKAB bisa menjadi katalis
sekaligus risiko
Sampai 25 Juni 2026, pemerintah
belum menetapkan angka final perubahan RKAB nikel nasional. Kementerian ESDM
masih melakukan evaluasi terhadap usulan perusahaan tambang. Bagi INCO, tambahan kuota RKAB dapat
memberikan manfaat karena perusahaan memiliki kapasitas untuk meningkatkan
penjualan bijih dari Bahodopi dan Pomalaa.
Namun, dari sisi industri,
kenaikan kuota produksi nasional juga dapat menambah pasokan nikel dan menekan
harga komoditas.

Jadi, dampaknya memiliki dua
sisi:
a) positif
bagi volume penjualan INCO
b) tetapi
berpotensi negatif bagi harga nikel apabila pasokan bertambah terlalu besar.
Menurut saya, skenario terbaik
bagi INCO adalah perusahaan memperoleh tambahan kuota, tetapi peningkatan
pasokan nasional tetap terkontrol.
Pada 31 Juli 2026, harga resmi
nikel LME berada di sekitar US$16.855–US$17.080 per ton. Level ini masih
mendukung profitabilitas, tetapi belum cukup untuk menghilangkan risiko
volatilitas harga komoditas.


Membaca broker summary 31 Juli
2026
Broker summary menunjukkan adanya
akumulasi cukup kuat.
Data utamanya:
a) net
buy sekitar Rp71,7 miliar
b) net
volume 138.061 lot
c) rata-rata
akumulasi Rp5.195
d) terdapat
11 broker pembeli dan 47 broker penjual
e) indikator
Top 1, Top 3, dan Top 5 masuk kategori Big Accumulation.
Broker BB menjadi pembeli
terbesar dengan nilai sekitar Rp33,9 miliar dan harga rata-rata Rp5.262.
Setelah itu terdapat:
a) CC
sekitar Rp11,3 miliar pada rata-rata Rp5.213
b) DX
sekitar Rp8,2 miliar pada rata-rata Rp5.239
c) BK
sekitar Rp6,5 miliar pada rata-rata Rp5.255.
Sementara itu, penjualan terbesar
berasal dari YP sekitar Rp15,4 miliar, disusul PD, XL, dan MG.
Apa artinya?
Jumlah broker penjual memang jauh
lebih banyak daripada pembeli. Namun, pembeli yang masuk memiliki ukuran
transaksi lebih besar.
Menurut saya, pola ini
menunjukkan bahwa beberapa broker besar menyerap penjualan dari banyak broker
yang lebih kecil. Ini biasanya lebih konstruktif dibandingkan kondisi ketika
banyak broker membeli, tetapi seluruhnya diserap oleh satu atau dua penjual besar.
Harga penutupan Rp5.275 juga
berada sekitar 1,5% di atas rata-rata akumulasi Rp5.195. Artinya, sebagian
besar posisi pembeli utama masih berada dalam kondisi untung tipis pada saat
penutupan.
BB bahkan melakukan pembelian
rata-rata di Rp5.262, sangat dekat dengan harga penutupan. Ini menunjukkan
pembelian masih aktif pada area atas, bukan hanya terjadi ketika harga berada
di bawah Rp5.000.
Namun, broker summary tersebut
baru mencerminkan satu hari perdagangan. Akumulasi satu hari belum cukup untuk
menyimpulkan terjadinya akumulasi jangka panjang. Data perlu dilihat setidaknya
selama tiga sampai lima hari berikutnya.
Hal yang perlu diperhatikan:
- jika broker pembeli tetap bertahan dan tidak
langsung menjadi penjual, akumulasinya lebih valid;
- jika BB atau broker besar lainnya segera melepas
barang, kenaikan 31 Juli dapat berubah menjadi distribusi setelah berita
laporan keuangan.

Membaca teknikal INCO
INCO ditutup di Rp5.275 setelah
dibuka di Rp5.025, sempat turun ke Rp4.950, lalu naik hingga Rp5.350.
Harga sudah berada di atas:
- MA20 sekitar Rp4.831
- MA50 sekitar Rp4.759
- resistance sebelumnya di Rp5.025.
MA20 juga mulai berada di atas
MA50. Secara teknikal, struktur jangka pendek membaik dan harga telah keluar
dari fase konsolidasi di sekitar Rp4.600–Rp5.000.
Namun, kenaikannya sudah cukup
cepat. Dari penutupan Rp4.640 pada 29 Juli menuju Rp5.275 pada 31 Juli, saham
ini naik sekitar 13,7% dalam dua hari.
Area teknikal yang perlu
diperhatikan
Resistance terdekat:
Rp5.350
Ini merupakan harga tertinggi
pada perdagangan 31 Juli. Jika level ini ditembus dengan volume kuat, harga
memiliki peluang menguji Rp5.675.
Resistance berikutnya:
Rp5.675
Area ini merupakan resistance
penting dari struktur sebelumnya. Dari harga Rp5.275, ruang kenaikannya hanya
sekitar 7,6%.
Resistance lanjutan:
Rp6.300 dan Rp6.825
Target ini baru relevan apabila
harga mampu menembus dan bertahan di atas Rp5.675.
Support terdekat: Rp5.025
Level ini sebelumnya merupakan
resistance dan kini berpotensi menjadi support. Selama harga bertahan di atas
area ini, momentum jangka pendek masih terjaga.
Support kuat:
Rp4.830–Rp4.760
Area ini berdekatan dengan MA20,
MA50, dan basis konsolidasi terakhir.
Batas risiko berikutnya:
Rp4.570
Apabila harga kembali turun ke
bawah level ini, struktur kenaikan jangka pendek dapat dianggap gagal.
Apakah INCO menarik di harga
Rp5.275?
Menurut saya, jawabannya perlu
dibedakan antara menarik secara fundamental dan menarik sebagai harga masuk.
Secara fundamental: menarik
Kinerja perusahaan menunjukkan
perubahan yang jelas:
a) pendapatan
dan laba meningkat
b) margin
membaik
c) produksi
kuartalan pulih
d) Bahodopi
dan Pomalaa mulai menghasilkan penjualan
e) proyek
HPAL terus berkembang
f)
serta biaya per unit mulai turun.
Target harga range Rp7.400–Rp8.000.
Dibandingkan harga penutupan Rp5.275, angka tersebut mencerminkan potensi
kenaikan sekitar 40%–52%. Namun, target tersebut merupakan estimasi jangka
menengah yang bergantung pada realisasi RKAB, stabilitas harga nikel,
keberhasilan proyek, dan kemampuan perusahaan memenuhi target produksi.
Sebagai harga masuk baru:
sudah kurang ideal untuk dikejar
Di Rp5.275, harga hanya berjarak
sekitar:
- 1,4% dari resistance Rp5.350
- 7,6% dari resistance Rp5.675
- tetapi memiliki risiko turun sekitar 4,7% menuju
support Rp5.025.
Risk-reward menuju resistance
pertama dan kedua belum terlalu menarik setelah kenaikan tajam dua hari. Karena
itu, menurut saya, INCO saat ini lebih menarik untuk hold atau watchlist,
bukan langsung dikejar dengan posisi penuh.
Strategi yang lebih rasional
Untuk investor atau swing trader
yang belum memiliki posisi, terdapat dua skenario:
Buy on weakness
Tunggu koreksi sehat ke area
Rp5.050–Rp5.150. Area ini lebih dekat dengan bekas resistance Rp5.025 dan
rata-rata akumulasi broker sekitar Rp5.195. Selama koreksi tidak disertai
distribusi besar, area tersebut menawarkan risk-reward yang lebih baik.
Buy on breakout
Entry momentum baru lebih valid
apabila harga mampu menembus Rp5.350–Rp5.400 dengan volume kuat dan bertahan di
atasnya. Target berikutnya berada di Rp5.675. Jika Rp5.675 berhasil dilewati,
ruang menuju Rp6.300 mulai terbuka. Untuk pemegang saham yang sudah masuk di
bawah Rp5.000, posisi masih dapat dipertahankan selama harga tidak kembali
ditutup di bawah Rp5.025. Profit dapat diamankan secara bertahap saat mendekati
Rp5.675.
Dampaknya terhadap market
Kinerja INCO memberikan sentimen
positif terhadap sektor nikel karena menunjukkan bahwa perusahaan tambang masih
dapat memperbaiki laba meskipun volume tahunan belum sepenuhnya pulih.
Namun, menurut saya, kenaikan
INCO lebih banyak ditopang faktor spesifik perusahaan:
a) pemulihan
Furnace 3
b) peningkatan
harga realisasi
c) penjualan
Bahodopi dan Pomalaa
d) serta
efisiensi biaya.
Artinya, sentimen positif INCO
belum tentu dapat diterjemahkan langsung ke seluruh saham nikel. ANTM, NCKL,
MBMA, dan emiten nikel lainnya memiliki model bisnis, produk, biaya, dan tahap
pengembangan proyek yang berbeda. Pasar tetap akan menilai masing-masing
perusahaan berdasarkan laporan keuangan dan kemampuan mengeksekusi proyek.
Jika hasil INCO diikuti oleh
kenaikan harga nikel dan kebijakan RKAB yang terukur, sektor nikel dapat
memperoleh re-rating lebih luas. Sebaliknya, jika kuota nasional dinaikkan
terlalu agresif dan harga nikel melemah, penguatan dapat kembali selektif.
Kesimpulan
Menurut saya, INCO sedang
memasuki fase yang lebih menarik secara fundamental. Perusahaan mulai
memperlihatkan manfaat dari pemulihan produksi, kenaikan harga jual, efisiensi
biaya, dan diversifikasi operasi di tiga blok.
Kenaikan laba 313% memang
terlihat sangat besar, tetapi investor tetap perlu melihat sisi lain: kas turun
tajam, belanja modal sangat tinggi, proyek HPAL belum sepenuhnya menghasilkan,
dan keputusan RKAB masih belum final.
Broker summary 31 Juli
menunjukkan akumulasi yang cukup kuat. Beberapa pembeli besar menyerap
penjualan dari banyak broker yang lebih kecil, dengan rata-rata pembelian
sekitar Rp5.195. Ini mendukung momentum jangka pendek, tetapi masih perlu
dikonfirmasi melalui broker flow berikutnya.
Di harga Rp5.275, INCO masih
menarik dari sisi prospek, tetapi kurang ideal untuk dikejar setelah kenaikan
dua hari yang terlalu cepat.
Kesimpulan :
Fundamental INCO sedang
membaik, tetapi harga Rp5.275 sudah mulai mengantisipasi kabar baik. Lebih
rasional menunggu pullback ke sekitar Rp5.050–Rp5.150 atau menunggu breakout
valid di atas Rp5.350 daripada membeli penuh setelah kenaikan tajam.
Tulisan ini merupakan materi
informasi dan analisis, bukan ajakan membeli atau menjual saham.