Menurut saya, cerita ADMR
sekarang sudah berbeda dibanding satu atau dua tahun lalu. Dulu, valuasi
perusahaan hampir sepenuhnya bergantung pada bisnis metallurgical coal.
Sekarang ADMR mulai mempunyai mesin pertumbuhan kedua yang nyata: aluminium.
Perubahan terbesarnya bukan lagi
smelter “akan beroperasi”. Smelter Kalimantan Aluminium Industry sudah melewati
commissioning, mulai menghasilkan aluminium, dan pada Juni 2026 bahkan sudah
melakukan ekspor perdana ke Amerika Serikat serta Korea Selatan. Dengan kata
lain, cerita aluminium mulai bergerak dari capex story menjadi earnings
story.

Di harga penutupan sekitar Rp1.490
per saham pada 30 Juli 2026, menurut saya ADMR sudah masuk area yang cukup
menarik secara fundamental. Tetapi alasannya bukan semata-mata karena harga
saham sudah turun jauh. Yang lebih penting adalah valuasi sekarang mulai
memberikan diskon cukup besar terhadap potensi laba 2026–2027 apabila ramp-up
aluminium berjalan sesuai rencana. TradingView menunjukkan ADMR di Rp1.490
dengan konsensus target analis sekitar Rp2.433.
Key point-nya menurut saya:
a) Bisnis
met coal tetap menjadi cash generator utama, tetapi aluminium mulai mengurangi
ketergantungan ADMR terhadap satu komoditas.
b) KAI
sudah mulai menjual aluminium secara nyata; target penjualan 2026 mencapai
sekitar 350.000 ton.
c) Q1/2026
sudah menunjukkan pemulihan laba sebelum kontribusi aluminium menjadi material.
d) Harga
aluminium masih relatif tinggi, tetapi sudah turun dari puncaknya sehingga
jangan menggunakan asumsi harga ekstrem untuk valuasi.
e) Di
Rp1.490, forward P/E berdasarkan estimasi laba 2026 berada di kisaran 6–8 kali.
Ini mulai menarik, tetapi execution risk smelter tetap menjadi faktor utama.
Cerita ADMR sekarang
sebenarnya apa?
Menurut saya, ADMR sedang
menjalani transformasi dari: Met coal company → diversified metals company.
Bisnis pertama tetap batu bara
metalurgi, yang digunakan sebagai bahan baku produksi baja. Bisnis kedua mulai
datang dari aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry atau KAI.
KAI merupakan anak usaha tidak
langsung dengan kepemilikan ADMR sekitar 65%. Sisanya dimiliki Aumay
Mining 22,5% dan CITA 12,5%. Kapasitas tahap pertama smelter mencapai sekitar 500.000
ton aluminium per tahun.
Ini detail yang penting. Investor
tidak boleh membaca “kapasitas 500.000 ton” lalu menganggap seluruh economics
smelter menjadi milik ADMR. ADMR memang mengonsolidasikan bisnis tersebut
karena menjadi pengendali, tetapi pada akhirnya terdapat porsi laba untuk
non-controlling interest. Jadi valuasinya harus tetap konservatif.
Bukti terpenting: aluminium
sudah benar-benar dikirim
Pada Juni 2026, KAI melakukan
ekspor perdana sekitar:
31.494 ton ke Amerika Serikat.
3.569 ton ke Korea Selatan.
Totalnya sekitar 35.000 ton
aluminium primer. Menurut saya, ini
milestone yang jauh lebih penting dibanding berita groundbreaking atau
commissioning. Karena sekarang sudah ada bukti bahwa rantainya mulai lengkap:
Smelter → produksi → buyer →
pengiriman → revenue.
Manajemen menargetkan penjualan
sekitar 350.000 ton aluminium sepanjang 2026, dari kapasitas tahap
pertama 500.000 ton per tahun. Artinya
utilisasi belum perlu 100% tahun ini. Dan menurut saya justru itu masuk akal
karena 2026 masih merupakan tahun ramp-up. Kalau 350.000 ton tercapai, baru
2027 pasar bisa mulai melihat full-year contribution dari smelter secara lebih
bersih.
Jangan terlalu cepat
mengalikan 350.000 ton dengan harga aluminium
Ini kesalahan yang menurut saya
mudah terjadi. Misalnya aluminium US$3.000 per ton. 350.000 ton × US$3.000
memang secara kasar menghasilkan nilai penjualan produk sekitar US$1,05
miliar. Tetapi itu bukan laba ADMR.Masih ada : sebagai bahan baku, listrik,
tenaga kerja, logistik, maintenance, depreciation, finance cost, pajak, dan
non-controlling interest. Jadi angka tonase besar memang menunjukkan skala
bisnisnya, tetapi margin aluminium yang nantinya jauh lebih menentukan
valuation rerating.
Harga aluminium mendukung,
tetapi jangan memakai harga puncak
Harga aluminium sempat melonjak
sampai sekitar US$3.787 per ton pada Juni karena gangguan pasokan Timur Tengah.
Namun pada akhir Juli, harga sudah kembali ke sekitar US$3.170 per ton
setelah pasar melihat perbaikan produksi Timur Tengah serta tambahan supply
dari China dan Indonesia. Ini menurut
saya justru bagus untuk membuat valuasi lebih realistis. Saya tidak ingin
membangun thesis ADMR berdasarkan aluminium US$3.700–4.000. Range
US$3.000–3.300 menurut saya jauh lebih sehat untuk base case.
Pemerintah Australia dalam
outlook Juni 2026 masih memperkirakan aluminium sekitar US$3.425 per ton
pada semester II/2026, sedangkan TD Securities memperkirakan rata-rata
sekitar US$3.378 pada 2026.
Jadi backdrop-nya masih cukup
baik. Tetapi investor tetap harus menerima bahwa aluminium adalah komoditas.
Supply baru juga bisa menekan harga.
Batu bara metalurgi belum
selesai
Menurut saya, aluminium tidak
berarti bisnis coal menjadi tidak penting. Justru untuk beberapa tahun pertama,
met coal tetap menjadi fondasi cash flow ADMR.
Q1/2026 menunjukkan penjualan met
coal sekitar 1,5 juta ton, sementara ASP naik ke sekitar US$183 per ton.
Volume memang turun secara kuartalan akibat faktor seasonal, tetapi lebih
tinggi secara tahunan. Kondisi coking
coal saat ini juga cukup menarik.
Gangguan produksi di China
membuat supply menjadi lebih ketat. Westpac memperkirakan premium low-vol
coking coal dapat rata-rata sekitar US$241 per ton pada kuartal III/2026,
sebelum kemudian mulai moderasi.
Jadi secara sederhana: met
coal memberikan cash flow sekarang, aluminium memberikan growth ke depan. Menurut
saya kombinasi itu jauh lebih sehat daripada perusahaan yang seluruh thesis-nya
tergantung pada commissioning proyek baru.
Q1/2026 sudah menunjukkan
recovery sebelum aluminium masuk besar
Laporan resmi ADMR menunjukkan
pendapatan Q1/2026 sebesar US$267,5 juta, dibanding US$199,9 juta pada
Q1/2025. Laba usaha naik menjadi sekitar US$107 juta. Laba bersih yang
diatribusikan kepada pemilik induk mencapai US$87,7 juta, dibanding
US$65,45 juta tahun sebelumnya. Artinya
laba pemegang saham naik sekitar 34%. Menurut saya, ini menarik karena
kontribusi aluminium pada Q1 masih praktis belum ada.
Jadi earnings bridge-nya
kira-kira:
Q1 → met coal recovery
kemudian
H2 → met coal + aluminium
ramp-up.
Itulah kenapa 2026 berpotensi
menjadi tahun perubahan earnings profile.
Tetapi balance sheet juga
mulai lebih berat
Transformasi ini tidak gratis.
Pada akhir 2025 total aset ADMR
mencapai sekitar US$2,89 miliar, naik signifikan akibat proyek-proyek ekspansi.
Pada Maret 2026 aset kembali naik menjadi sekitar US$3,21 miliar. Utang
bank jangka panjang pada Q1/2026 mencapai sekitar US$922 juta dan bagian jangka
pendek sekitar US$38 juta. Kas sekitar US$504 juta. Jadi secara kasar net debt sudah berada di
kisaran US$450 juta. Menurut saya masih manageable terhadap ekuitas konsolidasi
sekitar US$1,8 miliar, tetapi sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika
ADMR memiliki net cash.
Inilah trade-off transformasinya:
earnings power naik, tetapi capital intensity juga naik.
Karena itu saya tidak mau
memberikan P/E premium terlalu agresif sebelum smelter membuktikan bahwa capex
besar tersebut menghasilkan ROIC yang baik. PLTS 100 GW menarik, tapi jangan
terlalu dibesar-besarkan Berita lain yang Anda kirim membahas rencana besar
pengembangan PLTS Indonesia. Aluminium memang menjadi material penting untuk: solar
panel frame, transmission infrastructure, EV, grid infrastructure dan BESS
ecosystem.
Secara jangka panjang ini positif
bagi demand aluminium. Tetapi menurut
saya, untuk valuasi ADMR hari ini, narasi PLTS 100 GW masih secondary
catalyst. Belum ada alasan untuk menghitung puluhan gigawatt proyek
pemerintah langsung menjadi revenue KAI. Investor harus menunggu: kontrak,
volume pembelian, harga, dan kepastian supplier.
Jadi saya lebih memilih
memasukkan pertumbuhan permintaan aluminium secara umum daripada memasukkan
proyek PLTS sebagai earnings tertentu.
Sekarang valuasinya
Harga yang saya gunakan: Rp1.490
Jumlah saham beredar resmi ADMR: 40,882
miliar saham.
Market cap-nya berarti sekitar: Rp60,9
triliun.
Pendekatan laba bersih 2026
Potensi untuk FY2026:
a) Revenue:
US$2,453 miliar
b) EBITDA:
US$820 juta
c) Net
profit: US$498 juta
Kemudian FY2027 net profit naik
menjadi sekitar US$614 juta. Angka
tersebut menurut saya cukup masuk akal sebagai base case karena Q1 baru
menghasilkan US$87,7 juta dan contribution aluminium akan lebih berat di
semester kedua. Saya menggunakan kurs sekitar Rp18.000/US$ untuk
menyederhanakan perhitungan. US$498 juta menjadi sekitar: Rp8,96 triliun net
profit.
EPS: Rp8,96 triliun ÷ 40,88
miliar saham ≈ Rp219 per saham.
Di harga Rp1.490: Forward P/E
2026 ≈ 6,8x. Menurut saya ini mulai murah.
Bahkan kalau earnings hanya
US$420 juta: EPS sekitar Rp185. P/E masih sekitar: 8,1x.
Jadi pasar saat ini memang
memberikan discount cukup besar.
Berapa P/E wajar ADMR?
Saya tidak akan menggunakan P/E
15–20x. ADMR tetap mempunyai cyclical commodity exposure dan sedang melalui
ramp-up proyek besar.
Menurut saya fair P/E sekitar: 9,5x–10,5x
sudah cukup reasonable.
Dengan EPS base case Rp219:
9,5x → sekitar Rp2.080
10x → sekitar Rp2.190
10,5x → sekitar Rp2.300
Jadi dari pendekatan earnings,
saya mendapatkan:
Fair value sekitar
Rp2.100–Rp2.300
dengan midpoint sekitar: Rp2.200.
Konsensus enam analis yang
dihimpun TradingView bahkan berada di sekitar Rp2.433, dengan rentang
estimasi sekitar Rp1.802 sampai Rp2.889. Saya memilih Rp2.200 karena ingin sedikit
lebih konservatif.
Cross-check lewat PBV
Ekuitas yang dapat diatribusikan
kepada pemilik induk per Q1/2026 sekitar US$1,649 miliar. Dengan asumsi kurs Rp18.000: nilai buku
sekitar Rp29,7 triliun.
BVPS kira-kira: Rp726 per
saham. Harga Rp1.490 berarti PBV sekitar: 2,05x.
Menurut saya PBV 2x bukan angka
yang mahal untuk perusahaan yang berpotensi membawa ROE kembali ke area 20%+. Namun
lebih menarik kalau menggunakan forward book value. Jika net profit 2026
sekitar US$498 juta dan kita memperhitungkan dividen, book value akhir tahun
secara kasar bisa mendekati Rp850–860 per saham.
Fair PBV 2,5x menghasilkan
sekitar: Rp2.140
Fair PBV 2,7x: Rp2.310.
Sekali lagi keluar range yang
hampir sama: Rp2.100–Rp2.300.
Menurut saya ini membuat
valuation range tersebut cukup solid sebagai base case.
Margin of Safety
Saya menggunakan midpoint fair
value: Rp2.200
Harga: Rp1.490
Artinya harga sekarang berada
sekitar: 32% di bawah fair value.
Atau potential upside menuju
Rp2.200 sekitar: 48%.
Kalau saya meminta margin of
safety 25%, batas harga yang menarik: Rp2.200 × 75% ≈ Rp1.650.
Kalau meminta margin of safety
30%: ≈ Rp1.540.
Jadi pada Rp1.490, secara
matematis ADMR sudah memberikan margin of safety sedikit lebih besar dari 30%
terhadap base fair value saya.
Itu cukup menarik.
Tetapi saya tetap membuat tiga
skenario
Bear case: Rp1.750–Rp1.900
Ini terjadi jika ramp-up
aluminium lebih lambat, laba hanya sekitar US$400–420 juta, aluminium kembali
turun, atau harga met coal melemah.
Base case: Rp2.100–Rp2.300
KAI mencapai ramp-up yang
reasonable, penjualan aluminium mendekati guidance dan net profit berada
sekitar US$480–500 juta.
Bull case: Rp2.500–Rp2.700
Butuh aluminium tetap kuat,
volume 350.000 ton tercapai, met coal tidak melemah signifikan dan laba
mendekati US$550–600 juta. Menurut saya, harga Rp2.800 ke atas belum pantas
menjadi base case karena itu mulai mengasumsikan execution yang sangat baik
dan multiple lebih tinggi.
Jadi Rp1.490 menarik?
Menurut saya: Ya, cukup
menarik secara fundamental.
Bahkan dibanding ISAT atau DEWA
yang kita bahas sebelumnya, ADMR di harga sekarang mempunyai margin of safety
fundamental yang terlihat lebih tebal jika forecast earnings 2026 benar-benar
tercapai. Namun ini bukan tanpa risiko. Harga Rp1.490 terlihat murah karena
pasar belum sepenuhnya percaya terhadap ramp-up aluminium. Dan menurut saya
pasar punya alasan untuk berhati-hati.
a) KAI
masih baru.
b) Utang
meningkat.
c) Capex
masih besar.
d) Aluminium
merupakan bisnis baru bagi grup.
e) KAI
juga hanya dimiliki 65%.
Dan supply aluminium baru dari
Indonesia sendiri berpotensi menekan harga global. Reuters baru-baru ini
mencatat bahwa tambahan produksi China dan Indonesia menjadi salah satu alasan
harga aluminium turun kembali dari puncak Juni. Jadi discount tersebut bukan gratis.
Apa yang menurut saya harus
dipantau selanjutnya?
Ada lima angka yang benar-benar
menentukan thesis ADMR: realisasi produksi aluminium bulanan, apakah target
penjualan 350.000 ton tercapai, EBITDA margin KAI, harga met coal, dan net
debt. Kalau pada laporan H1/9M mulai terlihat aluminium menghasilkan revenue
dengan margin sehat, menurut saya market punya alasan kuat untuk melakukan
rerating. Saat itu narasi ADMR berubah dari: “perusahaan batu bara yang
membangun smelter” menjadi: “perusahaan met coal dengan bisnis aluminium
yang sudah menghasilkan cash flow.”
Perbedaannya besar.
Pengaruh ke market
Menurut saya, keberhasilan KAI
akan memberikan efek bukan hanya kepada ADMR. Ini dapat memperkuat tema
hilirisasi aluminium Indonesia yang juga berhubungan dengan CITA, ANTM, INALUM,
energi terbarukan, kabel, EV, sampai pembangunan grid. Tetapi untuk saham ADMR
sendiri, rerating terbesar kemungkinan datang ketika investor mulai melihat earnings
contribution nyata dari aluminium.
Saat ini P/E TTM masih sekitar
10–12x karena pasar melihat laba historis. Kalau laba 2026 benar-benar mendekati US$500
juta, denominator laba naik sangat besar dan forward multiple turun ke sekitar
7x. Di situlah menurut saya
letak opportunity-nya.
Kesimpulan
Menurut saya, ADMR sekarang bukan
lagi murni cerita batu bara metalurgi. Batu bara masih menjadi fondasi cash
flow, tetapi aluminium mulai menjadi mesin pertumbuhan kedua. Dan berbeda dari
satu tahun lalu, cerita aluminium sekarang sudah mempunyai bukti nyata:
smelter sudah commissioning,
produksi sudah berjalan, ekspor sudah terjadi, buyer sudah ada, dan target
penjualan 350.000 ton sudah ditetapkan.
Pada harga penutupan Rp1.490
tanggal 30 Juli 2026, menurut saya valuasinya sudah cukup menarik. Dengan
estimasi net profit 2026 sekitar US$498 juta, EPS berada sekitar Rp219
dan forward P/E hanya sekitar 6,8x. Dari pendekatan P/E dan PBV, fair
value yang menurut saya cukup rasional berada di:
Rp2.100–Rp2.300
dengan midpoint:
Rp2.200.
Artinya terdapat margin of safety
sekitar 32% terhadap midpoint fair value.
Menurut saya, area:
Rp1.400–Rp1.550 sudah
masuk zona valuasi menarik.
Rp1.600–Rp1.800 masih
reasonable.
Rp2.100–Rp2.300 mulai
mendekati nilai wajarnya.
Dan di atas Rp2.500,
investor mulai membayar bull case dari aluminium.
Poin akhirnya sederhana:
di Rp1.490, pasar masih
menilai ADMR seperti perusahaan met coal yang mempunyai proyek aluminium. Kalau
KAI berhasil membuktikan dirinya sebagai mesin laba kedua, valuasi itu
berpotensi berubah.
Itulah menurut saya alasan paling
kuat kenapa ADMR menarik sekarang—bukan sekadar karena harganya sudah turun,
tetapi karena earnings profile perusahaan berpotensi berubah lebih cepat
daripada valuasi sahamnya.
Sumber utama yang saya gunakan:
laporan keuangan resmi Q1/2026 dan informasi korporasi Alamtri Minerals Financial Performance ADMR, struktur kepemilikan KAI Company Structure Alamtri Minerals, ekspor aluminium
perdana KAI , outlook aluminium global