Kalau seluruh berita DEWA ditarik
menjadi satu cerita, menurut saya perubahan paling penting bukan kontrak Rp22
triliun, bukan Gayo Mineral, dan bukan juga dividen pertamanya.
Cerita besarnya adalah DEWA
sedang mengubah model bisnis dari kontraktor yang banyak bergantung pada
subkontraktor menjadi operator tambang yang mengerjakan semakin banyak
pekerjaan dengan armada sendiri.
Kalau transformasi ini berhasil,
DEWA bukan hanya mendapatkan revenue lebih besar. Margin bisnisnya juga
berpotensi berubah cukup signifikan karena sebagian keuntungan yang sebelumnya
dinikmati subkontraktor mulai ditangkap sendiri oleh DEWA.
Di saat bersamaan, perusahaan
mulai menambah kontrak di luar Grup Bakrie, membangun optionality emas-tembaga
melalui Gayo Mineral Resources, dan memperluas bisnis ke listrik,
infrastruktur, serta supporting services.
Jadi menurut saya, DEWA sekarang
memang punya fundamental story yang lebih menarik daripada beberapa tahun lalu.
Tetapi ada satu masalah: pasar juga sudah mulai memberikan premium terhadap
cerita tersebut.
Pada penutupan 30 Juli 2026, DEWA
berada di Rp450, naik 2,27% dengan rentang harian Rp438–Rp454.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi
apakah DEWA punya cerita pertumbuhan. Pertanyaannya adalah: berapa banyak
pertumbuhan tersebut yang sudah tercermin di Rp450?
Hal pertama yang harus
diluruskan: laba Rp4,3 triliun bukan laba normal DEWA
Ini menurut saya bagian paling
penting sebelum bicara valuasi. DEWA memang membukukan laba bersih sekitar Rp4,3
triliun pada 2025, dibanding hanya Rp55 miliar pada 2024. Namun lonjakan
tersebut sebagian besar berasal dari one-off accounting gain, terutama
negative goodwill terkait konsolidasi Gayo Mineral Resources.
Perusahaan sendiri menggunakan laba
inti 2025 sebesar Rp514,5 miliar ketika menentukan dividen. Dari angka
tersebut DEWA membagikan dividen perdana Rp58,6 miliar atau Rp1,5 per saham,
setara payout ratio 11,4%.
Q1/2026 justru memberi sinyal
yang lebih penting
Pada kuartal I/2026:
Pendapatan DEWA sekitar Rp1,55
triliun, turun tipis 2,2% YoY. Tetapi laba kotor naik sekitar 9% menjadi Rp268,8
miliar. EBITDA naik 11,8% menjadi sekitar Rp442,2 miliar. Dan laba
bersih naik 34,5% menjadi sekitar Rp92,7 miliar.
Menurut saya, justru ini angka
yang lebih menarik daripada laba Rp4,3 triliun tahun lalu. Revenue belum tumbuh
besar, tetapi profitability membaik.
Artinya : DEWA mulai
menghasilkan lebih banyak laba dari revenue yang relatif sama. Ini
memberikan bukti awal bahwa strategi internalisasi memang mulai bekerja.
Insourcing adalah pusat thesis
DEWA
Sebelumnya DEWA banyak
menggunakan subkontraktor. Modelnya kurang lebih:
DEWA mendapat pekerjaan →
pekerjaan diteruskan ke subkontraktor → DEWA mengambil spread.
Masalahnya, margin yang tersisa
relatif tipis. Strategi sekarang berubah menjadi : DEWA mendapat pekerjaan →
DEWA membeli/menguasai armada sendiri → pekerjaan dilakukan internal → margin
lebih banyak tinggal di DEWA.
Di Bengalon Coal Project,
perusahaan menargetkan pengerjaan sepenuhnya secara internal setelah kontrak
subkontraktor berakhir. Model riset yang saya lihat memperkirakan persentase
pekerjaan internal dapat naik dari sekitar 73% pada 2025 menuju 87% pada
2026 dan hampir 100% pada 2027–2028.
Kalau ini tercapai, efeknya
besar.
a) Gross
margin mempunyai ruang naik.
b) EBITDA
margin naik.
c) Dan
laba mempunyai operating leverage yang jauh lebih tinggi dibanding revenue.
Menurut saya, inilah alasan
utama DEWA layak mendapatkan valuation premium dibanding sejarahnya sendiri.
Kontrak Rp22 triliun mengubah
satu kelemahan penting DEWA
Selama ini salah satu risiko
terbesar DEWA adalah customer concentration. Pendapatan 2025 masih sangat
bergantung pada:
- Kaltim Prima Coal sekitar Rp4,23 triliun.
- Arutmin Indonesia sekitar Rp1,86 triliun.
Keduanya masih berada dalam
ekosistem bisnis yang terkait dengan Grup Bakrie. Namun pada Juni 2026, DEWA melalui DHKB
memperoleh kontrak eksternal pertama dari PT Sebuku Sejaka Coal. Nilai
kontraknya sekitar US$1,3 miliar atau Rp22 triliun selama lima tahun.
Kapasitas pekerjaan:
hingga 55 juta bcm waste
removal per tahun dan hingga 5 juta ton batu bara per tahun.
Menurut perusahaan, volume
tersebut setara potensi tambahan hingga sekitar 40% dibanding waste removal
DEWA pada 2025 sebesar 138 juta bcm. Menurut saya, ini jauh lebih penting daripada
sekadar headline Rp22 triliun. Karena kontrak tersebut mulai membuktikan bahwa
DEWA:
tidak harus selamanya
bergantung pada KPC dan Arutmin.
Kalau satu kontrak eksternal
berhasil dieksekusi dengan baik, track record tersebut bisa dipakai untuk
memenangkan klien eksternal berikutnya.
Kontrak Arutmin juga memberi
revenue visibility
DEWA juga mendapatkan
perpanjangan kontrak dengan Arutmin untuk Kintap dan Asam-Asam dengan estimasi
nilai sekitar Rp10,5 triliun. Total pekerjaan mencakup sekitar:
252 juta bcm overburden dan
sekitar 50 juta ton batu bara selama umur tambang. Jadi dari sisi order book, menurut saya
masalah DEWA sekarang bukan kekurangan proyek.
Pertanyaan berikutnya justru
berubah menjadi : apakah DEWA mempunyai armada, tenaga kerja, pembiayaan,
dan execution capability untuk mengerjakan volume tersebut dengan margin
tinggi?
Di sinilah capex menjadi
risiko
Perusahaan menyiapkan capex
sekitar Rp4,3 triliun untuk mendukung ekspansi kapasitas, KPC, Arutmin,
dan eksplorasi GMR. Jumlahnya besar
dibanding ukuran perusahaan. Pada Q1/2026, laporan keuangan menunjukkan:
a) kas
sekitar Rp487 miliar,
b) utang
jangka pendek sekitar Rp2,87 triliun,
c) utang
jangka panjang sekitar Rp5,19 triliun,
d) dan
ekuitas sekitar Rp7,89 triliun.
Jadi menurut saya, investor
jangan hanya membaca: kontrak baru = laba naik. Karena sebelum labanya datang,
DEWA harus menyediakan alat berat.
Itu membutuhkan:
a) debt,
b) vendor
financing,
c) working
capital,
d) maintenance,
e) tenaga
kerja.
Kalau utilisasi armada tinggi,
capex tersebut sangat produktif. Kalau volume proyek terlambat, capex justru
bisa menekan return on capital. Ini salah satu variabel terpenting 2026–2027.
Dividen pertama: kecil secara
yield, besar secara sinyal
DEWA membagikan dividen pertama
sejak listing. Nominalnya:
Rp1,5 per saham.
Pada harga Rp450, dividend yield
hanya sekitar:
0,33%.
Jadi jelas bukan alasan membeli
DEWA untuk income. Tetapi menurut saya nilai simboliknya cukup besar. Perusahaan
yang selama bertahun-tahun tidak membayar dividen akhirnya mempunyai struktur
ekuitas dan profitability yang memungkinkan distribusi kepada pemegang saham. KSEI
mencatat distribusi dividen tersebut dijadwalkan 31 Juli 2026. Saya melihatnya sebagai signal normalisasi
perusahaan, bukan dividend play.
Gayo Mineral adalah
optionality, bukan laba sekarang
GMR memberikan DEWA eksposur
terhadap emas dan tembaga di Aceh. Eksplorasi terus berjalan dan perusahaan
mempertimbangkan IPO GMR sebagai salah satu opsi pendanaan untuk pengembangan
proyek. Target operasi komersial yang disebut manajemen berada sekitar 2029.
Menurut saya, bagian ini menarik
karena jika cadangan ekonomisnya besar, valuation optionality DEWA bisa
berubah. Tetapi saya tidak akan memasukkan valuasi agresif GMR ke fair value
sekarang. Statusnya masih:
exploration → resource
confirmation → feasibility → financing → development → production.
Masih panjang. GMR menurut saya
adalah free option atau tambahan upside, bukan dasar utama membayar
mahal saham DEWA hari ini.
Bisnis baru listrik,
infrastruktur, dan hospitality
DEWA juga mendirikan:
a) PT
DH Listrik
b) PT
DH Infrastruktur
c) PT
DH Arunika Hospitality.
Perusahaan menjelaskan entitas
tersebut dimaksudkan untuk memperkuat fungsi operasional, logistik,
ketenagalistrikan, dan supporting services Grup Darma Henwa. Menurut saya, belum perlu memberi valuasi
tinggi terhadap tiga perusahaan ini. Belum ada revenue material. Namun secara
strategis masuk akal karena kalau DEWA berkembang menjadi integrated mining
services company, perusahaan bisa menangkap lebih banyak value chain:
mining → infrastructure →
logistics → electricity → supporting services.
Sekarang masuk ke valuasi
Harga penutupan 30 Juli 2026:
Rp450
Saya tidak menggunakan laba
reported Rp4,3 triliun. Saya menggunakan core earnings ke depan. Ada
cukup banyak perbedaan proyeksi analis.
Salah satu riset memperkirakan:
2026 net profit sekitar Rp495
miliar 2027 sekitar Rp586 miliar.
Model lain yang lebih agresif
memperkirakan:
2026 sekitar Rp676 miliar 2027
sekitar Rp1,20 triliun 2028 sekitar Rp1,71 triliun.
Perbedaannya lebar. Dan menurut
saya, itulah sebenarnya risiko terbesar DEWA saat ini:
valuasi bergantung sangat
besar pada seberapa cepat insourcing dan kontrak baru masuk ke laba.
Berapa P/E DEWA di Rp450?
Setelah buyback, salah satu model
menggunakan sekitar 39,05 miliar saham efektif. Kalau laba 2026 hanya Rp500 miliar:
EPS ≈ Rp12,8. Harga Rp450
berarti: P/E ≈ 35x. Itu mahal. Kalau laba 2026 Rp676 miliar:
EPS ≈ Rp17,3. P/E: ≈26x.
Masih bukan murah. Jadi kalau
hanya melihat laba 2026: menurut saya Rp450 belum bisa disebut saham murah. Pasar
sudah membayar sebagian pertumbuhan.
Tetapi 2027 mulai terlihat
berbeda
Saya menggunakan base case laba
2027 sekitar: Rp950 miliar – Rp1,1 triliun
Angka tersebut berada di antara
forecast konservatif dan forecast agresif, sambil memperhitungkan kontrak SSC
Rp22 triliun yang sekarang sudah benar-benar diperoleh.
EPS 2027 menjadi sekitar: Rp24–Rp28
per saham.
Untuk perusahaan kontraktor
tambang dengan:
a) laba
tumbuh tinggi,
b) margin
sedang ekspansi,
c) customer
base mulai melebar,
d) tetapi
leverage dan execution risk tetap tinggi,
menurut saya P/E wajar berada
sekitar: 20x–22x
Saya sengaja tidak menggunakan
30–37x.
Fair value berdasarkan P/E
Dengan EPS 2027 sekitar
Rp24–Rp28:
P/E 20x Fair value: Rp480–Rp560
P/E 22x Fair value: Rp530–Rp620
Menurut saya range fundamental
yang lebih masuk akal saat ini: Rp550–Rp600 Saya memakai sekitar Rp575
sebagai midpoint.
Cross-check menggunakan PBV
Ekuitas Q1/2026 sekitar Rp7,89
triliun. Dengan jumlah saham efektif sekitar 39 miliar:
BVPS kira-kira: Rp200–Rp202
per saham. Harga Rp450 berarti PBV sekitar: 2,2x
Jika DEWA diberikan fair PBV
2,5x–2,8x karena growth dan improving ROE: fair value sekitar: Rp505–Rp565.
PBV memberikan angka sedikit
lebih rendah dibanding forward P/E. Menurut saya masuk akal karena aset GMR
juga sudah meningkatkan book value melalui proses akuntansi, sementara
monetisasinya belum terjadi. Jadi PBV sebaiknya digunakan secara konservatif.
EV/EBITDA sebagai sanity check
Menurut saya ini justru cukup
relevan untuk kontraktor tambang. Pada harga Rp450, market cap efektif DEWA
sekitar: Rp17,6 triliun.
Dengan debt yang masih besar,
enterprise value-nya jauh di atas itu.
Model pertumbuhan memperkirakan
EBITDA:
2026 sekitar Rp2,3 triliun
2027 sekitar Rp3,2 triliun.
Jadi multiple 2027 akan turun
cukup cepat jika target tersebut benar-benar tercapai. Sekali lagi: harga
Rp450 murah atau mahal sangat tergantung earnings 2027.
Fair value saya
Setelah menggabungkan P/E, PBV,
earnings growth, kontrak baru, insourcing, dan GMR optionality:
Bear case Rp350–Rp400 Jika
margin tidak berkembang sesuai target dan ramp-up kontrak baru terlambat.
Base case Rp550–Rp600 Jika
laba 2027 mendekati Rp1 triliun dan insourcing berjalan normal.
Bull case Rp700–Rp800 Jika
laba mendekati Rp1,2 triliun, EBITDA margin menuju 30%, SSC ramp-up cepat, dan
market tetap memberi premium.
Margin of Safety di Rp450
Kalau menggunakan midpoint fair
value: Rp575 Harga saat ini: Rp450 Discount terhadap fair value: sekitar
22% Potential upside: sekitar 28%
Jadi menurut saya sudah menarik,
tetapi belum deep value. Kalau saya menginginkan margin of safety 25%: harga
ideal sekitar: Rp430, Kalau ingin margin of safety 30%: sekitar: Rp400
Karena itu secara fundamental
saya melihat: < Rp400 Menarik dengan MOS besar.
Rp400–430
Area yang menurut saya cukup nyaman untuk fundamental accumulation.
Rp430–480
Masih menarik, tetapi semakin bergantung pada keberhasilan earnings 2027.
Rp550–600
Mulai mendekati base fair value.
> Rp700 Pasar sudah
mulai membayar bull case.
Jadi, Rp450 menarik?
Menurut saya: Ya, tetapi bukan
karena DEWA murah. Ini distinction yang penting. DEWA di Rp450 menarik
karena ada peluang earnings acceleration. Bukan karena current P/E
rendah. Justru 2026 P/E masih relatif mahal. Investment thesis-nya adalah: 2026
mahal → earnings tumbuh → 2027 multiple turun → saham terlihat reasonable.
Kalau laba 2027 hanya Rp600
miliar, Rp450 malah bisa terlihat mahal. Kalau laba mencapai Rp1–1,2 triliun,
Rp450 mulai terlihat cukup murah. Jadi saya akan menyebut DEWA: growth-at-a-premium,
bukan value stock.
Apa yang harus dipantau mulai
sekarang?
Menurut saya, cukup lima angka.
1. Gross margin
Ini bukti paling langsung
keberhasilan insourcing. Saya ingin melihat gross margin terus naik.
2. Internal volume
Semakin besar volume yang
dikerjakan sendiri, semakin kuat earnings leverage.
3. Ramp-up kontrak SSC
Kontrak Rp22 triliun tidak
berarti banyak jika alat dan produksinya terlambat.
4. Net debt
Capex Rp4 triliunan tidak boleh
membuat balance sheet terlalu berat.
5. Core net profit
Abaikan headline accounting gain.
Fokus: apakah laba inti 2026 menuju Rp600–700 miliar dan 2027 mulai
mendekati Rp1 triliun?
Kalau iya, thesis-nya berjalan.
Pengaruhnya ke market
Menurut saya, keberhasilan
transformasi DEWA bisa menarik perhatian lebih besar terhadap kontraktor
tambang second liner. Selama ini sektor ini sering dibandingkan dengan: UNTR/PAMA,
PTRO, dan BUMA. DEWA menawarkan cerita berbeda karena mempunyai kombinasi:
contractor turnaround +
insourcing + external contract + mineral optionality.
Namun market juga akan memberikan
volatilitas lebih tinggi karena ekspektasinya jauh lebih agresif. Harga saham
DEWA sendiri bergerak dari sekitar Rp284 akhir Juni menjadi Rp450 hanya dalam satu
bulan. Naik sekitar 58% dalam waktu
singkat. Jadi secara trading, risk-reward jelas sudah tidak sama seperti ketika
berada di Rp280–300.
Kesimpulan
Menurut saya, DEWA memang sedang
berubah secara fundamental. Bukan sekadar cerita. Q1 sudah menunjukkan laba
naik ketika revenue turun tipis. Insourcing mulai meningkatkan margin. Kontrak
eksternal Rp22 triliun memberikan growth visibility baru sekaligus mengurangi
ketergantungan pada Grup Bakrie.
Kontrak Arutmin memberikan
pekerjaan jangka panjang. Dividen pertama menunjukkan balance sheet dan
struktur ekuitas mulai kembali normal. Dan GMR memberikan optionality
emas-tembaga untuk jangka panjang. Tetapi
ada satu hal yang menurut saya jangan dilewatkan:
harga Rp450 sudah meminta DEWA
untuk benar-benar mengeksekusi pertumbuhan tersebut.
Dengan normalized earnings:
- fair value konservatif: Rp350–400
- fair value base: Rp550–600
- bull case: Rp700–800
Pada penutupan Rp450 tanggal
30 Juli 2026, saya melihat discount sekitar 20%–25% terhadap base fair
value. Artinya sudah cukup menarik. Tetapi area Rp400–430 menurut saya
jauh lebih nyaman karena memberikan margin of safety yang lebih kuat.
Intinya:
DEWA bukan lagi saham yang
hanya mengandalkan cerita Grup Bakrie. Fundamentalnya memang mulai berubah.
Namun di Rp450, kita sudah membayar sebagian dari keberhasilan 2027 yang belum
terjadi.
Kalau insourcing, kontrak SSC,
dan margin berhasil sesuai rencana, harga sekarang masih punya ruang. Kalau
eksekusi meleset, valuasi akan terasa mahal dengan sangat cepat Itulah yang menurut saya paling penting
dipahami sebelum melihat DEWA hanya dari target harga Rp850.
Sumber relevan: Kontrak Rp22 triliun DEWA–SSC · RUPST & dividen perdana DEWA · Pembentukan DH Listrik, Infrastruktur & Hospitality · Data harga DEWA 30 Juli 2026 · Data saham & corporate action DEWA di KSEI.