Menurut saya, cerita ISAT
sekarang jauh lebih menarik dibanding sekadar “operator telekomunikasi yang
sedang ekspansi 5G”. Ada beberapa perubahan besar yang terjadi bersamaan:
monetisasi aset fiber, ARPU yang membaik, leverage turun drastis, ekspansi 5G mulai
diarahkan ke monetisasi enterprise, dan bisnis digital/AI mulai dibangun
sebagai sumber pertumbuhan baru.
ISAT sedang mencoba
meningkatkan kualitas return, bukan sekadar mengejar pertumbuhan jumlah
pelanggan. Dan menurut saya, itu justru bagian paling penting untuk valuasi
sahamnya.
Gambaran besarnya
Kalau disederhanakan, thesis ISAT
sekarang berdiri di atas lima hal:
a) ARPU
meningkat dan kompetisi industri mulai lebih rasional.
b) FiberCo
membuat struktur modal lebih ringan dan ROIC berpotensi naik.
c) 5G
diarahkan ke enterprise dan FWA, bukan sekadar perang kecepatan konsumen.
d) AI,
cloud, dan digital services mulai dibangun sebagai growth engine tambahan.
e) Neraca
semakin sehat, sehingga ruang dividen dan investasi bertambah.
Tetapi ada satu catatan penting:
laba semester I/2026 terlihat sangat tinggi karena ada keuntungan satu kali
dari transaksi FiberCo. Jadi investor perlu memisahkan reported profit
dengan underlying profit.
1. Kinerja semester I/2026
sebenarnya cukup kuat
ISAT mencatat pendapatan sekitar Rp30,65
triliun, naik 13,1% YoY. EBITDA mencapai Rp14,60 triliun, naik
13,6%, dengan margin sekitar 47,6%. Laba bersih yang dilaporkan mencapai
sekitar Rp4,31 triliun, naik 84,5%. Menurut saya, revenue dan EBITDA
justru lebih penting dibanding headline pertumbuhan laba 84%.
Kenapa? Karena sebagian kenaikan
laba berasal dari keuntungan satu kali monetisasi FiberCo. Setelah menyesuaikan
efek tersebut, underlying profit semester I berada di kisaran sekitar Rp3,2–3,3
triliun.
Jadi jangan membaca: laba naik
84% → earning power ISAT otomatis naik 84%. Itu terlalu agresif. Yang lebih
sehat adalah melihat: Revenue +13% → EBITDA +14% → margin stabil/naik → ARPU
naik → leverage turun.
Menurut saya, kualitas
pertumbuhan seperti ini justru lebih menarik.
2. ARPU menjadi indikator
paling penting
Blended ARPU ISAT sudah naik ke
sekitar Rp46.000, dibanding kisaran Rp39.000 pada periode sebelumnya.
Trafik data juga tumbuh kuat, sementara pelanggan sekitar 93 juta. Menurut saya, cerita paling penting di
industri telco Indonesia sekarang bukan subscriber growth. Pasarnya sudah
sangat mature. Pertanyaannya berubah menjadi: berapa besar uang yang bisa
dihasilkan dari setiap pelanggan?
Jadi: subscriber turun sedikit
tetapi ARPU naik 15%–17%
bisa jauh lebih sehat dibanding: subscriber
naik tetapi ARPU terus turun akibat perang harga.
Konsolidasi industri setelah
terbentuknya XLSmart juga membantu mengurangi tekanan kompetisi ekstrem. Kalau
pricing discipline bertahan, ISAT punya ruang meningkatkan:
a) ARPU
b) EBITDA
c) free
cash flow
d) ROIC
tanpa harus mengejar pelanggan
murah.
3. FiberCo bukan hanya jual
aset
Menurut saya, transaksi FiberCo
sering disederhanakan menjadi: “ISAT jual fiber dan dapat Rp11,7 triliun.”
Padahal implikasinya lebih besar.
ISAT memonetisasi jaringan fiber lebih dari 86.000 km dan mendapatkan dana
tunai sekitar Rp11,7 triliun, sambil tetap mempertahankan kepentingan
ekonomi serta kendali operasional tertentu terhadap platform tersebut.
Tujuannya adalah mengubah aset
yang sebelumnya sangat capital intensive menjadi model yang lebih asset-light.
Efeknya: Invested capital
turun → ROIC naik.
Ada data dari DBS sebelumnya
memperkirakan ROIC ISAT dapat menuju sekitar 12% pada 2026, dibanding kisaran
10% sebelumnya. Sucor juga memperkirakan monetisasi dapat meningkatkan ROIC
dari sekitar 9,4% menuju 10,1%.
Menurut saya, ini penting karena
perusahaan telekomunikasi sering mendapatkan rerating bukan ketika revenue
tiba-tiba melejit, tetapi ketika return on capital membaik.
4. Neraca ISAT sekarang jauh
lebih kuat
Per akhir Juni 2026:
a) Utang
pokok sekitar Rp18,54 triliun.
b) Kas
sekitar Rp15,78 triliun.
c) Net
debt hanya sekitar Rp2,75 triliun.
d) Ekuitas
sekitar Rp40,10 triliun.
Net debt/EBITDA juga sudah sangat
rendah. Menurut saya, ini memberikan tiga keuntungan sekaligus.
1. Pertama,
risiko finansial turun.
2. Kedua,
ISAT mempunyai ruang membiayai spektrum dan rollout 5G.
3. Ketiga,
peluang menaikkan dividend payout menjadi lebih realistis.
Jadi transaksi FiberCo bukan
sekadar menghasilkan keuntungan akuntansi satu kali. Yang lebih penting adalah flexibility
balance sheet setelah transaksi.
5. Ada potensi special
dividend
Beberapa analis memperkirakan
kelebihan kas setelah transaksi FiberCo dapat membuka ruang special dividend
sekitar Rp4,9–5,6 triliun, setara potential yield sekitar 7,6%–8,7%
berdasarkan harga pada saat estimasi dibuat. Menurut saya ini katalis menarik, tetapi
jangan dimasukkan sebagai kepastian.
Karena uang FiberCo juga
dibutuhkan untuk:
- pembayaran spektrum,
- pembangunan 5G,
- capex jaringan,
- AI/cloud infrastructure.
Jadi saya melihat special
dividend sebagai potential upside, bukan bagian utama fair value. Kalau
keluar, bagus. Kalau tidak, thesis investasi seharusnya tetap berdiri.
6. 5G ISAT sekarang mulai
punya model bisnis yang lebih jelas
Jumlah BTS 5G ISAT melonjak
sangat cepat menuju sekitar 10.000 unit pada kuartal I/2026. Namun menurut saya, hal menariknya bukan
jumlah BTS. ISAT justru mengatakan fokus mereka adalah monetisasi. Targetnya
antara lain:
a) private
network untuk pertambangan,
b) manufaktur,
c) logistik,
d) banking,
e) smart
city,
f)
AI monitoring,
g) connected
worker,
h) autonomous
operations.
Ini lebih masuk akal dibanding
membangun 5G secara masif lalu berharap pelanggan retail bersedia membayar jauh
lebih mahal. ISAT juga memperoleh tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz,
yang akan mendukung coverage dan kapasitas 5G serta produk FWA seperti HiFi
Air.
Menurut saya: 700 MHz =
coverage. Sedangkan 2,6 GHz = capacity.
Kombinasi keduanya membuat
economics jaringan lebih menarik.
7. AI memang menarik, tapi
belum saya kasih valuasi besar
ISAT sedang membangun ekosistem
AI melalui Lintasarta dan kolaborasi dengan Nvidia, Nokia, Google, GoTo, serta
pengembangan GPU-as-a-Service dan Sahabat AI. Strategis? Ya. Sudah material terhadap laba?
Menurut saya, belum. Karena itu saya tidak mau memasukkan premium terlalu besar
hanya karena ada kata “AI”. Saya ingin melihat:
revenue AI → EBITDA AI →
customer enterprise → utilization GPU → recurring revenue.
Baru kemudian bisnis ini pantas
mendapat rerating tersendiri. Untuk sekarang AI lebih tepat dianggap sebagai long-term
optionality.
8. Ada satu bagian yang perlu
hati-hati: laba Rp4,31 triliun
Ini penting untuk valuasi. ISAT
memang melaporkan laba semester I sekitar Rp4,31 triliun. Namun ada keuntungan
one-off dari FiberCo. Karena itu menurut
saya lebih tepat memakai normalized earnings.
Saya menggunakan asumsi kasar: Normalized
1H26 ≈ Rp3,2–3,3 triliun
Lalu untuk setahun:
Bear case: Rp5,8 triliun Base
case: Rp6,4 triliun Bull case: Rp7,0 triliun
Angka base case ini juga relatif
dekat dengan estimasi BRI Danareksa sebelumnya sekitar Rp6,47 triliun. Ini hanya
perbandingan saja.
Sekarang masuk ke valuasi
ISAT ditutup pada 30 Juli 2026
di Rp1.925, naik 1,32%, dengan range perdagangan Rp1.865–Rp1.960.

Jumlah saham beredar sekitar 32,25
miliar saham. Pendekatan P/E
Dengan normalized net income base
case Rp6,4 triliun : EPS kira-kira: Rp6,4 triliun ÷ 32,25 miliar = sekitar
Rp198/saham.
Di harga Rp1.925: Forward P/E
≈ 9,7x.
Menurut saya, angka ini tidak
mahal untuk perusahaan yang:
a) revenue
tumbuh dua digit,
b) EBITDA
tumbuh dua digit,
c) ARPU
meningkat,
d) ROIC
membaik,
e) leverage
sangat rendah.
Sebagai referensi, riset BRI
Danareksa sebelumnya menggunakan FY26F P/E ISAT sekitar 9,9x sementara TLKM
sekitar 12,6x. Saya menggunakan fair
multiple 12–13x, bukan 15–16x, supaya masih cukup konservatif.
Base case.
EPS Rp198 × P/E 12x ≈ Rp2.380
EPS Rp198 × 12,5x ≈ Rp2.480
EPS Rp198 × 13x ≈ Rp2.580
Menurut saya, area fair value
yang cukup masuk akal adalah: Rp2.400 – Rp2.600 dengan base fair value
sekitar: Rp2.480
Pendekatan PBV
Book value per share ISAT saat
ini sekitar Rp1.149, sementara harga Rp1.925 berarti PBV sekitar 1,65x.
Kalau diberikan fair PBV:
1,8x → Rp2.070 1,9x →
Rp2.180 2,0x → Rp2.300 2,1x → Rp2.410
Menurut saya PBV tidak sebaik P/E
atau EV/EBITDA untuk valuasi telco, terutama setelah monetisasi FiberCo. Kenapa?
Karena perusahaan sedang sengaja mengurangi aset dari balance sheet untuk
meningkatkan ROIC. Kalau kita hanya melihat PBV, perusahaan yang menjadi lebih
asset-light justru bisa terlihat lebih mahal. Jadi saya menggunakan PBV hanya
sebagai cross-check, bukan metode utama.
Fair Value Saya
Dengan kombinasi:
a) normalized
earnings,
b) P/E,
c) PBV,
d) improving
ROIC,
e) FiberCo,
f)
5G,
g) dan
current analyst consensus,
saya akan menaruh : Conservative
fair value Rp2.200–2.300
Jika pertumbuhan melambat atau
ARPU tidak berlanjut.
Base fair value Rp2.400–2.500.
Dengan laba normalisasi sekitar Rp6,3–6,5 triliun.
Bull case Rp2.700–2.800 Jika
EBITDA guidance tercapai kuat, monetisasi 5G/AI mulai terlihat, dan earnings
mendekati Rp7 triliun.
Sebagai pembanding, konsensus
analis terbaru berada sekitar Rp2.743, atau sekitar 42% di atas harga
Rp1.925. Maybank terbaru mencatat target Rp2.500, sementara beberapa riset lain
berada lebih tinggi.
Margin of Safety
Kalau menggunakan fair value base
Rp2.480 : Harga sekarang = Rp1.925.
Discount terhadap fair value: sekitar
22%.
Upside menuju fair value: sekitar
29%.
Menurut saya ini sudah cukup
menarik, tetapi belum masuk kategori deep value.
Kalau saya membutuhkan margin of
safety 25%:
Rp2.480 × 75% ≈ Rp1.860
Kalau ingin 30%: ≈ Rp1.735
Jadi secara valuasi:
< Rp1.800 → sangat menarik
Rp1.800–1.900 → menarik
Rp1.900–2.050 → masih
reasonable untuk akumulasi bertahap
Rp2.300–2.500 → mulai
mendekati fair value
> Rp2.600 → butuh earnings
upgrade agar tetap murah
Jadi Rp1.925 menarik atau
tidak?
Menurut saya: menarik, tetapi
bukan harga yang harus dikejar agresif. Alasannya bukan karena sahamnya
sudah turun. Alasannya karena pada Rp1.925 kita mendapatkan bisnis yang
kemungkinan menghasilkan normalized EPS sekitar Rp190–200 per saham dengan:
a) forward
P/E sekitar 9–10x,
b) ARPU
yang membaik,
c) neraca
semakin ringan,
d) ROIC
meningkat,
e) growth
5G mulai masuk fase monetisasi,
f)
dan optionality dari AI serta special dividend.
Tetapi saya tetap ingin diskon
lebih besar karena terdapat risiko:
a) kenaikan
biaya spektrum,
b) capex
5G,
c) kompetisi
tarif kembali agresif,
d) ARPU
stagnan,
e) monetisasi
AI lebih lambat,
f)
FiberCo menghasilkan economics lebih rendah dari
ekspektasi.
Pengaruh ke Market
Menurut saya, ISAT saat ini
menjadi salah satu saham yang cukup menarik untuk melihat perubahan industri
telekomunikasi Indonesia. Narasinya mulai bergeser dari:
perang harga + subscriber
growth
menjadi:
ARPU + ROIC + free cash flow +
monetisasi aset.
Kalau model ini berhasil, bukan
hanya ISAT yang mendapatkan sentimen positif. Sektor telekomunikasi secara
keseluruhan bisa mendapatkan rerating karena investor mulai melihat bahwa
industri ini tidak lagi sekadar membutuhkan capex besar dengan return rendah.
Namun ISAT mempunyai posisi yang
cukup unik karena perusahaan:
lebih agresif dibanding TLKM
dalam transformasi, tetapi sudah jauh lebih matang dibanding pemain digital
fiber yang masih berada pada tahap ekspansi awal.
Kesimpulan
Menurut saya, thesis ISAT
sekarang cukup sederhana. Core business-nya sedang membaik.
a) ARPU
naik.
b) Revenue
tumbuh dua digit.
c) EBITDA
tumbuh dua digit.
d) Neraca
semakin sehat.
e) FiberCo
mengurangi capital intensity.
f)
5G mulai mempunyai use case yang lebih jelas.
g) AI
memberikan optionality tambahan.
Yang perlu dihindari adalah
menggunakan laba Rp4,31 triliun semester I secara mentah untuk annualisasi,
karena ada one-off FiberCo. Dengan normalized earnings sekitar Rp6,4 triliun
untuk 2026, saya mendapatkan fair value sekitar: Rp2.400–Rp2.500
dan bull case sekitar: Rp2.700–Rp2.800.
Dengan penutupan Rp1.925 pada
30 Juli 2026, menurut saya valuasinya sudah menarik dengan margin terhadap
base fair value sekitar 22%. Namun
untuk mendapatkan margin of safety 25% atau lebih, area yang lebih ideal
berada sekitar Rp1.850-an atau lebih rendah.
Jadi saya tidak melihat ISAT
sebagai saham yang “murah sekali”. Saya melihatnya sebagai:
bisnis yang kualitasnya sedang
meningkat, sementara pasar belum memberikan multiple terlalu mahal. Dan
menurut saya, itu justru lebih menarik daripada sekadar membeli saham karena
P/E rendah.
Kesimpulan akhirnya: pada
Rp1.925, ISAT sudah masuk kategori menarik untuk dicermati atau akumulasi
bertahap, tetapi area Rp1.800–Rp1.850 memberikan risk-reward yang lebih nyaman.
Ini adalah analisis valuasi,
bukan rekomendasi transaksi. Fair value dapat berubah jika earnings, capex,
spektrum, atau kondisi kompetisi berubah.