TULISAN INI DIBUAT TANGGAL 29 MARET 2026
1. Inti kasusnya dulu
Laba DEWA di 2025 naik sangat besar
sampai sekitar Rp4,31 triliun. Kalau dilihat sekilas, orang bisa mengira
bisnis DEWA tiba-tiba meledak sangat besar.
Padahal, penyebab utamanya bukan
dari operasional biasa, tapi dari keuntungan akuntansi setelah DEWA
mengakuisisi PT Gayo Mineral Resources atau GMR.
Jadi inti ceritanya bukan: DEWA
tiba-tiba dapat uang tunai triliunan dari hasil kerja operasional
Tapi lebih
ke:
a) DEWA
membeli aset yang menurut hitungan akuntansi nilainya jauh lebih tinggi dari
harga belinya
b) selisih itu masuk ke laba sebagai goodwill
negatif
2. Awal mula kejadiannya: DEWA
akuisisi GMR
DEWA melalui entitas anak tidak
langsung, yaitu PT Mahadaya Imajinasi Nusantara, merealisasikan akuisisi
99,75% kepemilikan GMR.
Di catatan ini juga dijelaskan bahwa
akuisisi dilakukan:
ü memakai realisasi
uang muka investasi
ü tanpa
tambahan arus kas baru
ü nilai
biaya perolehannya sekitar Rp844.479.470

DEWA resmi mengambil alih GMR, dan biaya yang dipakai untuk akuisisi ini
relatif kecil dibanding nilai aset yang nanti dihitung.
3. Kenapa bisa muncul goodwill negative?
Setelah perusahaan membeli perusahaan
lain, akuntansi tidak berhenti di harga beli saja.
Akuntan akan menghitung:
a) berapa nilai
wajar aset bersih perusahaan yang dibeli
b) berapa harga
perolehannya
Kalau ternyata:
a) nilai
wajar aset bersih lebih besar
b) daripada harga
beli
maka selisihnya akan dicatat sebagai goodwill
negatif. Bahasa gampangnya begini:
ü ada
sesuatu yang nilainya dianggap mahal
ü tapi
berhasil dibeli dengan harga sangat murah
ü selisih
itu dianggap keuntungan akuntansi
4. Detail hitung-hitungan akuntansinya
Di kasus DEWA, perhitungannya kurang
lebih seperti ini:
a) Nilai
wajar aset neto teridentifikasi GMR: sekitar Rp6,699 triliun
b) dikurangi kepentingan
non-pengendali: sekitar Rp13,48 miliar
c) dikurangi liabilitas
pajak tangguhan: sekitar Rp1,305 triliun
d) dikurangi biaya
perolehan: sekitar Rp844 juta
Hasil akhirnya muncul goodwill
negatif sekitar Rp4,535 triliun

ü nilai aset
GMR yang diakui jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan DEWA
ü selisihnya
dicatat sebagai keuntungan akuntansi
ü angka
selisih itulah yang menjadi goodwill negatif sebesar Rp4,535 triliun
Kalau mau dibuat sangat sederhana
untuk pemula :
a) DEWA beli
murah
b) nilai aset
yang dibeli dianggap tinggi
c) selisihnya
masuk ke laba
5. Di laporan laba rugi, angka itu
masuk ke mana?
Setelah goodwill negatif dihitung,
angka itu kemudian dimasukkan ke bagian: Lain-lain bersih
Di sana terlihat ada pos:
a) goodwill
negatif yang timbul dari akuisisi entitas anak tanpa tambahan kas
b) nilainya
sekitar Rp4,535 triliun
Karena angka ini sangat besar, laba
bersih DEWA di kuartal 4 langsung melonjak tajam.

a) angka
goodwill negatif itu benar-benar masuk ke laporan laba rugi
b) bukan cuma
teori
c) dan itulah
yang mendorong total laba bersih 2025 naik sangat tinggi
6. Kenapa laba kuartal 4 bisa lompat
dari puluhan miliar jadi triliunan?
Karena keuntungan akuntansi tadi diakui
pada periode itu. Jadi urutannya begini:
a)
DEWA akuisisi GMR
b)
nilai wajar aset bersih GMR dihitung
c)
hasilnya jauh lebih besar dari biaya akuisisi
d)
muncul goodwill negatif Rp4,535 triliun
e)
angka itu masuk ke laba rugi
f)
laba kuartal 4 langsung melonjak
Jadi : laba DEWA meledak karena ada
pencatatan keuntungan akuntansi besar dari akuisisi GMR
7. Apakah itu berarti DEWA benar-benar
dapat uang tunai Rp4,5 triliun
Tidak. Ini
bagian yang paling penting untuk dipahami pemula. Angka Rp4,535 triliun itu bukan
berarti ada uang kas segitu yang masuk ke rekening DEWA.
Itu adalah:
ü laba
pembukuan
ü laba
akuntansi
ü keuntungan
atas selisih nilai aset dan harga beli
Jadi jangan langsung berpikir: laba
besar = kas besar
Karena dalam kasus ini:
a) labanya
besar
b) tapi
sifatnya non-operasional
c) dan sangat
terkait dengan transaksi akuisisi
8. Kenapa ini penting?
Karena banyak pemula melihat satu
angka saja :
ü laba naik
besar
ü lalu
langsung mengira bisnisnya sangat hebat
Padahal yang benar, harus cek dulu:
a) laba itu
datang dari operasional atau bukan
b) sifatnya
rutin atau cuma sekali
c) ada kas
masuk besar atau hanya pencatatan akuntansi
Kalau kasusnya seperti DEWA, maka cara
bacanya harus hati-hati.
Kesimpulan untuk pemula:
ü headline
laba besar itu benar
ü tapi
sumbernya bukan murni bisnis inti
ü dan belum
tentu bisa terulang di tahun berikutnya
9. Cara baca yang benar untuk investor
pemula
Kalau ketemu kasus seperti ini, pakai
kerangka sederhana berikut : Pertama, Lihat dulu pendapatan naik besar
atau tidak Kalau pendapatan biasa saja tapi laba meledak, berarti ada faktor
lain
Kedua, Cari di
laporan keuangan apakah ada:
a) akuisisi
b) penjualan
aset
c) revaluasi
d) pendapatan
lain-lain besar
Ketiga, Bedakan:
ü laba
operasional
ü laba
akuntansi satu kali
Keempat, Tanya ke
diri sendiri : ini bisa berulang tidak ? kalau tidak bisa
berulang, berarti jangan dianggap sebagai laba normal tahunan ?
DEWA mencatat laba sangat besar di
2025 bukan karena bisnis operasionalnya tiba-tiba meledak, tapi karena setelah
mengakuisisi GMR, nilai aset bersih GMR yang dihitung secara akuntansi jauh lebih
tinggi daripada harga akuisisinya. Selisih itu dicatat sebagai goodwill negatif
sekitar Rp4,535 triliun, lalu masuk ke laba rugi dan membuat laba kuartal 4
serta laba tahunan melonjak sangat tinggi. Jadi ini lebih tepat dibaca sebagai
keuntungan akuntansi dari transaksi akuisisi, bukan murni uang kas hasil
operasional.