Harga minyak dunia ditutup melemah tajam dan berada di dekat level terendah dalam hampir lima tahun pada perdagangan Selasa (16/12/2025). Pasar terus dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan global, di tengah menguatnya prospek kesepakatan damai Rusia–Ukraina yang berpotensi membuka kembali aliran pasokan minyak Rusia ke pasar dunia.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent ditutup turun US$ 1,64 (2,71%) ke level US$ 58,92 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot US$ 1,55 (2,73%) ke posisi US$ 55,27 per barel. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Februari 2021.
Analis Rystad Energy Janiv Shah menilai, tekanan pada harga minyak semakin kuat seiring pasar mulai memperhitungkan kemungkinan tambahan pasokan dari Rusia. “Brent pagi ini turun ke bawah US$ 60 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, karena pasar menilai potensi kesepakatan damai yang dapat membuat volume minyak Rusia kembali tersedia dan semakin membanjiri pasar,” ujarnya.
Optimisme terhadap meredanya konflik Rusia–Ukraina menguat setelah Amerika Serikat menawarkan jaminan keamanan bagi Kyiv dengan skema mirip NATO. Para negosiator Eropa juga melaporkan adanya kemajuan dalam pembicaraan pada Senin. Meski demikian, Rusia menyatakan belum bersedia memberikan konsesi wilayah, sebagaimana dikutip kantor berita negara TASS dari Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov.
Dari sisi pasar, struktur harga minyak Brent untuk kontrak enam bulan ke depan tercatat berbalik ke kondisi contango untuk pertama kalinya sejak Oktober. Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pasokan yang melimpah dalam jangka menengah.
Barclays memperkirakan harga rata-rata Brent pada 2026 berada di kisaran US$ 65 per barel, sedikit di atas harga kontrak berjangka saat ini. Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan surplus pasokan global sekitar 1,9 juta barel per hari yang dinilai sudah tercermin dalam harga.
“Penurunan harga ini menegaskan dinamika struktural pasar energi saat ini, yakni pasokan yang berlimpah dan permintaan yang cenderung lesu. Tanpa intervensi risiko geopolitik atau perubahan kebijakan, tekanan harga berpotensi berlanjut hingga tahun depan,” tulis Energy Strategy Leader KPMG AS Angie Gildea dalam catatannya.
Sumber: investor.id