Harga emas menembus level tertinggi dalam lebih dari empat bulan didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pelemahan dolar AS.

Melansir Reuters pada Selasa (2/9/2025), harga emas di pasar spot naik 0,9% ke posisi US$3.477,56 per ounce, level tertinggi sejak 22 April ketika sempat menyentuh rekor US$3.500,05.

Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS pengiriman Desember juga menguat 0,9% menjadi US$3.547,70 per ounce. Adapun, pasar keuangan AS tutup pada Senin karena libur Hari Buruh.

Indeks dolar AS diperdagangkan mendekati posisi terendah sejak 28 Juli terhadap sekeranjang mata uang, membuat emas yang dihargakan dalam dolar lebih murah bagi pembeli luar negeri.

“Emas, dan khususnya perak, memperpanjang reli kuat sejak Jumat, ditopang inflasi AS yang masih tinggi, pelemahan sentimen konsumen, ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta kekhawatiran atas independensi The Fed,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Data menunjukkan, indeks harga belanja konsumsi personal (PCE) AS naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada Juli, sesuai perkiraan.

Menurut Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, harga perak melanjutkan reli karena prospek suku bunga lebih rendah, sementara pasokan yang ketat menjaga sentimen bullish.

Pekan lalu, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly melalui unggahan di media sosial kembali menyuarakan dukungannya terhadap pemangkasan suku bunga, dengan alasan adanya risiko di pasar tenaga kerja.

“Pasar menunggu laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat mendatang. Jika sesuai ekspektasi, hal ini bisa membuka jalan bagi Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga mulai September, sehingga mendukung permintaan investasi,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Survei Reuters memperkirakan data non-farm payrolls Agustus akan menunjukkan penambahan 78.000 lapangan kerja, dibandingkan 73.000 pada Juli.

Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Minggu (31/8/2025) menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tetap melanjutkan pembicaraan dengan mitra dagang meski pengadilan AS memutuskan sebagian besar tarif impor ilegal.

Sumber: market.bisnis.com