Harga emas dunia masih berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan ini, meski tengah bergerak konsolidatif setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada minggu lalu. Dengan analis membidik target kenaikan hingga US$ 4.750 per ons.
Dikutip dari Kitco, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menjaga minat investor terhadap logam mulia.
Harga emas spot ditutup turun 0,43% di level US$ 4.595,03 per ons troi. Sepekan lalu, harga emas masih menguat 1,88%. Sedangkan sepanjang 2026, harga emas masih mencatatkan kenaikan sebesar 6,41%. Sementara rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) harga emas berada di level US$ 4.643,06 yang tercatat pada 14 Januari lalu.
Lonjakan harga dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik, isu Iran, serta gejolak politik domestik AS menyusul tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap The Fed.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler menilai, emas saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi sehat. “Pergerakan bullish belum berakhir. Namun, konsolidasi bisa membawa harga turun ke area US$ 4.550 sebelum kembali menguat,” ujar Chandler.
Pandangan serupa disampaikan Ole Hansen dari Saxo Bank yang menilai koreksi saat ini lebih dipicu aksi profit taking, terutama di pasar perak. “Ini bukan perubahan tren, hanya jeda sementara,” tegasnya.
Analis senior Kitco Jim Wyckoff menyebut, target kenaikan berikutnya berada di level US$ 4.750 per ons jika emas mampu menembus resistance kuat. “Target bullish terdekat adalah penutupan di atas US$ 4.750. Sementara support kuat berada di area US$ 4.400,” kata Wyckoff.
Sementara itu, analis Forex.com James Stanley melihat, setiap koreksi sebagai peluang beli. Ia menilai level US$ 4.500 merupakan area ideal bagi investor untuk kembali masuk pasar.
Survei Kitco News menunjukkan pandangan analis Wall Street masih terbelah. Dari 16 analis, hanya 50% yang memprediksi harga emas naik pekan ini. Sebanyak 25% memperkirakan penurunan, sementara 25% lainnya memprediksi pergerakan mendatar.
Ritel Makin Optimistis
Namun, investor ritel justru semakin optimistis. Dari 247 responden, sebanyak 78% memproyeksikan harga emas kembali naik, 11% memperkirakan turun, dan 11% memperkirakan bergerak sideways.
Senior broker RJO Futures Daniel Pavilonis memperingatkan, potensi lonjakan volatilitas masih sangat tinggi. “Pasar terlihat gugup di level harga yang tinggi. Koreksi bisa terjadi kapan saja, tetapi setiap penurunan masih cenderung dibeli kembali,” ujarnya.
Pavilonis menilai faktor geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah dan Iran, akan menjadi penentu utama arah harga emas pekan ini, dibandingkan data ekonomi.
Analis FxPro Alex Kuptsikevich memprediksi, emas berpotensi melemah dalam jangka pendek setelah AS menunda tarif atas mineral kritis. Namun, ia menegaskan tren jangka panjang emas tetap kuat karena proses dedolarisasi dan diversifikasi cadangan bank sentral dunia.
Sementara itu, pendiri Moor Analytics Michael Moor justru memproyeksikan harga emas masih akan melanjutkan penguatan, meski memperingatkan pasar mulai memasuki fase akhir reli besar. “Selama harga mampu bertahan di atas US$ 4.567, peluang penguatan kembali tetap terbuka,” ujarnya.
Pekan ini, pasar akan mencermati rilis data ADP Employment, PDB AS final kuartal III, inflasi PCE, indeks PMI, serta pidato Trump di World Economic Forum Davos. Namun, pelaku pasar menilai perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor dominan.
Sumber: investor.id