Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) loncat pada Senin (26/1/2026). Penguatan ini didorong kenaikan harga minyak nabati pesaing serta minyak mentah.

Sentimen positif juga datang dari data ekspor yang menunjukkan kinerja pengapalan yang solid sepanjang Januari.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Senin (26/1/2026), kontrak berjangka CPO untuk Februari 2026 naik 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.172 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2026 melesat 51 Ringgit Malaysia menjadi 4.215 Ringgit Malaysia pe ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO April 2026 terkerek 50 Ringgit Malaysia menjadi 4.225 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2026 melejt 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.216 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Juni 2026 juga terkerek 34 Ringgit Malaysia menjadi 4.195 Ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan Kontrak berjangka CPO Juli 2026 yang naik 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.175 Ringgit Malaysia per ton.

“Pergerakan harga sawit hari ini ditopang oleh data ekspor periode 1–25 Januari yang cukup baik serta produksi,” ujar seorang pedagang di Kuala Lumpur dikutip dari Tradingview.

Dari pasar global, harga minyak nabati pesaing turut menguat. Kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian naik 1,66%, sementara kontrak minyak sawit di Dalian melonjak 1,97%. Di sisi lain, harga soyoil di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,24%.

Pergerakan CPO umumnya mengikuti tren harga minyak nabati lain, mengingat sawit bersaing ketat di pasar minyak nabati global.

Dari sisi ekspor, survei kargo Intertek Testing Services mencatat ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1–25 Januari naik 9,97% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara AmSpec Agri Malaysia melaporkan kenaikan ekspor sebesar 7,97% pada periode yang sama.

Sentimen positif juga datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan setelah melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya, di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Namun demikian, penguatan ringgit turut menjadi faktor penahan laju kenaikan harga. Mata uang Malaysia tersebut menguat sekitar 1% terhadap dolar AS, sehingga membuat CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Sumber: investor.id