Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel periode 2026 pada hari ini, Selasa (10/2/2026).
Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno membeberkan kuota produksi bijih nikel yang disetujui berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton.
Kuota itu merosot lebar jika dibandingkan dengan target produksi pada RKAB tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.
“[RKAB] nikel sudah kita umumkan hari ini, [target produksinya] 260–270 juta ton, in between range-nya itu,” kata Tri kepada awak media di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Kuota RKAB nikel itu sejalan dengan kisi-kisi yang sebelumnya dibocorkan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).
Sebelumnya, Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan rencana produksi bijih nikel bakal ditetapkan di sekitar 250 juta ton untuk menopang harga di pasar.
“Rencana pemerintah gitu [produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sebanyak 250 juta ton]. Rencana ya. Namun, kan saya enggak tahu realisasinya,” kata Meidy ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).
“Biar harga naik dong. Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun ya,” tegas Meidy.
Impor Meningkat
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan impor bijih nikel dari Filipina berpotensi menyentuh 30 juta ton pada tahun ini, lebih tinggi dua kali lipat dari total impor sepanjang 2025 sebanyak 15 juta ton.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusuma menjelaskan kapasitas produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Indonesia pada tahun ini akan mencapai 2,7 juta dry metric ton (dmt) nikel kelas 1 dan kelas 2.
Arif menyatakan Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 40—50 juta wet metric ton (wmt) bijih saprolit dan limonit pada 2026 dari besaran tahun lalu sekitar 300 juta dmt.
Dengan demikian, bijih nikel yang dibutuhkan sepanjang tahun ini berpotensi naik menjadi 340—350 juta ton.
Jika produksi bijih pada 2026 dipangkas menjadi sekitar 250 juta ton, terdapat kekurangan pasokan dalam negeri sekitar 100 juta ton bijih.
Atas dasar itu, Arif memprediksi impor bijih nikel akan naik menjadi 50 juta ton tahun ini. Dari besaran itu, 30 juta ton di antaranya berasal dari Filipina.
“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta ton basah (wmt); di mana ≥30 juta ton basah [wmt] berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif ketika dihubungi, Kamis (8/1/2026).
Peningkatan kebutuhan bijih tersebut dipengaruhi ekspansi dan proyek smelter baru di Indonesia terutama dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang mulai beroperasi.
Arif juga menilai kekurangan pasokan bijih nikel dalam negeri tersebut tak dapat ditutupi secara keseluruhan dari impor.
“Diperkirakan masih ada kekurangan sekitar 50 juta ton basah,” ungkap dia.
Di sisi lain, sepanjang 2025 impor bijih nikel dari Filipina diprediksi menanjak ke level 15 juta ton, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 12 juta ton.
Arif menjelaskan 80% impor bijih nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Maluku Utara. Kemudian, sisanya impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan lokasi lainnya.
Sumber: bloombergtechnoz.com