Harga batu bara melejit pada Jumat (30/1/2026). Penguatan itu didorong solidnya permintaan listrik, terutama dari China, yang masih mengandalkan batu bara di tengah ekspansi besar-besaran pembangkit listrik dan lonjakan kebutuhan energi global.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2026 naik US$ 0,3% ke level US$ 108,9 per ton. Sedangkan Februari 2026 melejit US$ 5,75 menjadi US$ 117,5 per ton. Sementara itu, Maret 2026 melesat US$ 6,7 menjadi US$ 118,15 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2026 menguat US$ 1,25 menjadi US$ 100,2. Sedangkan, Februari 2026 terkerek US$ 4,6 menjadi US$ 103,4. Sedangkan pada Maret 2026 melesat US$ 5 menjadi US$ 102,6.
Dikutip dari TradingView, Harga kontrak berjangka batu bara termal yang dikirim dari pelabuhan Australia menguat ke atas US$ 111 per ton pada akhir Januari, level tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh bukti kuatnya permintaan pembangkit listrik dari berbagai sumber energi.
Penguatan harga tersebut mencerminkan masih solidnya kebutuhan batu bara global, terutama untuk sektor ketenagalistrikan. China, sebagai konsumen batu bara termal terbesar di dunia, dijadwalkan akan meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara sepanjang tahun ini, di luar lebih dari 400 unit pembangkit yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa China akan tetap bergantung pada batu bara dalam bauran energinya, meskipun sebelumnya sempat muncul indikasi preferensi terhadap energi terbarukan. Langkah tersebut sejalan dengan tren global peningkatan kapasitas pembangkit listrik untuk mengimbangi lonjakan permintaan, khususnya dari pusat data (data center) dan infrastruktur pengisian kendaraan listrik.
Di sisi lain, pasokan batu bara dari Indonesia diperkirakan mengalami penurunan. Produksi batu bara Indonesia tahun ini diproyeksikan turun menjadi sekitar 600 juta ton, dari hampir 800 juta ton pada tahun lalu. Penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya impor dari dua pasar utama, yakni China dan India.
Meski demikian, menguatnya harga batu bara global menunjukkan bahwa permintaan untuk kebutuhan energi masih menjadi faktor penopang utama, di tengah transisi energi yang berlangsung secara bertahap.
Sumber: investor.id