Harga minyak anjlok karena pedagang mempertimbangkan dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS terhadap pasokan minyak mentah global dan dampaknya secara luas pada sektor energi negara tersebut.
Brent turun mendekati US$60 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di sekitar US$57.
Pada Sabtu, Presiden Donald Trump mengatakan sanksi terhadap industri minyak Venezuela akan tetap berlaku. Namun, dia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan membantu membangun kembali infrastruktur dan menghidupkan kembali produksi, yang mungkin akan menjadi proses yang panjang.
Secara terpisah, OPEC+ tetap pada rencana untuk menangguhkan peningkatan pasokan pada kuartal pertama. Pasalnya pasar global menghadapi surplus dan kelompok tersebut menunggu kejelasan mengenai pasokan Venezuela. Kartel yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia tersebut bertemu pada Minggu.
Venezuela pernah menjadi kekuatan besar penghasil minyak, tetapi produksi negara tersebut merosot selama dua dekade terakhir dan kini hanya menyumbang kurang dari 1% dari pasokan global, yang sebagian besar diekspor ke China. Pasar menghadapi surplus besar tahun ini karena OPEC+ dan negara lain menambah produksi minyak mentah, saat permintaan melemah.
Tekanan AS terhadap rezim Maduro, termasuk penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Venezuela, memaksa negara tersebut mulai menutup beberapa sumur minyak. Trump mengatakan perusahaan AS akan menjual minyak “dalam jumlah besar” kepada pembeli global, termasuk pelanggan saat ini dan yang baru.
Pada Minggu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS akan menggunakan pengaruhnya atas minyak untuk memaksa perubahan lebih lanjut di Venezuela. Menurut sumber yang mengetahui situasinya, infrastruktur minyak negara tersebut tidak terpengaruh oleh serangkaian serangan AS di Caracas dan negara bagian lainnya.
Harga:
- Brent untuk pengiriman Maret turun 0,4% menjadi US$60,53 per barel pada pukul 7.02 pagi di Singapura.
- WTI untuk pengiriman Februari turun 0,5% menjadi US$57,06 per barel.
Sumber: bloombergtechnoz.com