PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencatatkan kinerja moncer di tengah tantangan saat ini. Secara konsolidasi, BCA meraup laba bersih Rp 43,4 triliun per September 2025, meningkat 5,7% dibandingkan September 2024.

Pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh pendapatan bunga sebesar Rp 74,13 triliun atau naik 5,24% secara year on year (yoy) pada sembilan bulan pertama 2025. Berikutnya, beban bunga BCA naik lebih tinggi, yakni 7,38% (yoy) menjadi Rp 10,04 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA tumbuh 4,93% (yoy) menjadi Rp 64,09 triliun.

Sementara itu, provisi yang dibukukan perseroan juga naik 60,1% (yoy) menjadi Rp 3,5 triliun per September 2025. 

Dari sisi rasio, BCA berhasil mempertahankan net interest margin (NIM) di level 5,8%. Sementara itu, cost of credit masih terjaga rendah 0,5%. 

Untuk return on asset (ROA) per September 2025 di level 4%. Sedangkan, return on equity (ROE) di posisi 24,1%. Kinerja BCA juga didukung kuatnya permodalan dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 29,9%.

Di sisi intermediasi, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengungkapkan, perseroan berhasil mencatat pertumbuhan kredit per September 2025 sebesar 7,6% (yoy) menjadi Rp 944 triliun.

“Penyaluran kredit korporasi menjadi yang tertinggi dibanding segmen lain, tumbuh 10,4% (yoy) mencapai Rp 436,9 triliun per September 2025,” kata Hendra dalam konferensi pers pemaparan kinerja BCA Kuartal III-2025, Senin (20/10/2025).

Adapun, kredit komersial naik 5,7% (yoy) menjadi Rp142,9 triliun, dan kredit UKM tumbuh 7,7% (yoy) menjadi Rp 129,3 triliun.

Pertumbuhan kredit konsumer menyentuh 3,3% (yoy) menjadi Rp 223,6 triliun, didorong kenaikan KPR sebesar 6,4% (yoy)menjadi Rp138,8 triliun. Outstanding pinjaman konsumer lainnya (mayoritas kartu kredit) tumbuh 6,9% (yoy) mencapai Rp 23,5 triliun. 

Sementara, dana pihak ketiga yang dihimpun naik 7% (yoy), ditopang oleh dana murah (current account saving account/CASA).

Terjaganya penyaluran kredit BCA di berbagai segmen dan sektor hingga September 2025 mencerminkan komitmen kami mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Penyelenggaraan BCA Expo 2025 yang diperpanjang hingga 31 Oktober menjadi wujud upaya perseroan mendorong pembiayaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

BCA UMKM Fest 2025 yang telah kami gelar berhasil menjangkau lebih dari 1.700 UMKM, dan menjadi salah satu upaya BCA mendorong perkembangan pelaku bisnis di berbagai skala. Ajang BCA Wealth Summit 2025 juga sukses mencatatkan lebih dari 4,5 juta pengunjung secara hybrid, membuktikan komitmen kami mengedukasi nasabah dan masyarakat agar semakin cermat mengelola keuangannya. 

Melalui anak perusahaan BCA Syariah, perseroan juga memberikan pembiayaan emas iB bagi nasabah yang ingin memiliki emas dengan kepastian harga, angsuran ringan, dan sesuai prinsip syariah. “Per September 2025, pembiayaan emas iB di BCA Syariah tumbuh 161,2% (yoy),” kata Hendra.

Kualitas pinjaman BCA tetap terjaga, terlihat dari rasio loan at risk (LAR) 5,5% pada kuartal III-2025, membaik dari 6,1%. Rasio non performing loan (NPL) terkendali di level 2,1%. Pencadangan NPL dan LAR tercatat memadai, masing-masing 166,6% dan 69,5%. 

Di sisi pendanaan, CASA tetap menjadi kontributor utama pendanaan BCA dengan nilai sekitar 83,8% dari total DPK. CASA tumbuh 9,1% (yoy) mencapai Rp 999 triliun. Pertumbuhan CASA selaras dengan total frekuensi transaksi BCA yang naik 78% dalam tiga tahun terakhir.

Sumber: investor.id