Bank-bank sentral global dilaporkan telah mengurangi laju pembelian emas yang tinggi pada kuartal ketiga 2025.
Dikutip dari Kitco News, Kamis (25/9/2025) analis logam mulia di Heraeus mengungkapkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral global, yang menjadi sumber utama dukungan bagi reli harga, telah melambat pada bulan Juli 2025.
“Meskipun beberapa bank sentral menambahkan emas ke cadangan mereka pada bulan Juli, termasuk Bank Rakyat China, Bank Nasional Kazakhstan, dan bank sentral Turki, penjualan 11 ton oleh bank sentral Indonesia berarti perubahan bersih dalam kepemilikan pada dasarnya nol,” tulis para analis Heraeus dalam catatan mereka.
“Pada paruh pertama tahun ini, bank sentral menambahkan 415 ton emas ke cadangan mereka, jumlah yang substansial, meskipun merupakan perlambatan dari rekor tertinggi tiga tahun terakhir ketika lebih dari 1.000 ton ditambahkan setiap tahun,” bebernya.
Analis Heraeus menilai, harga emas saat ini sudah mendorong jenuh beli menjelang pertemuan FOMC setelah naik lebih dari 10% dalam lima minggu terakhir.
Pada perdagangan hari Kamis (25/9), harga emas telah mengalami sedikit kenaikan. Perkembangan ini seiring investor menunggu rilis data inflasi utama Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.
Harga emas hari ini terlihat naik tipis 0,03% di level US$ 3.736,85 per troy ounce saat berita ditulis. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga tidak berubah di US$ 3.765,20 per troy ounce.
Diberitakan sebelumnya, pengamat pasar emas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa harga emas dunia selama seminggu ke depan diprediksi mencapai kisaran US$ 3,654.90 hingga resisitance US$ 3,715.60.
“Namun dalam semester kedua 2025, saya optimis harga emas dunia bisa mencapai US$ 3.788 per troy ounce dan logam mulia di Rp 2.180.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/9/2025).
Proyeksinya pada harga emas kali ini seiring fokus pelaku pasar yang kini mencermati situasi politik Amerika Serikat, di mana Mahkamah Agung menetapkan tanggal 5 November untuk mendengarkan argumen terkait legalitas tarif global Presiden Donald Trump.
Proyeksi kenaikan pada harga emas juga didukung oleh keputusan Trump untuk meminta Mahkamah Agung AS mengizinkan presiden melanjutkan pemecatan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook. Lankah ini sebelumnya sudah di tolak oleh pengadilan federal.
Sumber: investor.id