Harga emas melanjutkan relinya setelah menembus rekor tertinggi di atas US$3.500 per ounce seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan meningkatnya ketidakpastian global.
Melansir Reuters pada Rabu (3/9/2025) harga emas di pasar spot emas naik 1,5% menjadi US$3.529,01 per ounce, setelah sempat menyentuh level tertinggi US$3.529,93. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember ditutup menguat 2,2% ke US$3.592,2. Adapun, sepanjang tahun ini, harga emas telah terapresiasi 34,5%.
“Pasar emas memasuki periode musiman yang kuat, ditambah ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan Fed September. Kami terus memperkirakan rekor baru akan tercapai,” kata Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered Bank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar menilai ada peluang hampir 92% The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada 17 September mendatang. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Analis menilai reli emas tahun ini ditopang oleh pembelian bank sentral yang konsisten, diversifikasi dari dolar AS, tingginya permintaan aset lindung nilai di tengah gesekan geopolitik dan perdagangan, serta pelemahan dolar secara luas.
Ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Donald Trump juga menambah daya tarik emas. Perselisihan terbuka Trump dengan The Fed, termasuk kritik terhadap Ketua Jerome Powell dan upaya untuk mencopot Gubernur Lisa Cook, memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral.
“Tuduhan terhadap Cook adalah peringatan jelas bagi anggota FOMC lain untuk tunduk pada tekanan pemerintah agar memangkas suku bunga lebih agresif… Lingkungan seperti ini membuat investasi emas semakin menarik,” tulis Commerzbank dalam catatan risetnya.
Fokus pasar kini tertuju pada data tenaga kerja nonpertanian AS (nonfarm payrolls/NFP) yang akan dirilis Jumat. Data yang lemah dapat memicu kembali spekulasi pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin, kata Zain Vawda, analis MarketPulse OANDA.
“Saya tidak yakin itu akan terjadi, meski NFP buruk. Namun, pasar bisa mulai memperhitungkan kemungkinan itu, yang dapat memicu reli emas lebih lanjut,” ujarnya.
Arus masuk dana ke ETF turut memperkuat reli harga. SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, melaporkan kepemilikan naik 1,01% pada Jumat lalu menjadi 977,68 ton, tertinggi sejak Agustus 2022.
“Pembelian bank sentral dapat terus menopang harga emas, tetapi dibutuhkan arus masuk ETF untuk mendorong harga menembus lebih tinggi lagi menuju target bullish akhir tahun di US$3.675 per ounce,” kata Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global J.P. Morgan.
Dia menambahkan, harga emas diperkirakan bisa menembus US$4.250 pada akhir 2026.
Sumber: market.bisnis.com