PT Alamtri Resources Indonesia Tbk tidak lagi sekadar jadi raja batu bara. Perusahaan dengan kode emiten ADRO ini telah menata langkah besar menuju energi hijau. Salah satu gebrakan terbesarnya adalah investasi di Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA Mentarang Induk yang terletak di Sungai Mentarang—sekitar 35 kilometer dari bagian hulu Kota Malinau di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Lewat PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN), ADRO memegang 50 persen saham dalam proyek ini. KHN merupakan perusahaan patungan dari PT Kayan Patria Pratama asal Indonesia dan Sarawak Energy Berhad asal Malaysia. Masing-masing perusahaan tersebut pun memegang saham KHN sebesar 25 persen. Kapasitasnya tidak main-main—mencapai 1.375 MW dengan investasi yang membengkak sampai USD2,6 miliar atau sekitar Rp40 triliun. Ini bukan proyek coba-coba.
ADRO melihat ini sebagai pijakan baru menuju era diversifikasi energi. Tak heran jika proyek ini dianugerahi status Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 21 Tahun 2022.

Groundbreaking sudah dilakukan sejak Maret 2023. Konstruksi dimulai kuartal pertama 2024. Kalau semua berjalan mulus, listrik dari PLTA ini bisa mengalir pada 2029 atau 2030. Kapasitas produksinya mencapai 9 TWh per tahun. Nantinya, listrik dari sini bakal jadi tumpuan Kawasan Industri Hijau Kalimantan Utara bahkan hingga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Tapi jangan salah, ini bukan sekadar proyek listrik hijau buat pajangan di laporan tahunan. ADRO punya target besar. Pada 2030, separuh pendapatannya harus berasal dari sektor non-batu bara termal. Untuk itu, mereka bakal ngebut mempercepat ekspansi ke sektor hilir, salah satunya membangun smelter aluminium berkapasitas 1,5 juta ton per tahun lewat anak usahanya PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR). Smelter ini akan mulai beroperasi dengan kapasitas awal 500 ribu ton pada 2025.
Spesifikasi PLTA Mentarang Induk
PLTA ini akan memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.375 megawatt (MW) dengan potensi daya tetap mencapai 850 MW. Dengan desain Concrete Faced Rockfill Dam (CFRD)—yang menggunakan urugan batu dengan membran beton—bendungan ini akan memiliki tinggi mencapai 235 meter dan menjadikannya salah satu bendungan tertinggi di Indonesia. Dari sisi infrastruktur, panjang puncak bendungan mencapai 815 meter, sementara luas area waduk yang akan dibentuk diperkirakan sekitar 226 kilometer persegi.
Target operasionalnya telah ditetapkan pada tahun 2030, seiring dengan pembangunan infrastruktur transmisi yang akan menghubungkan listrik dari Mentarang Induk ke KIPI melalui jalur yang melintasi Kabupaten Malinau, Tana Tidung, dan Bulungan. Saat ini, proyek PLTA Mentarang Induk masih berada dalam tahap pengembangan desain awal. Namun, dengan peran strategisnya dalam mendukung industri hijau, proyek ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju energi terbarukan yang lebih masif dan berkelanjutan.
Cuan dari PLTA Mentarang Induk, Berapa Besar?
PLTA Mentarang Induk tidak hanya sekadar simbol transisi energi. Ini mesin cetak duit jangka panjang. Dengan produksi listrik 9 TWh per tahun, proyek ini berpotensi meraup pendapatan besar. Kalau harga listrik dipatok antara USD0,05–0,07 per kWh, pemasukan kasarnya bisa menyentuh ratusan juta dolar per tahun.
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022, tarif tertinggi untuk listrik dari PLTA skala besar seperti ini dipatok: 7,65 sen dolar AS per kWh untuk tahun ke-1 hingga ke-1, 6,50 sen dolar AS per kWh untuk tahun ke-11 hingga ke-30
Mari berhitung : Produksi listrik tahunan: 9 TWh = 9.000.000.000 kWh, Tarif listrik: USD 7,65 sen = USD 0,0765 per kWh, Total pendapatan tahunan: 9 miliar kWh × USD 0,0765 per kWh = USD688,5 juta. Dengan asumsi kurs Rp16.500 per USD, totalnya: Rp11,36 triliun per tahun. Karena ADRO menguasai 50 persen saham di KHN, maka porsi pendapatan yang menjadi hak ADRO adalah: 50 persen × Rp 10,33 triliun = Rp5,68 triliun.
Dengan demikian, potensi pendapatan tahunan ADRO dari PLTA Kayan diproyeksikan sekitar Rp5,68 triliun selama 10 tahun pertama operasi. PLTA Mentarang Induk juga menjadi sumber energi utama bagi smelter aluminium Adaro Minerals untuk memastikan operasional industri berjalan dengan biaya energi yang lebih murah dan rendah karbon.
Dengan kata lain, ADRO tidak hanya memperoleh pendapatan dari penjualan listrik untuk negara, tetapi juga meningkatkan profitabilitas bisnis hilirnya. Dari sisi keuangan, ADRO jelas bukan pemain kemarin sore. Perusahaan tambang ini punya kantong yang cukup tebal buat membiayai proyek PLTA Mentarang Induk.
Berdasarkan Laporan Tahunan ADRO tahun 2022, laba bersih perusahaan yang dikomandoi Garibaldi Thohir ini sempat ngebut ke USD2,83 miliar, naik 175 persen secara tahunan (YoY). Meski pada 2023 ada sedikit koreksi, mereka tetap mengantongi USD1,64 miliar (sekitar Rp25,7 triliun)—angka yang masih melampaui target internal.
Dengan kas yang solid, ADRO berani mengalokasikan USD1,3 miliar untuk proyek ini dengan didukung oleh kombinasi ekuitas dan pinjaman berbunga rendah. Kalau kesepakatan Power Purchase Agreement (PPA) dan financial close bisa dituntaskan pada 2024, ADRO berpotensi mengamankan pendanaan dengan bunga kompetitif yang bakal memperkecil risiko keuangan proyek ini.
Biar lebih lancar, ADRO tak jalan sendirian. Mereka menggandeng Sarawak Energy asal Malaysia, pemain kawakan yang sudah mengoperasikan lebih dari 3.400 MW PLTA. Standar pengerjaan pun dijaga biar proyek ini tak sekadar jadi wacana.
Bahkan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan—yang sebelumnya menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi—secara terang-terangan bilang kalau kapabilitas finansial dan eksekusi ADRO membuat proyek ini jadi salah satu yang paling strategis dalam agenda energi nasional.
“Adaro dan KPP Group adalah perusahaan Indonesia yang memiliki kemampuan finansial dan eksekusi yang kuat. Sedangkan Serawak Energy adalah perusahaan Malaysia yang memiliki pengalaman dalam membangun dan mengoperasikan PLTA dengan kapasitas lebih dari 3.400 MW,” kata Luhut saat meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) PLTA Mentarang di Malinau, Kalimantan Utara, pada Rabu, 1 Maret 2023, lalu.
Sumber : kabarbursa.com