Sejumlah calon emiten dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal 2025 di tengah pasar saham Indonesia yang sedang lesu. Berdasarkan data e-IPO, setidaknya ada delapan calon emiten yang sedang dalam proses penawaran saham perdana ke publik (initial public offering/IPO) dan dijadwalkan melantai di Bursa pada awal 2025. Salah satu calon emiten dari sektor keuangan PT Asuransi Digital Bersama Tbk. (YOII) berencana IPO dengan membidik dana segar hingga Rp45,33 miliar. YOII dijadwalkan melantai di Bursa pada 3 Januari 2025.

Kemudian, anak usaha PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), yakni PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang bergerak di sektor energi, merancang IPO dengan jumlah dana segar Rp624,46 miliar. Tanggal pencatatan saham RATU pada 8 Januari 2025. Lalu, PT Kentanix Supra International Tbk. (KSIX) dari sektor properti dan real estate menggelar IPO dengan dana yang diharapkan sebanyak-banyaknya Rp150,07 miliar. KSIX dijadwalkan melantai di Bursa pada 8 Januari 2025.

Calon emiten lainnya datang dari sektor infrastruktur yakni PT Hero Global Investment Tbk. (HGII) yang berpotensi meraup dana segar Rp299 miliar dari IPO. HGII dijadwalkan melantai di Bursa pada 9 Januari 2025 mendatang. PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk. (OBAT) dari sektor healthcare akan IPO dengan dana segar yang berpotensi diraup Rp59,50 miliar.

Saham OBAT akan dicatatkan di Bursa pada 9 Januari 2025 mendatang. PT Raja Roti Cemerlang Tbk. (BRRC) dari sektor consumer non-cyclicals berpotensi meraih dana segar hingga Rp61,21 miliar dari IPO. BRRC dijadwalkan melantai di Bursa pada 9 Januari 2025. PT Delta Giri Wacana Tbk. (DGWG) dari sektor basic materials berencana IPO dengan dana yang diharapkan mencapai Rp1,03 triliun. DGWG akan melantai di Bursa pada 10 Januari 2025.

Selain itu, anak usaha PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dari sektor properti dan real estate berpeluang meraih dana Rp2,3 triliun dari IPO. CBDK akan melantai di Bursa pada 13 Januari 2025.

Meski begitu, seiring dengan ramainya IPO, pasar saham Indonesia saat ini sedang lesu. Berdasarkan data BEI, IHSG memang menguat 0,09% ke level 6.983,87 pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (20/12/2024). Namun, IHSG masih melemah 4,65% dalam sepekan perdagangan terakhir dan belum beranjak dari level di bawah 7.000. IHSG juga turun 2,74% dalam sebulan perdagangan dan ambrol 9,8% dalam tiga bulan terakhir. Sementara, IHSG masih di zona merah atau turun 3,97% sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD).

Lesunya IHSG terjadi seiring dengan masih tingginya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Tercatat, nilai jual bersih atau net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp4,08 triliun dalam sepekan perdagangan atau dari 16 Desember 2024 sampai 20 Desember 2024. Dalam sebulan perdagangan, tercatat juga net sell asing di pasar saham sebesar Rp11,1 triliun. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan meskipun IHSG mengalami fluktuasi, proyeksi untuk pasar IPO pada 2025 tetap optimistis, terlebih menurutnya masih ada beberapa antrean saham-saham yang cukup menarik akan segera listing. 

“Justru kami lihat para pelaku pasar masih cukup bullish dengan saham-saham IPO di tengah indeks yang lagi cukup volatil,” ujar Miftahul kepada Bisnis.com, Jumat (20/12/2024). Ia menilai terdapat sejumlah saham yang cukup menarik bagi investor, di antaranya anak usaha PANI yakni CBDK dan anak usaha RAJA, yakni RATU. “Masing-masing [CBDK dan RATU] punya exposure besar dari PANI dan RAJA. Selain itu secara segmentasi bisnis kedua saham IPO tersebut masih tergolong cukup menarik. Kinerjanya pun masih tergolong cukup atraktif,” tutur Miftahul. 

Associate Director of Research and Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai sejauh ini potensi serapan pasar atas saham IPO tergantung dari industrinya, perusahaannya, serta situasi dan kondisi market, baik global maupun dalam negeri. Selama perusahaannya memiliki kriteria tersebut, ia menilai potensi serapan masih akan terbuka lebar.  “Hanya saja, memang momentum menjadi salah satu poin yang sangat penting untuk diperhatikan dalam mendapatkan serapan dana maksimal,” kata Nico kepada Bisnis.com, Jumat (20/12/2024).

Alhasil, ia menilai semua akan tergantung kebijakan dari perusahaan sendiri. Selain itu, ia menilai di tengah era masih tingginya tingkat suku bunga, potensi serapan dari pasar modal masih terbuka lebar.  “Penerbitan obligasi juga mungkin akan tertahan akibat dari tingginya tingkat suku bunga, sehingga IPO saham masih dipandang sebagai sesuatu yang menarik karena menawarkan cost of fund [biaya dana] yang jauh lebih kecil,” tuturnya.

Hanya saja, menurut Nico, perusahaan yang melantai diharapkan memiliki nilai kelayakan agar dapat menarik investor untuk berinvestasi. Ia sendiri menilai calon emiten seperti RATU dan CBDK akan menarik bagi investor, sebab propsek menjanjikan yang diberikan pada tahun mendatang, serta fundamental yang kuat. Sebelumnya, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengatakan investor akan siap menyambut perusahaan-perusahaan yang melantai di Bursa pada tahun depan. Ia mengatakan pasar IPO tidak hanya diminati oleh investor institusional, tapi kian semarak oleh kehadiran investor ritel.

Ike mengatakan investor sudah mulai melek terhadap prospek saham IPO. Meskipun, saham emiten IPO volatil, namun tetap menarik bagi pasar.  “Memang menarik, akan tetapi high-risk, high-return. Kalau kami lihat, walaupun memang setelah 8 bulan IPO, itu biasanya harga saham yang baru banget, biasanya turun.

Namun, pada saat mereka masuk di harga penawaran pertama kali, kemudian listing dan ada kenaikan per 3 hari itu sudah lumayan. Hal inilah yang menjadi euforia di pelaku pasar,” ujar Ike dalam acara Premuim Talk “Prospek Pasar Modal 2025”, Senin (16/12/2024). Di sisi lain, menurutnya investor pun perlu mencermati fundamental atau kualitas perusahaan IPO. Ia berharap, deretan perusahaan IPO pada 2025 banyak dari perusahaan berskala besar.

Sumber : Market.bisnis.com